Archive for October, 2007

Kamu Unik

Posted in coret2 on October 27, 2007 by abet handoko

Romeo is bleeding

I can see his blood….

Sepanjang sore, hampir tak ada topik lain. Kata-katamu tak terarah. Berurutan, mendesau-desau, bergemuruh, menggumam-gumam, sedikit umpatan, terbata-bata dan di tutup dengan sebuah kata, bahasa daerah, tah apa artinya…jancok!. Begitu ritmenya, berulang-ulang, berputar-putar, seperti komidi putar atau aksi motor tong setan.

Ku ajak kamu jalan-jalan. Makan cap cay di tempat biasa, mungkin kuah cap cay bisa menstimuli ide-ide. Jadi perjumpaan kita tidak sia-sia. Atau setidaknya kamu mengungkapkan sesuatu. Yang ujung pangkalnya jelas, jadi kita bisa ngobrol. Aku suka ngobrol dengan mu, selalu berkesan. Terakhir, topik menarik yang kita bahas adalah poligami, susu rendah lemak, rupa-rupa desain bungkus rokok, iklan rinso dan drama korea kegemaran ibumu.

Dalam angkutan kota, kamu diam seribu bahasa. Sedikit aku intip, kamu hanya mencoret-coret di buku kecil yang selalu kamu bawa-bawa. Gambar kotak-kotak, garis-garis melintang vertikal-horisontal, gambar menyerupai pentungan, maksudmu mungkin penis, atau tanda seru besar. Ada kata-kata yang kau tulis terbalik, merah jadi harem, kemaren jadi neramek, poster jadi retsop…begitu, macam-macam kata ditulis terbalik, ada juga coretan iat…tadinya aku bingung, sebelum paham kalu kamu menulis dibalik. Bukan kebiasaanmu.

Di kedai cap cay kamu tak seperti biasanya, malah pesan mi ayam jamur. Mungkin kamu sedang tidak berselera melihat kembang kol atau daun sawi. Es jeruk yang biasanya kamu pesan kamu ganti air teh hangat. Tapi kali ini ada sedikit canda, “aku lagi butuh kehangatan, libido lagi tinggi” katamu. Lumayan lucu. Dan acara makan di kedai, berlalu hambar, tak ada obrolan sampai makanan habis. Kecuali candamu soal air teh hangat tadi.

Kita memutuskan tuk jalan-jalan sebentar di pusat kota. Aku berharap kamu akan bicara sesuatu sambil jalan-jalan. Apapun itu, aku akan senang mendengarnya. Tapi ternyata kamu tidak bicara apa-apa. Sampai tiba-tiba hujan, rintik-rintik datang. Sebentar kita berteduh di emper toko rupa-rupa barang elektronik. Tak berapa lama kamu permisi, mau pergi ke salah satu rumah teman yang lain. Dan pergi begitu saja, dan aku diemper toko…bingung.

Dan, sedikit kesal aku pulang…kupikir masih banyak yang aku urusi. Daripada mengharapkan percakapan dengan kau.

Tiga minggu, tak ada kabar darimu…sampai tadi pagi.

Kamu minum setengah botol minyak lampu dan membakar kamar tidurmu.

surat spontan membalas sms tengah malam kamu

Posted in Uncategorized on October 19, 2007 by abet handoko

Sudahlah,…orang-orang mulai menutup pintu dan jendela. Ini sudah terlalu larut tuk berbincang tentang cinta yang hilang, terlalu lengang tuk mengutuk segala kecemasan seperti demonstran yang mengumpat invasi amerika ke irak, terlalu syahdu buat menyesali masa lalu sampai-sampai masa lalu terhampar didepan menggantikan masa depan, atau berdiskusi soal lirik lagu U2 lantas akhirnya membincangkan polah anak-anak usia belasan dan menyayangkan kenapa mereka memuja laki-laki pesolek dengan gaya yang kamu atau aku tak paham dimana kerennya…Keluh kesah tak seharusnya berlanjut sampai subuh. Ada jam-jam tertentu bagi kita tuk sedikit egois atau bahkan hedonis, meskipun itu cuma memonopoli pesawat televisi, menonton siaran malam sambil terkantuk-kantuk atau menghabiskan krupuk yang mestinya dibagi rata sekeluarga, dan bukan kah kamu masih hobi nonton asia carera, miyabi, dan lain-lain itu…kenapa tidak?

 

Berhentilah,…saatnya untuk mentertawakan segala satire dari mulut-mulut yang hanya memahami arti gosok gigi dan kumur-kumur secara harfiah saja. Kamu tahu, kamu punya jalan sendiri yang gak semua orang bisa memahami.  Cobalah lebih optimis, kamu bukan Kurt Cobain, jadi berhentilah terlihat seperti depresi. Kamu orang yang sangat potensial, dan aku yakin kamu tau dan bisa menyadari itu. Mulailah berhenti bertanya kenapa kesempatan dan peluang tak kunjung datang. Aku tahu dan aku pun merasakan, semua itu begitu berat. Menghadapi realita tak semudah menghayati kata-kata bijak soal realita itu. bagaimanapun aku bersamamu, sebagai teman. teman sejati meski tak selalu sehati…

 

Pikirkanlah…Sebaiknya kamu pulang saja kerumah mamah-papah mu, mereka sudah terlalu rindu tuk marah-marah, atau menasehati kamu seperti biasa. Mungkin disana kamu bisa lebih enjoy, minum kopi di ruang tengah. Mengamati poto-poto hitam putih koleksi mendiang eyang. Kamu pasti ingat, kalau kita sepakat poto-poto itu sejaman dengan masa chiang kai sek. Kesepakatan kecil untuk poto-poto hitam-putih yang kekuning-kuningan. Kesepakatan yang kita buat, disela musim hujan yang buruk, kantong kosong, dan orang tua yang membatasi uang jajan karena kondisi yang lagi sulit. Kesepakatan di depan poto-poto di ruang tengah, waktu kita kecewa karena gak jadi nonton kenser Slank, waktu itu kita tetap bahagia bukan?..meski tak sanggup memenuhi segala selera yang entah dari mana datangnya…

 

Cukup sudah…jangan jadikan cerita hidupmu bak jalan cerita teater yang membingungkan. Karena saat kamu terlalu kritis akan selalu ada hal-hal yang kamu temui sebagai kekurangan. Percayalah, itu bisa bikin kamu makin malas makan seperti aku, lalu terserang mual-mual dan muntah-muntah. Kamu sudah lebih kurus dari aku sekarang. Aku masih ingat dua bulan lalu kamu ingin gemuk, resepnya Cuma dua, 1. makanlah sebanyak-banyaknya. 2. biasakan tuk lebih masa bodoh. Keseriusan yang kamu selami itu semakin bikin kamu nggak rock n roll lagi…aku dengar gitar kesayanganmu semakin tak terurus, sama seperti tampangmu sekarang. Mungkin saatnya tuk membersihkan dan memainkannya lagi. Kamu tahu banyak  lagu-lagu Jimmi Hendrix, SRV, Clapton…?? kalau blues terlalu lamban, mainkan saja power chord ala smoke on the water, atau smell like teen spirit…masih banyak kesenangan yang nggak perlu di bayar mahal…

 

Ayolah…Simpan rapi-rapi buku-buku itu, Anthony giddens, Emile Durkheim, Roland Barthes, Levis Strauss, Fukuyama, Nietze, dan kawan-kawannya. Simpan rapi segala koleksi buku yang rumit itu. Kurasa tak cocok mereka kamu jadikan pelarian. Ganti dengan majalah bobo koleksimu, hikayat Lupus dan kawan-kawan, majalah mode terbaru atau buku-buku cara bercocok tanam yang ku kirimkan bulan lalu. Kalau itu menurutmu terlalu ke kanak-kanakan dan tidak kontekstual coba baca buku pencerahan I Gede Prama, atau otobiografi Mahatma Gandhi yang sengaja ku tinggal di kamarmu. Kurasa kamu akan lebih segar, lebih bisa sumringah dan nantinya lebih bisa diajak ngobrol lain-lain. Asik bukan???

 

Oke…awas kalo nggak oke…

 

bulan puasa jek!!!!

Posted in Uncategorized on October 8, 2007 by abet handoko

Di sepuluh hari terakhir bulan puasa. Sebuah insiden kemaren sore. Abis solat ashar di blok M. Kondisi blok M rame banget, anak-anak muda tumpah ruah, bebas bak merpati lepas. Dandanan dari yang standar sampe aneh2 ada. Cewek-cowok nan jumawa, saling tebar senyum  menikmati masa muda yang katanya tak pernah kan mendung. Aku kebetulan masih tergopoh-gopoh tuk tahan haus dan lapar, meski mereka lalu lalang dengan jus atau minuman enegi dingin di tangan. Atau kedai-kedai makanan dan minuman yang berjajar selalu membuka pintu lebar-lebar. Dan dalam di warung2 itu, selama kamu punya uang buat bayar apa yang kamu konsumsi, dosa karena gak puasa gak akan dibahas. Meski di warung itu di tempel poster ayat kursi or stiker doa selamat…

 

Kebetulan saat itu dah lewat pukul 4 sore, para pemburu keriuhan Blok M yang berpuasa dan masih minat solat ashar pada ngantri di musolla. Aku sama kawan sejawat lantas merapat, antri buat wudhu dan solat. Selesai solat, di muka pintu musola. Seorang anak muda yang lagi ngaso dengan santainya minum air mineral. Aku gak ambil pusing, dan terus pake sepatu. Kebetulan seorang penjaga masjid yang bertugas menerima zakat dan infak ngeliat tu anak lagi nenggak minuman. Dia kemudian tampak berang dan memaki tu anak muda. Dia menuntut anak muda tuk berperasaan, kalo gak salah sampe menyebut satu kata yang sarkastik.

 

…Lalu aku mikir, sejak kapan orang gak boleh minum di depan masjid pas bulan puasa. Atau orang puasa boleh maki-maki orang yang gak puasa…ngapain juga puasa kalo gak independen, masih menuntut dukungan lingkungan…trus tu anak muda kok cuek banget ya, apa dia gak empati, setidaknya jangan di momen itu minumnya, nanti aja demi kedamaian aja…itu pikiranku. Soal marahnya penjaga masjid, bisa jadi dipicu pemahaman dia akan sakralnya bulan puasa. Dan baginya bulan puasa bolehnya begini, begitu gak boleh. Harus gini, gitu gak harus. Sementara anak muda peminum air mineral merasa,…its big city guys…im 18 years old now, I am aleady independent…and u, konservatif moron suck…emang situ tuhan ya bung….???. kayanya susah banget tuk santai…ibadah tanpa minta orang lain sama kaya kita. Ada rasa marah dan iri saat beribadah, kala mendapati orang lain gak sesuai dengan harapan dalam ibadah kita.

 

Dalam kondisi gitu, kayanya puasa malah jadi durasi yang menyebabkan konflik, meskipun itu kecil dan beralasan. Remember Guys..bagaimanapun bulan puasa adalah bulan suci yang mulya, mau semua umat puasa or gak ada satupun homo sapiens yang puasa. Ramadhan tetap bulan seribu bulan, ditawarkan oleh Nya dalam sifat Ia yang maha perkasa pemilik nama yang paling indah, yang Rahman dan Rahim. Dia kasih panggilan buat berpuasa bagi orang yang beriman biar yang beriman itu kemudian bertakwa. Dan gw rasa beriman dan bertakwa itu gak minum siang2 pas bulan puasa di depan masjid or ngomelin orang gak puasa di depan masjid dengan alasan bulan puasa.

 

Lebih jauh, ada sekelompok orang dengan gagah berani melakukan sweeping di bulan puasa ke warung2 yang buka di siang hari. Mereka gak nanya dulu, tu pemilik warung ada usaha laen apa nggak, or setidaknya survey dulu, kalo bukanya malem doang laku apa nggak. Mau itu warung makan, warteg, warung yang katanya remang2, emangnya napa si…??? Emang ada perintah dari sononya, harus ada stabilitas lingkungan yang mendukung bulan puasa. Dan stabilitas itu di tentukan oleh para pelaku puasa. Dengan cara men-subordinasi segala hal yang dianggap berpontensi mengganggu ke sakralan bulan puasa. Gak objektif lagi…Bulan puasa apa nggak, dunia terus berputar, manusia tetap ada dalam lingkup kebutuhan sosialnya. Dimana cara memenuhi kebutuhan itu macem2, dan itu sensitive banget. Agama masuk sebagai energi baru yang menjiwai orang agar menempuh cara yang benar dalam memenuhi kebutuhan sosialnya, tidak dengan kekerasan. Tidak dengan cara-cara menghakimi. Sederhana dengan peace n harmony…

 

Well…aku hanya seorang yang selalu berharap, di bulan puasa tetap santai kaya bulan-bulan biasa. Namun bisa melakukan ritual keagamaan dengan lebih classy. Seperti kalian tahu, bulan puasa bandingannya seribu bulan jek…!!! Dan aku gak mau masuk golongan orang-orang yang tetep aja gak terpanggil buat enjoy di bulan puasa….maksut ku gak enjoy dalam bentuk apapun…gak enjoy karena terbebani dengan perintah puasa atau gak enjoy karena waham puasa harus gini-gitu, dan orang lain harus sama dengan mau kita. Agama mana aja, gak ada yang bikin susah man, agama Islam termasuk didalamnya….