Malam

Posted in puisi on June 16, 2009 by abet handoko

Malam kebiruan, kususur lembah dan kolong-kolong sementara hari mengirisi waktu

Harapan digenggamku mengerang seperti pekik perempuan pagi setengah mabuk seminggu lalu. Ah, malam kebiruan…jalanku menikungi rembulan.

Kukenangkan dendam dan sesal dalam-dalam, waktu masihlah kan menyantunkan kemungkinan-kemungkinan….saat ini aku hanya butuh berdiam.

Ini cuma mabuk masa silam.

Ah jalan lurus hitam, malam kebiruan…sedang memburu kah aku, berselimut lengang sepi gelap begini. Siapa aku adukan, siapa aku sampaikan, siapa segala ini aku tandaskan…

Kucari prasangka lain agar saat menjadi lain. Duh, aku terlanjur membuaikan harap kepada mimpi. Aku terlanjur kehilangan sajak, sejak lama hari kubagi…ah kehidupan, beginikah rupanya kau jujurkan. Tah rasa apa aku kecapkan….

Dan aku larut, masih tak takut

Bukan lain, selalu saja pertanyaan tersuratkan….malam kebiruan, malam kebiruan.

Apa jadinya

Posted in Uncategorized on June 15, 2009 by abet handoko

Destiny…destiny protect me from the world….(Radiohead)

Apa jadinya…. seseorang yang bergelut dengan kehendak akan keutuhan jati diri namun berhadapan dengan absurditas latar belakangnya, katakanlah yang berkaitan dengan perihal ekonomi, lingkungan, dukungan moral , kepercayaan dan sensitifitas diri yang entah benar atau salah. Memoar itu bak mengajak sang takdir yang penuh rahasia tuk angkat bicara dan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Apakah mungkin?

Terlalu banyak hal yang tidak bisa dibicarakan dan dibahas dengan bahasa tutur atau tulis dalam pengingkaran, protes, ketidakpuasan, kritisme atau rasa akan derita yang spesifik dan tersendiri, tak terpermaknai.

Dan saat semua seolah ada penjelasannya, bisa dijelaskan atau masuk akal, hal-hal yang tak terpermaknai itu jadi anak tiri kediriaan. Ada kecurigaan dan ke-takberimbangan dalam logika yang  kemudian jadi serba salah dan tumpul dalam ketajamannya.

Dan kemudian, memahami itu banyak nasihat yang menganjurkan agar seseorang mau dan mampu merasakan untuk kemudian menyimpulkan sendiri apa yang ingin dia lakukan pada apa yang dia rasakan itu. Rasa is emergency door of kebuntuan.

Rasa nggak pernah bohong, demikian jargon iklan kecap kedele bisa di catut. Rasa menjadi unsur paling jujur dan memungkinkan tuk membahas kebuntuan. Rasa bisa  jadi kayu untuk menyogok got-got pikiran, analisa dan kehendak tuk memahami yang sedang mampet. Rasa menjadi hal yang mungkin memungkinkan tuk jadi sesuatu yang terukur dalam menjelaskan apa saja yang tak terpermaknai.

Tapi rasa itu pun jua tinggal dalam sebuah ruang imateri yang kadang dipahami sebagai absruditas. Rasa tidak bisa menjelaskan seberapa ukurannya saat ia ditarik ke ranah yang lebih nyata. Maka hanya tersisa lingkaran, dari kehendak-jati diri-absurditas latar belakang-sensitifitas-takterpermaknai-rasa, dan memutar lagi sampai ke kehendak. Memikirkan itu agar sampai pada konklusi bak menunggu godot.

Mungkin jelas adanya semua itu jika rasa bahagia dan ketenangan sudah jelas ukurannya, sudah pasti keajegannya, tidak mencla-mencle dalam keadaan kemampuan penerimaan mahluk manusia yang serba dinamis.

Ah…masak sih!

Pertanyaan

Posted in coret2 on June 15, 2009 by abet handoko

Bahwasanya manusia lahir ke bumi menjunjung nasibnya sendiri-sendiri. Bahwasanya manusia adalah penanggung segala duka-luka pun suka ria dari apa yang dialaminya. Bahwasanya manusia mesti sadar bahwa dia adalah organisme hidup yang terikat dengan apa saja yang ia lakukan, dimana ia berada, dan apa yang ada dalam benak, harapan dan keinginannya.

Bahwasanya dalam semua itu, kadang kala muncul ketaksesuaian-ketaksesuaian. Bahwasanya dalam imannya, manusia harus meyakini bahwa ada Dzat yang berkuasa penuh atasnya. Yang tak hanya menentukan apa saja yang berkaitan dengannya, tapi juga alam semesta yang melingkupi manusia.

Tapi adapula lupa bersamaan dengan ketidaksanggupan untuk percaya, paham dan sadar atas segala bahwasanya itu. Ada kehendak yang meletupkan anti-penerimaan disetiap nestapa yang datang. Seolah manusia mengetahui sepenuhnya apa saja yang terbaik buatnya, dalam kehendaknya manusia menentukan sendiri apa yang dia ingini dan tidak dia ingini.

Tak semua dari kita terlahir sebagai Rasul atau Nabi.

Manusia bisa bertanya,mempertanyakan, mempersoalkan serta mencari jawaban dari apa yang tidak ia sukai. Apa yang ia derita. Tapi bisa pula ia ingkar, saat gairah pada kesenangan dan kesenangan itu sendiri melingkupinya.

Dalam kacamata kesadarannya atau tidak, manusia adalah hedonis-hedonis yang terikat dalam visi pertukaran sosial yang tega, naif, sesuai hukum, masuk akal atau berbagai istilah yang diperkatakan didalamnya.

Karena bukan malaikat, bukan pula setan, manusia membenarkan inkonsistensi dan kecanggungan pada konsekuensi. AKU, kau dan mereka, manusia-manusia itu, kerap kali nihil dalam segala keagungan nilai-nilai yang terbangun dalam keutamaan kemanusiaannya. Kemanusiaan yang berjalan diatas roda nilai-nilai sering mandeg dihalang verbodent keinginan. Verbodent kenyataan yang berlawanan dengan harapan.

Manusia meraih superioritas untuk lepas dari nihilisme dengan logika, ego dan idealismenya. Tapi nilai-nilai penerimaan yang terurai, dipahami dan diajarkan dalam logika manusia yang penuh dan berisi, adalah Nihil itu sendiri.

Manusia memahami dan menerima keadilan jika keadilan itu mewakili takaran kehendaknya. Memahami dan menerima kebenaran jika kebenaran itu disukainya. Manusia menjelmakan dirinya sebagai oportunis-oportunis dibawah paksaan ketaksanggupannya pada derita dan penderitaan.

Saya adalah kesenangan saya. Saya adalah apa yang bisa saya terima, saya adalah keterkabulan harapan dan keinginan saya. Saya adalah kenyataan yang sesuai dengan impian saya.

Menyedihkan.