Archive for January, 2008

The Girls Of Riyadh…

Posted in resensi on January 29, 2008 by abet handoko

rajaa-al-sanea.jpg

Syahdan, Abdul Aziz , yang kini ternama sebagai raja jazirah arab terluka dalam sebuah pertempuran melawa suku Ajman. Sebutir peluru menembus perutnya. Insiden itu mematahkan semangat tempur pasukan. Ditambah hari-hari yang berat, satu persatu pasukannya disersi meninggalkannya. Lantas apa yang dilakukan Abdul Aziz untuk membuktikan bahwa dia adalah pemimpin yang masih mampu membawa pasukannya pada target kemenangan, merebut kembali kota Riyadh dari tangan dinasti Rasyid…

Dia memangil seorang Emir yang menjadi sekutunya, dan menanyakan adakah anak gadis sang Emir yang sudah siap menikah. Abdul Aziz minta dinikahkan dengan salah seorang anak gadis sang Emir. Tanpa banyak soal, akad nikah pun dilakukan, domba-domba dan unta disembelih, pesta pernikahan padang pasir pun di gelar…

Pada masa itu, lazim bagi seorang gadis untuk tidak menyerahkan kegadisannya di malam pertama. Gadis-gadis akan mempertahankan sebisa mungkin. Di malam-malam selanjutnya, saat sang gadis telah menyerahkan ke gadisannya, ia akan berlari keliling kampung menunjukkan kain sprei dengan bercak darah, bukti bahwa ia adalah gadis yang suci. Sehingga adalah sebuah mitos, bagi lelaki arab jaman itu, bahwa hanya lelaki yang benar-benar perkasa dan berkuasa, bisa melakukan itu pada seorang gadis dimalam pertama. Itulah yang dilakukan Abdul Aziz untuk menunjukkan keperkasaan dan kehebatanya, meski ia sedang terluka. Sang gadis berlari keliling kampung dengan sprai bercak, di malam pertama dengannya…ditengah keraguan para pengikutnya, dengan cara itu dia menunjukkan bahwa dia seorang lelaki yang perkasa dan berkuasa…

Kisah diatas terdapat dalam sebuah buku berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia yang di tulis Robert Lacey pada tahun 1981. Cerita dari awal tahun 1900-an, yang menyiratkan bahwa wanita dalam kebudayaan arab kala itu tak punya kompromi dihadapan kaum laki-laki. Tak di sebutkan bagaimana sikap batin sang perempuan. Dia hanya menerima untuk dinikahi, dan berlari-lari keliling kampung untuk membuktikan bahwa dia menyerahkan kesucian secara sah, meski untuk lelaki yang tidak dia kenal, jauh lebih tua atau tidak ia sukai, demi kepentingan yang tidak dia mengerti…perang dan dunia para lelaki…

Senada dengan kisah di atas, perihal wanita dalam kebudayaan arab juga muncul dalam The Girls Of Riyadh yang ditulis oleh Rajaa Al Sanea tahun 2005. Dalam lingkup dunia yang lebih modern, kondisi di arab dipaparkan Sanea masih tak jauh berbeda dibanding berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

Berupa kumpulan E-mail yang merangkum cerita empat orang gadis Riyadh dalam keseharian dan persoalan perempuan dalam kebudayaannya. Buku ini kritis dengan isinya yang memoar ketakadilan lembaga perkawinan, pembatalan perjodohan oleh pihak laki-laki yang sudah ‘mencicipi’, superioritas laki-laki, perselingkuhan, pergunjingan dan tetek bengek hal mengesalkan akibat sudut pandang budaya pada perempuan yang bagi Senea adalah salah kaprah. Dan bila apa yang di tulis oleh Rajaa Al Sanea benar, maka kebudayaan arab diilustrasikannya sedang jalan di tempat dalam memperlakukan kaum wanita. Seperti yang ia jelaskan lewat puisi Nizar Qabany…

Kebudayaan kita tergelincir dalam Lumpur dan sabun

Masih kita melestarikan warisan Fir’aun dan Abu jahal

Kita masih hidup dalam logika kunci dan gembok

Melipat perempuan dalam gumpalan kapas

Menguburnya dalam pasir

Memilikinya seperti benda

….

Tulisan Sanea tidak hanya memaparkan segala yang didapatinya hanya dengan ungkapan-ungkapan metaforis. Gamblang ia mengemukakan penilaiannya pada kebudayaan dimana dia bersosialisasi. “Pada masyarakatku, perempuan tidak lebih dari sebuah titik ketundukan dan kepasrahan. Para penghuni gardu-gardu keterbatasan. Para penempat ruang-ruang perintah. Berjalan, tersenyum, dan menari, semua sesuai perintah…” ungkap wanita yang berusia 25 tahun saat ia merampungkan bukunya itu. Ironisnya buku yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan laris manis di 25 negara ini, tampaknya di anggap subversif bagi kebudayaannya sendiri. Mungkin karena buku ini dianggap terlalu gamblang memaparkan aib budaya arab, di jazirah arab, buku ini dilarang beredar dan hanya bisa diperoleh di pasar gelap…

Menggugat kakunya ukuran kepatuhan pada adat istiadat dalam ikatan perkawinan, misalnya. Sanea mengemukakan betapa kaum wanita disekitarnya kerap terjebak dalam ikatan pernikahan yang lebih tepat disebut sebagai belenggu. “Bagi mereka perkawinan adalah kematian bagi kebebasan, kreatifitas, dan persahabatan. Perkawinan adalah kesedihan, sesal dan duka cita…”. Berbeda dengan pernikahan versi putri salju dan pengeran yang, happy ever after…menurut Sanea pernikahan adalah bagaimana perempuan pada akhirnya terikat kepatuhan-kepatuhan dalam standar kebudayaannya, dan karena itu hilanglah sang wanita sebagai individu. Menjelma sebagai seorang perempuan yang memendam kesal, dan letih pekerjaan seharian, duduk manis dengan pakaian sesuai selera suami yang selalu bermuka masam..Dalam penilaian Sanea yang belia, katakadilan pun muncul dalam aktivitas keseharian anak muda. “Inilah tradisi kami, laki-laki selalu punya alasan untuk mejeng di depan perempuan, tetapi perempuan tidak mempuanyai hak yang sama…” tulis Sanea tentang hal ini.

Tidak hanya fokus pada beragam hal yang menurutnya merugikan kaum wanita dalam lingkungan kebudayaannya. Ia juga berkontemplasi, dan mempertanyakan relevansi kritiknya pada masyarakat disekitarnya. “Tiba-tiba aku berfikir tentang modernisasi dan efek-efeknya. Mungkin ini konsekuensi logis dan harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan. Tapi benarkah ada korelasi yang jelas antara ideologi materialisme dan perubahan prilaku? Di tengah kultur ketimuran yang mengedepankan kesantunan, apakah modernsasi tetap mampu memberikan akses. Atau terkadang kita sedang menangkap akses dan melepas inti. Kita telah menikmati degradasi. Yang kita puja sebagai perubahan…”...Mungkin terlalu rumit dan melelahkan baginya saat mengkaji secara kritis, bagaimana kebudayaan arab, pengaruh Islam, modernisasi, dan hak-hak perempuan, yang begitu baur dengan keseharian dan kadang absurd.

Merambah ke arah yang lebih dalam. Apa yang diungkapkan Sanea bermuara pada kehendaknya akan perubahan. Ia menginginkan kewajiban dan hak yang lebih setimpal antara kaum laki-laki dan perempuan di negrinya. Sebenarnya pihak yang menghendaki revolusi dan kajian ulang atas taqlid (ketundukan secara buta) dan tradisi yang sakit akan mendapat dukungan lebih banyak dibanding pihak yang merasa menjaga nilai tetapi sebenarnya hanya melakukan pembenaran atas kesalahan-kesalahan…tak sekedar menggugat kaum laki-laki di negrinya, Sanea mempersoalkan aneka aturan budaya yang baginya terlalu feodal dan tidak peka pada hak-hak perempuan. Dan karena itu harus di insyafi dan di revolusi.

Dengan muatan demikian itu, cara penulisannya yang mirip dengan novel modern, menjadikan buku ini tidak terkesan berat dan menarik untuk di baca. Kejujuran pengungkapan Sanea juga memungkinkan pembaca untuk memahami betapa modernisasi (dalam hal ini pengaruh barat) juga berperan membentuk sikap sebagai dasar tulisannya. Sehingga seperti di negara asalnya, baik yang pro konservatif maupun yang pro progresif bisa menyikapi isi buku dengan cara berbeda.

Dalam sisi yang agak romantis, baiknya kita juga melihat dari sudut pandang Senea yang dalam buku tersebut mengutip Socrates…”Seorang laki-laki berkata, “Yang diinginkan laki-laki dari seorang perempuan adalah agar perempuan itu selalu memahaminya,”. Perempuan itu lantas berteriak di muka sang lelaki, “Kebutuhan perempuan dari seorang laki-laki adalah untuk dicintai”…

Dan ingatlah wahai kaum lelaki yang gagah perkasa, bahwasanya Rasulmu…Muhammad SAW, membantu istrinya Aisyah mengerjakan pekerjaan rumah, sebelum Ia mencari nafkah dan menunaikan tugas kerasulannya…

Surat Cinta

Posted in coret2 on January 23, 2008 by abet handoko

Cisauk 23 januari 2008

Teruntuk Adinda Tersayang, Di Villa Kebahagiaan

Adinda…orang pasti bilang, seharusnya Aku buru-buru bilang bahwa aku cinta padamu. Dengan yakin dan berapi-api, seperti anak remaja yang optimis. seperti jejaka yang baru pertama kali menyatakan itu. Tentunya dengan pernyataan langsung, tanpa media perantara seperti ini. Orang-orang itu akan bilang bahwa itu lebih terkesan lugas dan jantan, ngomong langsung akan lebih asli, tanpa kesan di buat-buat. Live act up the text. Apalagi di jaman seperti ini, mengirim surat untuk kepentingan pengungkapan perasaan seperti ini bisa dianggap konyol. Bisa jadi malah diidentikkan dengan kebiasan jaman dulu, kuno dan norak.

Alih-alih menulis surat cinta, orang-orang akan menyarankan bahwa lebih baik aku menggunakan media yang peka jaman. Salah satunya mereka akan mencontohkan penggunaan handphone. Tapi, ujung-ujungnya mereka akan bilang bahwa sebaiknya aku ngomong langsung aja sama kamu.

Tapi bagiku, surat cinta tetap media yang komunikatif dan relevan buat pernyataan cinta. Karena kamu yang membaca surat cinta akan memperhatikan isi pikiranku, bahkan membayangkan bagaimana perasaanku dalam runut kata yang aku tulis. proses itu terjadi lebih tersendiri, khidmat dan personal. Disamping itu, dengan surat cinta sebuah pernyataan cinta akan terdokumentasi. Ada bentuk otentik dari pesan yang disampaikan, bukan hanya citra dari pesan yang disampaikan itu saja. Dan itu tidak ada, kalau pengungkapan cinta ditempuh dengan ngomong langsung atau lewat ponsel.

Kalau kamu jadi pacarku nantinya, dan aku mbalelo bilang nggak cinta sama kau. Kamu bisa tunjukan surat cintaku sebagai bukti. Nah, kamu paham kan? Surat cinta adalah ejawantah narasi romantik kehidupan…Soal lugas dan jantan, surat cinta juga mewakili itu. Kuyakin kata-kata ku bisa kamu mengerti dengan baik bukan?. Lagi pula seorang tidak bisa dibilang pengecut hanya karena berkirim surat cinta. Kurasa soal pengecut itu perkara lain, tak ada hubungannya dengan surat menyurat.

Surat cinta yang kutulis juga mengandung potensi interaktif yang positif. Mudah-mudahan dengan menyatakan cinta lewat surat cinta, kamu akan membalas penyataanku dalam bentuk surat juga. Diterima atau ditolak. Dengan demikian kamu akan sedikit ada kegiatan, untuk ngetik atau nulis surat balasan. Dengan mengetik atau menulis kamu akan mengekspresikan pikiran dan perasaaanmu lewat kata-kata. Secara tidak langsung ada kegiatan kreatif merangkai kata. Dan proses itu akam membuat momen lebih tertanam dan berkesan. Sehingga tanggung jawab pada momen-momen itu akan lebih terbentuk. Aku kira, banyak pasangan tua yang tetap mesra sampai tua karena dulunya saling kirim dan berbalas surat cinta. Mungkin aktivitas menulis balasan surat cinta itu pula yang suatu saat akan menjadi tema paling asik untuk dibahas sama orang-orang di sekitarmu

Demikianlah, aku nyatakan cintaku, apa adanya padamu. Kuharap kamu juga punya perasaan yang sama seperti yang aku rasa. Perasaan adiluhung tentang bagaimana seorang lelaki menginginkan seorang perempuan. Bagaimana dalam perasaaan itu semua yang sulit selalu mungkin diatasi, apa yang berat terasa ringan, perihal yang rumit jadi sederhana, yang tak mungkin menjadi mungkin, yang mengada-ada, kampungan, dan konyol menjadi wajar dan sempurna. Demikianlah, kutunggu jawabanmu yang juga apa adanya….segera.

Maaf aku nggak bahas SMS, soalnya media ini relatif lebih berpotensi miskomunikasi. Soalnya kamu juga pasti tau kan, banyak kata-kata yng disingkat-singkat lewat di SMS demi efesiensi, meskipun kahirnya kerep tidak efektif. Apalagi menyatakan cinta dengan SMS bagiku hanya tepat bagi orang-orang yang pelit atau pailit. Dan jelas, aku bukan jenis orang macam itu.

 

Tertanda,

Kanda yang menanti penuh harap

 

Taurus Boy

 

 

 

 

 

 

NB: Empat kali empat sama dengan enambelas

Sempat tidak sempat harap dibalas

Sami Laris Van Tangerang…

Posted in coret2 on January 22, 2008 by abet handoko

Dua minggu lalu, masih terhitung hari gajian, sekitar tanggal 2-3 awal bulan. Masih ada sedikit uang gaji, setelah bayar kos-kosan dan bayar serba-serbi tagihan. Seperti biasa saya mengunjungi kakak perempuan saya, kangen sama ponakan.. Kalo dihitung, dari tempat kos, saya harus naik angkot empat kali, baru bisa sampai ke rumah kakak perempuan saya. Tapi saya yang memang belum punya kendaraan pribadi, sudah biasa naik angkutan kota kemana-mana. Jadi tak ada masalah.

Berkali-kali saya ke rumah kakak perempuan saya, berkali-kali pula saya harus lewat pusat belanja di tepi jalan itu. Pusat penjualan aneka barang ritel bukan mall, karena hanya menyediakan barang konsumsi, gedungnya pun biasa-biasa saja. Tidak megah dan luas layaknya mall. Tempat itu di kelilingi pagar dengan dua akes keluar, di sisi kanan dan depan. Di setiap akses keluar berkumpul tukang ojek yang mangkal dengan motor bebek masing-masing.

Akses keluar bagian depan hanya sekitar 5 meter dari sekitar 30 meter panjang pagar. Di pinggir pagar itu pedagang kaki lima berderet dengan naungan terpal plastik, dan tampak muka adalah macam-macam desain gerobak dagangan. Pengunjung bisa menikmati aneka hidangan yang harganya lebih murah dibandingkan aneka resto waralaba di mall. Di pusat belanja itulah saya belanja setiap kali saya mengunjungi kakak saya. Membeli oleh-oleh untuk ponakan, dan aneka makanan instant, soalnya saya tahu kakak saya jarang memasak.

Di tempat itu, saya bisa merasakan bahwa dalam benak para pengunjung berbelanja di sana adalah kesenangan yang nyata. Saya kerap mendapati pasangan yang bergandengan mesra mengitari rak-rak aneka dagangan, atau sepasang suami istri yang suka ria berbelanja dengan anak-anaknya. Pernah pula saya menjumpai seorang gadis bersama ibunya yang sudah terlihat renta dengan pakaian kebaya dan kain batik khas mbok-mbok. Si mbok terlihat kagum dengan tata letak aneka barang konsumsi, ruangan yang dingin dan pencahayaan di tempat itu. Saat saya bersimpangan dengannya, si mbok terlihat memperhatikan freezer berisi aneka minuman kaleng.

Perlu diketahui, penduduk di sekitar tempat belanja itu kebanyakan adalah kaum urban, seperti saya. Golongan penduduk pendatang yang jauh-jauh meninggalkan kampung halaman buat cari nafkah. Mereka bekerja pada pabrik-pabrik yang banyak berdiri di lingkungan itu. Tempat asal mereka rata-rata adalah daerah tingkat tiga di berbagai propinsi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Lampung, Sumatra Selatan, sampai NTT dan NTB. Maka bagi anda yang terlahir, tumbuh dan terbiasa dengan lingkungan kota, anda akan mendapati orang-orang yang bisa jadi anda anggap udik atau ngampung. Tak jarang saya mendengar para pengunjung pusat belanja itu berbicara dalam bahasa daerah yang sebagian tidak saya mengerti.

Dalam strata sosial seperti mereka (saya juga termasuk), tidak ada budget buat main golf atau shoping ke luar negri. Bisa jadi kesenangan semacam itu terfikirkanpun tidak. Kesenangan awal bulan yang memungkinkan adalah belanja ditempat semacam ini. Meskipun penghasilan tidak besar, setidaknya sekali dalam sebulan bisa menikmati sensasi belanja di pusat perbelanjaan yang bersih dan pakai ac. Anak-anak bisa main mandi bola, bapak-bapak bisa beli minyak wangi eceran yang dijual per mili liter, ibu-ibu memilih aneka buah yang di jual per ons, setelah belanja bulanan barang-barang konsumsi. Setelah itu membeli cd lagu dangdut bajakan diantara suara lagu dangdut dari ampli rakitan yang membahana. Kalau sudah merasa bosan bisa pulang dengan riang, naek ojek atau angkutan kota.

Setiap kalangan punya potret kesenangannya sendiri-sendiri…