Archive for May, 2007

yang harusnya terungkapkan

Posted in coret2 on May 25, 2007 by abet handoko

Kalau saja apa yang aku pikirkan dan aku rasakan dapat berubah menjadi frekuensi getar dan kau bisa mendengar. Tentu, kamu akan mendapati sebentuk kegaduhan yang tak surut, orkestrasi yang bisa kamu maknai sebagai sebentuk irama yang lain. Seperti desau angin menguncah-guncah pepohonan sebelum hujan, atau bunyi gemeritik air mematuk-matuk genting pada saat hujan. Seperti bunyi yang seolah ada saat sekelompok burung bebas beterbangan melintasi hamparan sawah. Atau mungkin seperti debur ombak. Semua bisa saja, andai apa yang aku pikirkan dan aku rasakan bisa kamu dengar.

Selanjutnya, kalau semua itu mungkin. Tentu akan ada impresi, bisa juga pemaknaan lain dari apa yang bisa kamu dengar itu. Ada kode-kode yang kamu temukan rumusnya, dan kemudian kamu menyimpulkan sesuatu. Sehingga sesuatu yang sebelumnya berada dalam tataran pemaknaan bisa kamu pahami. Lalu menjadi sebuah bentuk tertentu dalam ruang pikiranmu. Mungkin juga ada yang tetap tersisa sebagai kumpulan sandi-sandi yang tidak bisa langsung kamu pecahkan. Dan beberapa diantaranya akan menjadi teka-teki, yang mungkin mengasyikkan atau hanya selintas dan berakhir sebagai sesuatu yang membosankan.

Andai kamu bisa mendengar apa yang ada dalam pikiranku. Begitu mudahnya sebuah komunikasi terjalin. Bagiku, Aku tak perlu merasakan rasa betapa sulitnya menyampaikan sesuatu. Aku tak perlu mencoba-coba bertutur dengan cara-cara yang aku kira bisa membuat kamu memahami. Aku tak perlu bersesuai-sesuai diri, agar aku berubah menjadi sosok yang membuatmu merasa lebih nyaman. Aku tak perlu menjadi orang lain,……seorang yang aku kira bisa membuat kamu lebih mudah untuk mengerti. Hingga Aku tetaplah aku, dan kau tetaplah kamu.

Tapi bagaimanapun, dalam kenyataannya, kamu tidak bisa mendengar apa yang ada dalam pikiranku.

Sebaliknya. Aku tertatih-tatih. Tergopoh-gopoh coba memendekkan jarak. Serupa musafir yang berusaha menuju sebuah kota tak tertentu. Melewati setapak jalan yang remang. Hanya tahu bahwa lampu-lampu pijar masih menyala di tepian. Tanpa tahu waktu, entah subuh entah petang.

Mungkin aku menangkap sesuatu dari sinar dalam tatapan matamu. Dari caramu yang malas menanggapi disaat-saat kesibukan yang banal itu mengulitimu. Pun saat kau melintas, aku mendapati sesuatu yang mungkin adalah sesuatu. Kamu menjelma jadi aliran energi, yang merambat datar menabrak dadaku. Kamu beralih rupa jadi kupu-kupu yang coraknya utama diantara bunga-bunga. Kamu menjadi sebuah keteduhan sekaligus padang kering yang harus aku lintasi saat kau melintas. Belantara atau gurun sejuta arti itu terbentang terlalu luas bagiku. Laju langkah kakiku lambat tertatih untuk bisa melampauinya. Untuk menemukan kesejatian dirimu diseberang sana.

Sementara itu terlalu sulit aku untuk bisa memadu padankan kata-kata, dan mengumpulkan daya untuk menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan. Memilah kata-kata sehingga kau bisa benar-benar tahu apa yang aku ketahui. Benakmu jadi cermin bagi benakku.Banyak hal yang menumpuk dalam nalarku, yang aku tak bisa menjelaskanya. Meski hanya sedikit saja yang ingin aku sampaikan. Soal kau, dalam pikiran dan hatiku.

Semoga pada akhirnya kau akan mengerti juga. Lewat garis-garis kosmis berpotongan dalam takdir atau kebetulan-kebetulan, dan akhirnya aku hidup dalam benakmu sebagai sebuah makna. Pengertian dalam tata bahasa yang tak pernah ada sebelumnya. Aku bisa ada didekatmu sebagai bagian darimu. Yang menyatu denganmu untuk perlanjutan sebuah perjalanan.

Amin

‘Air Seni’ orijinal

Posted in coret2 on May 21, 2007 by abet handoko

Seni, sebagai salah satu hasil dari proses berbudaya adalah salah satu hasil intelegensia sebuah peradaban. Dalam kurun waktu selama sebuah kebudayaan masih ada. Seni adalah wajah kecerdasan, refleksi dimana melaluinya nampak bagaimana percepatan manusia dalam lingkup berbudaya dilukiskan. Seni, dengan sisi kepekaannya, menjadi media dimana ekspresi akan sesuatu terbentuk dan tersampaikan, diserap dan menghasilkan interpretasi-interpretasi melalui proses mencerna dan berfikir, seni membuka wahana dimana dialog yang lebih luas dan terbuka dimungkinkan. Seni membawa kecerdasan yang terbebaskan.

Visi estetis yang disampaikan, berkaitan dengan perkara bagus dan jelek. Indah atau sama sekali tidak menarik, pun melampaui ukuran-ukuran baku. Atau tidak akan pernah ada kriteria sebagai patokan yang melaluinya sebuah karya seni mampu diukur kadar atau tingkatan keindahannya. Namun, dalam proses pencerapan yang kritis juga beralasan, muncul perkara suka atau tidak suka atas adanya sebuah karya seni yang tersampaikan. Disini seni sebagai subjek yang bebas juga membuka ruang kebebasan bagi objek-objek yang memberika apresiasi kepadanya.

Secara teknis, ada runtutan atau kelayakan proses yang bisa dirujuk dalam membahas sebuah karya sebagai hasil yang layak. Dengan memperhatikan hasil-hasil karya yang terekam dalam apresiasi khalayak seni. Secara samar juga dimungkinkan ukuran-ukuran yang akan mengidentikkan sebuah karya sebagai sesuatu yang bagus atau jelek. Lebih dalam, dihubungkan dengan kondisi dan situasi, momen, kelekatan-kelekatan emosional yang terwakili oleh sebuah karya, seseorang bisa menyampaikan soal bagus sebagai yang begini atau yang buruk adalah yang begitu. Tapi pemahaman seragam dan universal dari sebuah karya sebagai yang bagus atau jelek tidak akan pernah ada. Semua orang bebas mengekspresikan gelora estetikanya, orang lain tak punya hak untuk campur tangan.

Yang ingin saya kemukakan sebagai salah satu poros pencerapan baik atau buruknya sebuah karya seni bagi saya adalah originalitas. Meski baik dan buruk itu belum tentu mewakili rasa suka atau tidak suka saya pada karya seni yang dimaksud.

Originalitas disini saya hubungkan dengan nilai kebaruan dari sebuah karya seni. Nilai yang menjelaskan bahwa sebuah karya seni adalah sesuatu yang terbaru dan hadir melengkapi sekian banyaknya karya-karya yang pernah ada. Yang saya maksud dengan ‘melengkapi’ adalah tidak adanya bentuk dari karya seni ini yang merupakan sesuatu dari karya yang sudah pernah ada dan di comot dengan sengaja. Ini saya kategorikan sebagai karya paling eksklusif dari sudut pandang originalitas saya.

Dalam rangkap sedikit lebih lunak, berkaitan dengan visi originalitas (dalam pandangan saya). Saya coba menganalogikannya dengan seseorang yang datang dengan kepribadian ataupun fashion yang tidak dilekatkan oleh orang-orang duluar dirinya. Ini bukan berarti dia tidak menyerap kepribadian dan fashion dari luar dirinya sama sekali. Tapi ia datang dengan keutuhan diri yang melukiskan dirinya, tanpa campur tangan sesuatu diluar dirinya yang tidak ia kehendaki. Sehingga karya seni adalah bentuk kehendak yang tingkat ekspresi kebebasannya paling tinggi.

Disini saya tidak memaksa semua seniman atau khalayak seni untuk original. Saya sendiri tidak yakin dengan originalitas saya. Saya sangat menyadari pendapat saya akan teraleniasi oleh kenyataan-kenyataan bahwa dewasa ini, (dalam lingkup kepentingan-kepentingan publikasi yang terkait dengan sisi komersial dan industri yang membidik seni sebagai produk), karya seni adalah sesuatu yang kompromis. Karya seni yang baik adalah bentuk kesepakatan suka atau tidak suka antara pengkarya dengan pengapresiasi. Diantaranya ada peran agen yang membawa seniman dan khalayak seni pada dunia yang disana visi soal bagus dan jelek sudah tersedia. Seniman dan khalayak hanya datang pada sebuah bentuk karya seni yang memenuhi pasal-pasal bagus dan jelek yang ada di ‘dunia’ itu tadi.

Ini bukan soal yang benra-benar menteror. Tapi proses diatas yang terus berkelanjutan akan melahirkan pemahaman akan karya seni yang bersifat konvensional dan dibentuk oleh sesuatu diluar kesadaran akan visi estetis yang bebas. Sehingga seni yang seharusnya mencerdaskan justru melahirkan individu-individu yang bebal, tidak kritis terhadap seni sebagai keindahan yang utuh dan sekali lagi ‘bebas’. Seni menjadi wahana asyik masduk belaka. Seni jadi indentik dengan bentuk-bentuk mimetis, kitch yang di legalkan sebagai hasil-hasil proses kreatif. Seni hanyalah pleasure wal indehoy, ajep-ajep…….tanpa substansi.

Tapi sekali lagi, anda bebas untuk suka atau tidak suka.

Saya hanya ingin mengajak….”Mari berkesenian selama air seni masih dikandung badan” dalam pengertian sungguh-sungguh sesuai dengan intuisi cipta dan karsa.

soal keberadaan

Posted in Uncategorized on May 19, 2007 by abet handoko

Pencapaian-pencapaian dalam hidup, menjelaskan kepercayaan seseorang pada eksistensinya sebagai seseorang. Belakangan aku pikir soal itu. Coba amati dari satu segi, rasa ingin dihormati. Seseorang percaya bila dia dihormati saat dia benar-benar berada pada posisi dimana ia bisa merasakan sebuah penghormatan dari dalam atau luar dirinya. Dimana posisi itu adalah posisi terencana yang ia niatkan untuk dicapai. Dengan sebuah pencapaian, cita-cita atau goal yang terwujud, seseorang merasa ada dalam sebuah pengertian keberadaan yang ia anggap benar-benar ada.Mudah saja seseorang merasa tidak terhormat, meskipun sebenarnya ia dihormati hanya karena ia tidak merasakan adanya bentuk penghormatan itu.

Pencermatan meluas pada sosok manusia yang menghargai sebuah eksistensi atau keberadaan melalui bentuk-bentu partikular-material. Tak mungkin seseorang merasakan sebuah penghormatan dari seseorang yang diam dan tidak mengekspresikan rasa hormat. Atau merasa kaya tanpa adanya bentuk-bentuk kekayaan yang ia rasakan. Seorang rahib atau rudin sekalipun, dalam kemelaratan nya sesungguhnya juga merasakan bentuk materi yang lain, yang tetap meupakan bentuk non fisik dari materi itu. Sehingga ia tetap merasa kaya dalam kemiskinan nya. seperti yang di lukiskan dalam visi kekayaan jiwa ala kaum rahib atau sufi.

Ekspresi eksistensi manusia merujuk pada bentuk-bentuk. Baik real atau imajinatif. Yang kemudian menjelaskan sebuah keberadaan yang ukurannya parenial. Dari sini maka manjadi jelas, perkara eksistensi atau keberadaan. Yang secara gamblang telah merujuk pada “ada”. Baik “ada” dalam pengertian bentuk maupun “ada” dalam sebuah pengertian atau pemahaman.

Persoalannya, tak selamanya manusia mampu meraih sebuah pencapaian dan kadang juga tak merasakan pencapaian dalam sebuah ketercapaian. Sehingga tak selalu mampu peka untuk merasakan sebuah keberadaan. Atau marasakan bahwa keberadaannya itu direspon dari luar oleh pengakuan-pengakuan akan keberadaannya itu. Atau dari segi mendalam pada diri, seseorang tak selalu bisa merasakan wujud-wujud materi atau imateri yang mampu memuaskan keberadaa atau eksistensinya. Seseorang mudah saja hilang dalam sebuah keberadaan, tanpa ia sadari bahwa apa yang terjadi seseungguhnya tidak beralasan. Atau setidaknya selalu ada celah meski ada alasan bahwa kondisi menjelaskan ketiadaan celah.

Akibatnya, selalu ada yang tak bisa terukur pada sesuatu yang sesungguhnya terhingga. Ada yang selalu luput dari segala pecermatan yang teliti. Ada yang hilang dalam segala yang lengkap dan ada. Sehingga seolah sesuatu tidak ada dalam keberadaannya. Selalu ada ketidakpuasan dalam puncak perolehan klimaks. Manusia tidak pernah merasa cukup.
Selalu ada yang kurang…….

Pagi ini saya ingin kembali pada sebuah rumah. Lewat jendela, menengok ajaran lama, dari para nabi dan orang-orang suci. Soal kecil secuilnya perkara duniawi. Soal betapa pentingnya kekuatan jiwa dibanding kekuatan fisik belaka. Soal nurani yang juga mampu memilah tapi juga tanpa menepikan logika, atau tidak hanya berporos pada satu diantaranya. Tanpa anggapan utopis penyederhanaan betapa mudahnya semua dijalani…….ada dan tidak ada bukan sebuah perkara menyiksa, karena semua hanya diciptakan untuk ada…….mari bersyukur, mari bersyukur.