Archive for July, 2007

seorang di lembah

Posted in coret2 on July 3, 2007 by abet handoko

Karena wewangian dari selarik raih rasa yang dibawa angin. Dari sebuah tangga, menurun ia menemui berkas yang tergelincir meringkuk. Cahaya yang serba biru, menanduk separuh kegamangan serba terseret, serba tertatih. Pertanyaan itu ada sedikit-setitik, tanpa corak pun bisa mewarnai ruang. Kesana ia hanya menuju, untuk menuju. Dan keraguan juga bukan apa yang akan dibahasnya. Apa yang ia rasakan sebelumnya bukanlah apa yang ingin dia bawa kesana

Hanya ada seorang di sudut lembah. Serupa penyendiri, menghitung benih-benih. Membilang cikal-cikal tak terbilang. Perhitungan tidak ia akui, jumlah-jumlah hanya ada dalam bilangan. Bukan pada pengertian, bahwa ada sejumlah itu disana. Pengakuan ada dibalik hijab, setipis kabut membekukan sore sebuah lembah. Serba rahasia berpusaran, serupa spiral melilit serat-serat pohon dan ranting. Daun-daun diremasnya.

Dia sendiri mempertanyakan, buat apa terjadi cocok tanam, untuk apa musim datang membawa hujan, untuk apa tanah kering terbasahi, untuk apa perburuan harus jeda. Untuk apa berserah pada apa yang ada dan mengikutinya ke sana. Hanya pertanyaan sebagai sebuah perisai dari semua yang dia akui dalam bantahan.

Hanya ia yang mendapati, dan kembali ia ke dangau kecil tuk sekedar melalui saat-saat, memainkan lira dengan jemarinya. Lagu-lagu itu dirunut satu-satu, mengkiaskan kisah perjalanan dan kebohongan disana. Dialirkannya suara lira ke sungai kecil, sambil berharap tiap nada akan sampai ke samudra. Lautan luas dimana semua diterima dengan terbuka.

“Aku harus memanggil nama seorang. Aku harus memulai perjalanan untuk sesuatu yang memanggil, atau ku panggil”, seperti itu sekilas apa yang ingin ia kabarkan. Dan hanya di dengar oleh siapa saja yang memahami kebisuan dan kebungkaman. Hanya berada pada tataran  yang lain dari apa yang selama ini kenalinya sebagai makna. Kau hanya akan melihat saja, semua terlahir hanya untuk ada.

Ia tidak lagi mau mengakui, bahwa semua terjawab dari terjemahan cahaya mata. Kini semuanya serba merahasia, serba samar di keremangan. Matanya tak lagi mencerminkan apa-apa…