Archive for December, 2007

Dosen

Posted in coret2 on December 18, 2007 by abet handoko

Jikalau tuan dan puan termasuk orang beruntung yang pernah ngalami kuliah, swasta atau negri, tuan dan puan pasti tau apa itu dosen. Mudahnya dosen adalah pegawai universitas yang bertanggung jawab mengajarkan mata kuliah tertentu kepada mahasiswa setiap semesternya. Lebih panjang lebar, menurut terjemahan yang dengan mudah bisa anda lihat di wikipedia via ‘yang mulia Google’, “…Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat…”, Gitu katanya, kalo belum puas, bisa juga dirujuk Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Tapi gak perlu detil-detil amat, yang penting kita sama-sama tau apa itu dosen. Toh, dari pengertian di benak kita masing-masing , kita gak akan saling salah tapsir.

Dalam pandangan saya, secara ekonomi dan status sosial, saya kira dosen cukup mapan dan dipandang. Setidaknya setelah ditetapkan peraturan presiden republik Indonesia no 59 tahun 2006, soal tunjangan bagi dosen itu. Apalagi di lingkungan perumahan, (kalo rumah dosen itu tidak di perumahan dosen) biasanya dosen ini selalu dirujuk dalam aneka kegiatan kampung, ya karena penilaian unsur intelektual dalam profesinya. Selain itu dosen tampak cukup keren, meskipun datang ke kampus cuma melecut motor bebek 4 tak, atau sedan tua.

Betapa tidak, dialah yang menguasai kajian mata kuliah yang ber sks-sks itu, dialah yang punya referensi lebih dibanding mahasiswa yang selalu pengennya asik-asik, dialah yang punya banyak pengalaman kuliah dan belajar, sebagian malah lulusan S2 luar negeri, dan yang lebih vital, dialah yang menentukan lulus atau tidaknya mahasiswa atas mata kuliah tertentu. Selama nilai jelek adalah mimpi buruk, maka dosen akan tetep punya power dan karena itu maka berwibawalah dia.

Seinget saya, yang ‘untung’ pernah ngalami kuliah, ada macem-macem tipe dosen. Ada yang selalu ramah dan cukup humoris sehingga suasana perkuliahan jadi cair, santai dan menyenangkan. Ada yang bak aristokrat, dan alergi dengan mahasiswa yang ke kampus pake sendal jepit atau berambut gondrong (sayangnya dosen yang begini dalam penilaian saya, sering berpenampilan mirip orang geblek). Ada yang killer nan sangar, saking wibawanya sampe suasana kuliah jadi seram dan menjengkelkan. Ada yang gak ambil peduli sama mahasiswa, yang penting ngajar dan kewajibanya selesai. Ada yang perhatian sama mahasiswa sampe sedetil-detilnya. Ada yang nyentrik sampe-sampe penampilannya gak jauh beda sama penampilan mahasiswa pas-pasan. Kira-kira gitu, macem-macem tipe dosen, dalam kurun 150 sks yang saya tempuh selama kuliah.

Waktu kuliah saya gak pernah sibuk, untuk organisasi atau bikin bisnis. Dengan kata lain saya kuliah dengan cukup santai, saya punya cukup waktu untuk main gitar sepuasnya atau keluyuran kesana-kemari. Mungkin karena saling santainya itu, saya gak pernah menilai seorang dosen itu baik atau tidak dalam ukuran akademis dan cita-cita ideal pendidikan. Pokoknya kuliah, kalo masih penasaran sama yang diajarin dosen ya baca buku sendiri, cari di perpus, kalo gak ada di perpus, ya kumpulin duit, beli buku di gramedia, selesai.

Paling-paling saya kesal sama dosen karena prosedur perbaikan nilai yang berbelit dan acap kali penuh sinisme. Atau saya kurang suka cara mengajar yang gak interaktif, terlalu serius, gak ada lucu-lucunya sehingga bikin ngantuk, saya merasa kuliah seperti itu bagaikan menonton siaran televisi gak berkualitas di tengah malam. Selain itu, saya kadang juga kesal dengan dosen yang mensyaratkan hal-hal di luar penguasaan mata kuliah sebagai syarat ikut ujian, misalnya absensi dan pakaian yang harus rapi. Atau dosen yang ‘Semi ghoib’, karena jarang di kampus, susah ditemui, dan entah ada dimana.

Tapi banyak juga dosen yang membuat saya terkesan karena pengetahuan yang ia uraikan saat mengajar. Atau dosen dengan keramahan, kesabaran juga pengertiannya pada aneka macam sifat mahasiswa. Tapi tetap saja, selama kuliah saya gak punya ukuran jelas, minimal untuk saya sendiri, bagaimana dosen yang ideal itu. Saya enjoy aja.

Nah, setelah lulus dan ngobrol-ngobrol sesama alumni, baru saya me review, begini atau begitu sebenarnya dosen harapan saya. Yang kebanyakan kriterianya sama diantara pendapat kami. Salah satu kriteria dosen yang kami idam-idamkan adalah dosen yang inklusif tidak eksklusif dan memisahkan dirinya dengan mahasiswa karena waham akan superioritasnnya. Yah dosen yang ramah lah, setidaknya itu. Ini harapan yang penting saya kira, bukan sekedar bentuk kekesalan pada dosen yang maunya di hormati terus tapi selalu meremehkan mahasiswa.

Kami ternyata juga menyukai beberapa dosen berbeda dengan satu ciri yang sama, yaitu seorang penyampai pengetahuan yang juga menghadirkan cakrawala lebih luas dari sekedar bahan kuliah dalam buku atau diktat. Dosen yang secara tidak langsung memberikan nilai pada pengetahuan bukan hanya sekedar apa yang harus di kuasai agar dapet nilai bagus, melainkan pengetahuan sebagai sesuatu yang harus diraih dan dipahami oleh orang-orang yang mikir dan punya otak. Dan karena kemampuannya itu kami benar-benar merasa sebagai mahasiswa, datang ke kampus dengan motif jelas…tambahan intelektual apa yang kira-kira akan kami terima hari ini dari perkuliahan si doski…

Yang juga penting bagi kami adalah dosen yang pengertian selama penyusunan skripsi. Pengertian disini bukan artinya dosen itu kasih apa saja maunya kami, tapi lebih pada kesedian waktu untuk ditemui, memberikan bimbingan yang cerdas, teliti, benar secara kaidah keilmuan dan juga menghargai skripsi sebagai ‘magnum work‘ mahasiswa, nggak susah dicari, termasuk memberi jalan keluar demi kemudahan kepentingan administratif macam-macam. Kira-kira gitu, dosen yang ideal bagi saya. Dan jika saja semua dosen selama kuliah seperti kriteria tersebut, maka masa-masa kuliah tentu akan lebih berbinar.

Seminggu yang lalu saya dengar kabar, dua orang teman saat kuliah diterima sebagai dosen di almamater kami. Saya harap dia juga ingat saat-saat menjadi mahasiswa, dan paham seperti apa macam-macam sifat mahasiswa. Sehingga bisa menempatkan diri sebagai seorang dosen yang ideal. Jangan karena identitas barunya sebagai dosen lantas berubah menjadi orang lain yang over protect pada status barunya itu, dan lupa dia juga pernah jadi mahasiswa yang punya banyak teman dengan macam-macam maunya. Saya harap mereka manjadi dosen inklusif yang membawa kemajuan bagi kampus kami.

Ngomong-ngomong, kalo ada dosen ideal… tentu harus ada juga mahasiswa ideal, nanti kita bahas lagi soal ini.

Inner beauty…

Posted in coret2 on December 8, 2007 by abet handoko

Semalem saya nonton film yang bisa dibilang film lama, soalnya produksi tahun 2001. Saya beli di mal deket tempat kos, DVD yang nyelip di kategori kolektor series. Judulnya ‘Shallow Hal’, yang jadi tokoh utamanya Jack Black sebagai Hal, dan Gwyneth Paltrow sebagai Rosemarry.

Ceritanya soal si Shallow Hal, Profesional muda yang berteman dengan Mauricio (diperankan Jason Alexander). Mauricio selalu berpendapat dan menilai seorang perempuan dari fisiknya. Dan penilaian itu sedikit banyak juga mempengaruhi Hal meskipun sesungguhnya Hal bisa menilai seorang wanita dari sisi Inner Beauty. Suatu kali saat berangkat kerja, Hal terjebak di sebuah lift yang tiba-tiba stuck bareng seorang motivator terkenal bernama Tonny Robins. Saat terjebak di lift itu mereka berdiskusi perihal tampilan fisik perempuan dan inner biuty. Kemudian Tony mensugesti Hal untuk dapat melihat bagaimana cantiknya wanita dengan inner beauty dalam diri mereka.

Ajaib, Hal bisa melihat bagaimana cantiknya perempuan dengan kepribadian dan inner beauty. Di mata Hal, perempuan yang giginya warna –warni dan kurus bak cacing jadi terlihat seperti model karena wanita ini adalah perempuan sederhana yang berbakti pada keluarga dan orang tua. Sebaliknya wanita dengan kepribadian kasar dan buruk terlihat seperti nenek-nenek yang reot, kendur bak karet kolor, meskipun aslinya seksi dan menggairahkan. Dalam visi penglihatan seperti itulah dia bertemu dengan Rosemarry, perempuan gemuk setaraf kuda nil, yang terlihat secantik Gwyneth paltrow. Setelah lika-liku cerita soal bagaimana kesungguhan Hal dalam menilai wanita. Di akhir kisah Hal tetap mencintai Rosemarry yang Minul mendut itu, sebagai kekasih karena kualitas diri dan kepribadiannya sebagai seorang wanita. Yah…lumayan menyentuh, cerita dengan ending nan idealis.

Kata teori psikoanalis Sigmund Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian: Id (animal), Ego (rasional), dan Superego (moral). Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan biologis manusia – pusat insting (hawa nafsu). Soal tema kita kali ini, dari sudut pandang Id, tentu anda akan memilih seseorang yang menurut anda mampu memuaskan hasrat anda secara apa yang nampak atau bisa terjamah. Anda akan abai pada hal-hal yang sifatnya platonis yang terdengar muluk-muluk, seperti halnya soal inner beauty. Namun Ego anda akan mereview hasrat Id anda sesuai dengan ukuran rasional yang anda miliki. Dan dalam kaitan martabat dan idealisme dalam lingkungan, super ego turut menuntun anda. Sehingga, dikaitkan teorinya freud, perihal mencari pasangan dalam pilihan fisik dan inner beauty terjadi lewat dialog dan kompromi rumit pada diri anda.

Mari beranalogi tentang inner bauty dan fisik seseorang. Katakanlah lewat dua jenis minuman yang mewakili kualitas pribadi, misalnya wedang jahe dan air soda. Wedang jahe adalah inner beauty, kelembutan, perhatian, kesetiaan, kejujuran, karamahannya, dan hal-hal positif lainnya. Sementara air soda adalah kualitas pribadi yang buruk, misalnya materialistis, penghianat, pendusta, dan sodara-sodaranya. Untuk fisik, kita analogikan dengan tempat yang kita gunakan untuk meminumnya, misalnya gelas kristal mewakili tubuh yang indah, kulit mulus, wajah oke dan berbagai ukuran fisik yang anda pilih, dan gelas kaleng mewakili fisik yang buruk misalnya gendut, tidak cantik, giginya ompong atau rambutnya jarang-jarang.

Beruntung sekali bila anda mendapat wedang jahe dalam gelas kristal, dan malapetaka bila anda mendapat air soda dalam gelas kaleng. Dan akan berpotensi dilematis saat anda mendapat wedang jahe dalam gelas kaleng, atau air soda dalam gelas kristal. Lantas bagaimana sikap anda jika anda mendapati minuman kesukaan anda dengan tempat minum yang tidak anda sukai, atau sebaliknya. Saat dilema ini terjadi, anda akan berupaya mendamaikan antara Id, Ego dan Super ego anda…

Siapa tak ingin mendapat pasangan yang penampilannnya oke, sekaligus punya inner beauty yang menawan. Semua orang tentu gak mau mendapat pasangan yang sudah jelek sombong, penghianat dan jahat pula. Tapi kehidupan dengan segala kemungkinannya memungkinkan anda untuk mendapati hal-hal tersebut. Termasuk dua kemungkinan variasi, yaitu anda menemui seseorang dengan sifat dan kualitas pribadi yang anda idamkan namun anda tidak menyukai penampilannya, atau anda mendapati seseorang yang penampilannya anda sukai namun tidak dengan kepribadian dan hatinya.

Apa hendak dikata, Inner Beuty adalah konsep abstrak yang tidak berwujud. Sesuatu yang hanya bisa anda nilai dan anda rasakan tanpa anda lihat bentuknya secara langsung. Sementara fisik adalah ukuran keberadaan yang jelas, gamblang keliatan. Inner beauty dan Physic beauty, keduanya mempunyai bobot yang mempengaruhi penilaian dan sudut pandang dalam memilih. Walau, Kalo mau jujur-jujuran, kebanyakan orang melihat penampilan sebagai tolok ukur dominan untuk suka atau tidak menyukai seseorang. Jarang-jarang seseorang mau repot dan kritis menilai kualitas inner beauty dalam perjumpaan-perjumpaan. Kalopun soal inner beauty masuk dalam skala prioritas, itu baru di cermati dalam proses setelah fisik dinilai oke duluan.

Di jaman serba particular,dangkal dan materialistis, terkesan berat untuk bisa militan dan telaten menerapkan orientasi inner beauty dalam mencari gandengan atau setidaknya teman. Kebanyakan orang merasa vital dan sukses saat bisa menggandeng seseorang dengan fisik tipikal model atau bintang sinetron, atau seseorang dengan bentuk-bentuk kepemilikan material nan nyata. Dan lantas…inner beauty adalah konsep menara gading yang kesepian. Sehingga orang bisa gampang bilang ”hey..lets get real..”

Tapi harus imbang juga, apa jadinya seseorang kalo pasrah dengan realita superficial yang mendikte itu. Makan hati demi tampilan yang menawan. Bersimpuh tak berdaya demi wujud raga yang fana. Rela tertipu demi sesuatu yang bisa di jamah tangan dan kasat mata. Tersiksa, patah hati, lantas menyanyikan lagu gloomy bermalam-malam. Betapa kikuknya…

Tuhan kirimkanlah aku…Kekasih yang baik hati…

Yang mencintai aku…Apa adanya…


Musik Saya, Mungkin Musik Kamu Juga

Posted in coret2 on December 8, 2007 by abet handoko

Seorang kawan datang sore ini. Dia bilang, dia eneg sama band pendatang baru yang lagi ngetop. Dia eneg, bukan karena personil bandnya langsung jadi selebritis, banyak uang, pacaran sama model trus sombong. Bukan pula gara-gara dia pernah kenal sama salah satu personelnya, yang cuekin dia setelah sukses. Teman saya mengeluhkan kualitas musik yang menurut dia norak dan memuakkan. Bahkan dia membawa sebuah rekaman grup rap yang mencela band ini habis-habisan. Dia juga memperdengarkan bebarapa lagu dari band yang ia keluhkan kualitasnya itu. Saya cukup bisa pengertian kenapa kawan saya bersikap seperti grup rap yang mencela band ini habis-habisan. Sayangnnya dia bilang, ini musik jelek. Dia gak mau dibantah.

Memang kita perlu kritis. Musik sebagai salah satu cabang seni dan hasil dari proses berbudaya, seharusnya memaparkan bagaimana kecerdasan dan kehalusan sebuah peradaban. Selama kebudayaan masih ada, musik adalah refleksi dimana melaluinya nampak bagaimana kualitas manusia dalam lingkup berbudaya dilukiskan. Karena musik dan sisi kepekaannya menjadi media dimana ekspresi akan sesuatu, terbentuk dan tersampaikan. Kemudian melalui proses mencerna dan berfikir musik diserap dan menghasilkan interpretasi-interpretasi. Musik kemudian membuka wahana dimana dialog, pemahaman, dan kepekaan akan suatu hal menjadi lebih rinci. Musik membawa kualitas kecerdasan yang akan menular. Makannya musik harus bermutu.

Memang secara teknis ada runtutan atau kelayakan proses yang bisa dirujuk untuk menentukan sebuah karya sebagai hasil yang layak atau tidak. Dengan memperhatikan hasil-hasil karya yang terekam dalam apresiasi khalayak musik. Secara samar juga dimungkinkan ukuran-ukuran yang akan mengidentikkan sebuah karya sebagai sesuatu yang berkualitas atau tidak. Tapi pemahaman seragam dan universal dari sebuah karya sebagai yang bagus atau jelek tidak akan pernah ada. Semua orang bebas mengekspresikan gelora estetikanya, tanpa rumus baku bagus-jelek. Harus disadari bahwa kualitas estetis musik, berkaitan dengan perkara bagus dan jelek, indah atau sama sekali tidak menarik, memang melampaui ukuran-ukuran baku. Dengan kata lain tidak akan pernah ada patokan yang melaluinya sebuah karya musik bisa diukur kadar atau tingkatan keindahannya.

Tapi juga bukannya terus ngambang dan buntu sampai disitu. Kita tetap bisa menilai sebuah karya musik dengan bijak lewat istilah suka atau tidak suka. Ini lebih santun daripada kita mencela, memberikan stempel jelek, atau memaki-maki musik yang tidak kita sukai. Bukankah dengan cara begitu penilaian kita akan lebih bijak dan bajik. Bijak bagi kita karena mau menghargai sebuah karya meskipun kita tidak suka, dan bajik karena menghargai itu salah satu ciri budi pekerti yang berhubungan dengan kebajikan. Lagian, musik sebagai objek yang bebas tanpa patokan bagus atau jelek itu tetap tidak akan bisa menutup ruang kebebasan bagi khalayak untuk memberikan apresiasi beralasan kepadanya.

Lantas bagaimana menentukan suka atau tidak suka. Gampangnya sih tinggal dengerin aja. Tapi dari perjumpaan dengan kawan di sore itu. Saya juga ingin mengemukakan soal originalitas versi saya. Musik yang saya sukai adalah musik yang orijinal. Maunya saya, pengertian originalitas ini berhubungkan dengan nilai kebaruan dari sebuah karya. Maunya saya, orijinalitas merupakan nilai yang menjelaskan bahwa sebuah karya musik adalah sesuatu yang terbaru dan hadir melengkapi sekian banyak karya-karya yang pernah ada. Sifat ‘melengkapi’ ini adalah benar-benar berupa kualitas tanpa sesuatu dari karya yang sudah pernah ada dan di comot “dengan sengaja”. Tapi sayangnya lagi, yang begini kayaknya udah jarang. Saya nggak mau gara-gara standar orijinalis yang saya patok, saya malah gak dengerin musik. Sehingga lewat standar lebih lunak. Saya analogikan orijinalitas seperti seseorang yang datang dengan kepribadian yang tidak dilekatkan atau diidentikkan dengan orang-orang diluar dirinya. Ini bukan berarti dia tidak menyerap kepribadian dari luar dirinya sama sekali. Tapi ia datang dengan keutuhan diri yang melukiskan dirinya. Tanpa campur tangan sesuatu diluar yang tidak ia kehendaki. Sehingga karya orijinal adalah bentuk kehendak dengan ekspresi independen paling tinggi.

Saya hanya sadar bahwa saya tidak bisa memaksa semua musisi atau khalayak musik untuk original dan bagus seperti yang saya mau. Saya pun tidak mau bebal dengan ukuran original dan musik bagus versi saya. Saya hanya ingin tetap berpendapat bahwa musik seharusnya mencerdaskan bukan justru melahirkan individu-individu yang bebal, atau tidak kritis terhadap musik sebagai keindahan yang ‘bebas’. Saya pun tetap tak mengingini musik menjadi wahana asyik masduk belaka. Sehingga musik jadi indentik dengan bentuk-bentuk mimetis, kitsch, voyeur, atau fetishme yang di legalkan atas nama hasil proses kreatif. Saya juga tak mau kalau musik menjelma jadi seni pleasure tanpa substansi dan tidak berkualitas.

Berkesenianlah selama air seni masih dikandung badan…….