Sering kali, dalam obrolan-obrolan yang saya alami. Dengan spontan seseorang menjawab ‘shoping’ sambil senyum-senyum setelah ditanya apa hobinya. Kata itu, dengan terjemahan tukar guling, dalam bahasa Indonesia berarti ‘berbelanja’. Jawaban itu terlontar dengan nada sumringah dan seolah mengandung gengsi tersendiri dan patut di sampaikan sebagai bagian dari aktualisasi diri,…shoping.
Soal berbelanja semua orang tentu paham dan familiar. Dimaknai sebagai kegiatan membeli sesuatu yang umumnya adalah barang di tempat-tempat yang menyediakannya. Bedanya dengan shoping yang diungkap mereka, saya merasakan berbelanja terkesan bersifat lebih netral dan sederhana, tempat berbelanja itu bisa di mana saja. Di warung, pasar kaget, kios-kios, mamang-mamang yang keliling komplek, atau pasar induk sampai ke tempat-tempat yang mewah. Sementara ‘shoping’ versi mereka terkesan lebih classy, up level society, dan mahal. Saya pribadi langsung membayangkan mall yang bersih, dingin, banyak pramuniaga yang pake stocking serta dijaga satpam berseragam rapi. Saat mendengar kata ‘shoping’ itu pula, tak terbayangkan oleh saya kebutuhan sehari-hari seperti sayuran, minyak makan, mi instant, atau deterjen.
Karena cara pengungkapannya. Kata ‘shoping’ terasa punya kasta tersendiri bagi saya. Seolah-olah kata shoping hanya tepat bila bersanding dengan istilah yang datang dari negri asing juga, misalnya levis, calvin klein, Prada, Chanel, Oakley, Gucci, elle, versace, Armani, atau vera wang. Bayangakan saja dialog berikut, “gue abis shoping ni…dapet kaca mata Oakley ama dompet Prada…”, pas bukan. Di tempat kos saya, kata ‘shoping’ justru menjadi olok-olok namun justru menempatkannya sebagai hal yang memang terkesan classy dan perlu penempatan yang tepat, seperti… ‘ abis shoping gw, di warung teh yati…beli sabun colek”, ada kesenjangan antara sabun colek dan warung teh yati dengan kata ‘shoping’.
Yang terlintas dibenak saya saat mendengar kata ‘shoping’ adalah sekelompok ibu-ibu dengan tampilan nyonya gedongan, gadis-gadis yang riang turun dari sedan terbaru di parkiran mall, atau eksekutif yang elegan dengan gaya yang meyakinkan di gerai minyak wangi berkelas. Terbayangkan oleh saya mereka membelanjakan uang yang jumlahnya cukup banyak, untuk membeli barang-barang dalam skala kebutuhan tersier. Misalnya alat kosmetik, pakaian yang lagi in fashion, perhiasan, atau aneka gadget terbaru. Lantas sebelum pulang mampir dulu di aneka resto wara laba luar negri untuk minum kopi, atau aneka kudapan. Itulah shoping dibenak saya, dan tentulah kegiatan itu sangat menyenangkan, makanya orang-orang yang menjawab shoping sebagai hobi, menyatakannya dengan senyum bahagia ala hidup sejahtera.
Entah kenapa kata ‘shoping’ yang mungkin biasa bagi banyak kalangan, justru terkesan ‘diseberang sana’ bagi saya. Bukan karena itu adalah istilah yang dicomot dari bahasa asing. Atau karena gaji saya yang cuma ratusan ribu, hingga saya jarang bisa ‘shoping-shoping’. Melainkan penyampaiannya oleh beberapa orang yang saya kenal, dan pemaknaan yang saya tangkap dari mereka. ‘Shoping’ yang mereka utarakan tentulah berbeda dengan kegiatan rutin yang dilakukan para pembantu rumah tangga sehari-hari. Misalnya kegiatan membeli sayur-mayur, minyak makan, bumbu-bumbu, ikan, daging setiap pagi demi tuntutan profesionalitas pada majikan. Shoping yang mereka utarakan memang mirip dengan apa yang saya pikirkan. Mereka mencatut nama-nama mall besar, bahkan sampai pusat-pusat belanja di negri tetangga. Dan dalam aktivitas berlatar mall besar dan negri tetangga, tentulah mereka tidak untuk membeli sayuran atau minyak makan. Melainkan lebih menjurus pada kegiatan membeli aneka asesoris, pakaian, pernak-pernik hiasan rumah, ditambah cerita seru pengalaman yang didapat dari sana. Dalam beberapa perbincangan disebutkan juga harga barang dalam satuan uang bukan rupiah.
Dari kata ‘shoping’ yang mereka utarakan itu, tergambarkan citra dari gelora konsumerisme yang dianggap bersensasi positif dan menyenangkan. Dari ungkapan akan selera pada lokasi jual beli dan aneka merek, saya mendapati bagaimana kata ‘shoping’ dipakai untuk mewakili hobi yang menjadi bagian identitas. ‘Shoping’ diungkapkan sebagai lobang kecil identitas yang seolah sengaja ditempatkan di depan mata buat mengintip keseluruhan identitas si empunya pehobi ‘shoping’ itu. Bagi saya pribadi, efeknya jelas. Saya seolah diberi informasi tentang bagaimana si pehobi ‘shoping’ menghabiskan waktu luang, seberapa besar dana taktis yang biasa dia pakai buat ‘shoping’, dan bagaimana orientasi dia terhadap aneka produksi yang bisa di beli.
Dan tentu saja, karena situasi perbincangan yang santai, semua terasa menempati kondisi perimbangan yang tepat. Tak ada yang salah dengan ‘shoping’. Tak ada yang salah dengan identitas yang ber name tag kesenangan pada kegiatan yang dapat menyenangkan. Tak ada yang salah dengan kesenangan. Dan memang tak ada yang salah.
Tapi tiba-tiba saya terusik karena saya juga mendapati pandangan-pandangan yang terasa mencelai wujud kesenangan itu. Dalam kata ‘shoping’ tersampaikan bentuk kebanggan yang terwakili dalam kegiatan membeli dan tempat-tempat yang mewah. Sehingga kesenangan dalam kemewahanlah yang sesungguhnya di sampaikan. Pengungkapan akan kesenangan itu tersampaikan pada bentuk pandangan dari kesenangan yang menekan identitas sehingga menarsiskannya, dan dalam waktu yang bersamaan menempatkan identitas itu pada pojok kamar gelap selera. Sehingga identitas itu sampai pada jenjang eksklusifitas yang tertutup oleh pintu akses strata sosial yang tidak ramah. Meskipun identitas boleh-boleh saja eksklusif, tapi patut diingat bahwa ekslusifitas acap kali memaksa istilah atau kegiatan yang sesungguhnya inklusif dan bisa dijamah siapa saja, bermetamorfosa jadi entitas yang seolah hanya tepat bagi kalangan tertentu. Dan terasinglah dia.
Lantas masalahnya apa?, saya rasa perlu kepekaan pada diri sendiri untuk mewaspadai masalah yang ditimbulkannya. Karena pengungkapan-pengungkapan beserta fakta-fakta seperti dalam terminologi ‘shoping’ diatas, bisa saja dianggap biasa oleh banyak orang. Tapi patut pula diingat, apa yang biasa-biasa saja itu bisa saja luar biasa bagi orang lain. Kebanyakan orang akan merespon tanggapan orang lain atas kesenangan atau apapun yang di utarakannya. Dan Kemungkinan besar, seseorang akan terusik saat dirinya di dekatkan dengan sifat-sifat yang bernada konotatif seperti boros, sombong, atau norak. Disinilah sebuah pengungkapan akan apapun perlu semacam filter dan kepekaan. Saya tidak menganjurkan manajemen kesan pragmatis seperti adegan tokoh simpatik yang baik budi pekertinya dalam sinetron, drama atau film. Saya hanya merasa apapun perlu sentuha seni, agar apapun terasa indah.
Met shoping-shoping….