Romeo is bleeding
I can see his blood….
Sepanjang sore, hampir tak ada topik lain. Kata-katamu tak terarah. Berurutan, mendesau-desau, bergemuruh, menggumam-gumam, sedikit umpatan, terbata-bata dan di tutup dengan sebuah kata, bahasa daerah, tah apa artinya…jancok!. Begitu ritmenya, berulang-ulang, berputar-putar, seperti komidi putar atau aksi motor tong setan.
Ku ajak kamu jalan-jalan. Makan cap cay di tempat biasa, mungkin kuah cap cay bisa menstimuli ide-ide. Jadi perjumpaan kita tidak sia-sia. Atau setidaknya kamu mengungkapkan sesuatu. Yang ujung pangkalnya jelas, jadi kita bisa ngobrol. Aku suka ngobrol dengan mu, selalu berkesan. Terakhir, topik menarik yang kita bahas adalah poligami, susu rendah lemak, rupa-rupa desain bungkus rokok, iklan rinso dan drama korea kegemaran ibumu.
Dalam angkutan kota, kamu diam seribu bahasa. Sedikit aku intip, kamu hanya mencoret-coret di buku kecil yang selalu kamu bawa-bawa. Gambar kotak-kotak, garis-garis melintang vertikal-horisontal, gambar menyerupai pentungan, maksudmu mungkin penis, atau tanda seru besar. Ada kata-kata yang kau tulis terbalik, merah jadi harem, kemaren jadi neramek, poster jadi retsop…begitu, macam-macam kata ditulis terbalik, ada juga coretan iat…tadinya aku bingung, sebelum paham kalu kamu menulis dibalik. Bukan kebiasaanmu.
Di kedai cap cay kamu tak seperti biasanya, malah pesan mi ayam jamur. Mungkin kamu sedang tidak berselera melihat kembang kol atau daun sawi. Es jeruk yang biasanya kamu pesan kamu ganti air teh hangat. Tapi kali ini ada sedikit canda, “aku lagi butuh kehangatan, libido lagi tinggi” katamu. Lumayan lucu. Dan acara makan di kedai, berlalu hambar, tak ada obrolan sampai makanan habis. Kecuali candamu soal air teh hangat tadi.
Kita memutuskan tuk jalan-jalan sebentar di pusat kota. Aku berharap kamu akan bicara sesuatu sambil jalan-jalan. Apapun itu, aku akan senang mendengarnya. Tapi ternyata kamu tidak bicara apa-apa. Sampai tiba-tiba hujan, rintik-rintik datang. Sebentar kita berteduh di emper toko rupa-rupa barang elektronik. Tak berapa lama kamu permisi, mau pergi ke salah satu rumah teman yang lain. Dan pergi begitu saja, dan aku diemper toko…bingung.
Dan, sedikit kesal aku pulang…kupikir masih banyak yang aku urusi. Daripada mengharapkan percakapan dengan kau.
Tiga minggu, tak ada kabar darimu…sampai tadi pagi.
Kamu minum setengah botol minyak lampu dan membakar kamar tidurmu.