Archive for June, 2007

Posted in Uncategorized on June 22, 2007 by abet handoko

it is rain
stitching stitching them together
umbrela
and a strawcoat
push me back
so gloom

Ini vibrasi, kamu bilang waktu itu……. pas dan sip kalo di kasi sontrek ‘love buzz’ kata kamu, kalo gak salah itu lagunya Cobain.

Dan dari ujaran ngobrol-ngobrol waktu itu, konsep kamu soal ini kamu buat deket-deket dengan ekspresi, ….definisimu soal ekspresi disini kira-kira berkaitan dengan pengungkapan-pengungkapan yang dikondisikan sesesuai mungkin, gimana keliatan sumringah waktu sumringah, atau orang tau soal sedih senang kamu dengan gamblangnya, jelas sejelasnya…… gak tanggung-tanggung. Sehingga jelas apa yang ada, itu patokan dari apa yang kamu maksud dengan menjadi “apa adanya”.

Gimana ya?, Pengungkapan sendiri kayanya harus lewat proses, bagaimanapun sebuah pengungkapan memerlukan bentuk-bentuk sehingga orang paham ada yang diungkapkan. Dan bentuk-bentuk itu, kalo bisa dibilang berbentuk, selalu merupakan tahap kedua setelah apa yang aslinya. Artinya itu jadi sesuatu yang asli setelah sesuatu yang asli. Asli jilid ke dua.

Dan kalo yang dituntut ekspresi yang asli dengan timbal balik yang asli, seperti standar yang kamu patok, mana ada? Wong semua itu di kondisikan dengan sebuah pemaknaan subjektif dari apa yang perlu terungkap dalam aksi berekpresi atas apa yang mau dia ekspresiin itu. Jilid dua style kamu tau deh?. Dan selanjutnya mau nggak mau, itu ditanggapi dengan subjektif juga sama yang menanggapi ekspresi. Soalnya sebelumnya kan gak ada visi saling janjian soal gemana memaknai ekspresi kamu itu. Dan kamu juga tau lah? Kalo tiap orang tidak berada dalam ruang pemaknaan yang seragam, dan standar. Ping-pong subjektivitas jadinya.

Sementara itu ekspresi yang kita bilang disini, awalnya di sulut oleh korek api motivasi. Keinginan-keinginan yang menjadi awal kenapa ekspresi itu perlu. Laa kok nekat-nekatnya kamu bilang soal ketulusan. Setau aku, apa yang tulus itu berkaitan dengan aktivitas yang murni hanya untuk aktivitas itu. Gak ada hal-hal yang menjadi agenda atau target, atau apa lah namanya sebagai tujuan dari aktivitas itu, kalo harus ada tujuannya ya nggak ada tujuan lain selain melakukan aksi itu. Kamu sendiri ada dalam konteks keingianan dalam ekspresimu, dalam vibrasimu, dalam apa aja istilah yang kamu pake dalam topik kita kali ini.

Coba observasi diri kamu deh. Bukannya kamu sudah menjelma menjadi sosok lain yang kamu bikin identik dengan apa yang jadi tujuan kamu. Kamu gak bisa memungkiri bentuk-bentuk pengkondisian yang kamu buat. Ya nggak??? Pasti iya…….jangan boong kamu.

Ini menurutku cuma salah satu produksi keingianan aja, yang karena dahsyatnya bikin kamu mengontrol diri kamu jadi sebentuk pribadi dalam ekspresimu itu. Oke lah kalo kamu bilang,”ini kejadian gitu aja lo???, gak ada skenarionya???”, tapi alirannya kan jelas…….ada sesuatu yang udah dari sononya menjadi salah satu agenda buat kamu gapai. Kalo kamu bilang, “aku gak tau kalo aliran itu ada”, itu perkara soal sadar gak sadar aja. Kalo kamu mau fair sama diri sendiri pasti kamu percaya apa yang aku bilang.

Semua sudah tertentu di balik benak kamu, kalo kamu keukeuh bilang “nggak”, aku emoh percaya kamu.