
Syahdan, Abdul Aziz , yang kini ternama sebagai raja jazirah arab terluka dalam sebuah pertempuran melawa suku Ajman. Sebutir peluru menembus perutnya. Insiden itu mematahkan semangat tempur pasukan. Ditambah hari-hari yang berat, satu persatu pasukannya disersi meninggalkannya. Lantas apa yang dilakukan Abdul Aziz untuk membuktikan bahwa dia adalah pemimpin yang masih mampu membawa pasukannya pada target kemenangan, merebut kembali kota Riyadh dari tangan dinasti Rasyid…
Dia memangil seorang Emir yang menjadi sekutunya, dan menanyakan adakah anak gadis sang Emir yang sudah siap menikah. Abdul Aziz minta dinikahkan dengan salah seorang anak gadis sang Emir. Tanpa banyak soal, akad nikah pun dilakukan, domba-domba dan unta disembelih, pesta pernikahan padang pasir pun di gelar…
Pada masa itu, lazim bagi seorang gadis untuk tidak menyerahkan kegadisannya di malam pertama. Gadis-gadis akan mempertahankan sebisa mungkin. Di malam-malam selanjutnya, saat sang gadis telah menyerahkan ke gadisannya, ia akan berlari keliling kampung menunjukkan kain sprei dengan bercak darah, bukti bahwa ia adalah gadis yang suci. Sehingga adalah sebuah mitos, bagi lelaki arab jaman itu, bahwa hanya lelaki yang benar-benar perkasa dan berkuasa, bisa melakukan itu pada seorang gadis dimalam pertama. Itulah yang dilakukan Abdul Aziz untuk menunjukkan keperkasaan dan kehebatanya, meski ia sedang terluka. Sang gadis berlari keliling kampung dengan sprai bercak, di malam pertama dengannya…ditengah keraguan para pengikutnya, dengan cara itu dia menunjukkan bahwa dia seorang lelaki yang perkasa dan berkuasa…
Kisah diatas terdapat dalam sebuah buku berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia yang di tulis Robert Lacey pada tahun 1981. Cerita dari awal tahun 1900-an, yang menyiratkan bahwa wanita dalam kebudayaan arab kala itu tak punya kompromi dihadapan kaum laki-laki. Tak di sebutkan bagaimana sikap batin sang perempuan. Dia hanya menerima untuk dinikahi, dan berlari-lari keliling kampung untuk membuktikan bahwa dia menyerahkan kesucian secara sah, meski untuk lelaki yang tidak dia kenal, jauh lebih tua atau tidak ia sukai, demi kepentingan yang tidak dia mengerti…perang dan dunia para lelaki…
Senada dengan kisah di atas, perihal wanita dalam kebudayaan arab juga muncul dalam The Girls Of Riyadh yang ditulis oleh Rajaa Al Sanea tahun 2005. Dalam lingkup dunia yang lebih modern, kondisi di arab dipaparkan Sanea masih tak jauh berbeda dibanding berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Berupa kumpulan E-mail yang merangkum cerita empat orang gadis Riyadh dalam keseharian dan persoalan perempuan dalam kebudayaannya. Buku ini kritis dengan isinya yang memoar ketakadilan lembaga perkawinan, pembatalan perjodohan oleh pihak laki-laki yang sudah ‘mencicipi’, superioritas laki-laki, perselingkuhan, pergunjingan dan tetek bengek hal mengesalkan akibat sudut pandang budaya pada perempuan yang bagi Senea adalah salah kaprah. Dan bila apa yang di tulis oleh Rajaa Al Sanea benar, maka kebudayaan arab diilustrasikannya sedang jalan di tempat dalam memperlakukan kaum wanita. Seperti yang ia jelaskan lewat puisi Nizar Qabany…
Kebudayaan kita tergelincir dalam Lumpur dan sabun
Masih kita melestarikan warisan Fir’aun dan Abu jahal
Kita masih hidup dalam logika kunci dan gembok
Melipat perempuan dalam gumpalan kapas
Menguburnya dalam pasir
Memilikinya seperti benda
….
Tulisan Sanea tidak hanya memaparkan segala yang didapatinya hanya dengan ungkapan-ungkapan metaforis. Gamblang ia mengemukakan penilaiannya pada kebudayaan dimana dia bersosialisasi. “Pada masyarakatku, perempuan tidak lebih dari sebuah titik ketundukan dan kepasrahan. Para penghuni gardu-gardu keterbatasan. Para penempat ruang-ruang perintah. Berjalan, tersenyum, dan menari, semua sesuai perintah…” ungkap wanita yang berusia 25 tahun saat ia merampungkan bukunya itu. Ironisnya buku yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan laris manis di 25 negara ini, tampaknya di anggap subversif bagi kebudayaannya sendiri. Mungkin karena buku ini dianggap terlalu gamblang memaparkan aib budaya arab, di jazirah arab, buku ini dilarang beredar dan hanya bisa diperoleh di pasar gelap…
Menggugat kakunya ukuran kepatuhan pada adat istiadat dalam ikatan perkawinan, misalnya. Sanea mengemukakan betapa kaum wanita disekitarnya kerap terjebak dalam ikatan pernikahan yang lebih tepat disebut sebagai belenggu. “Bagi mereka perkawinan adalah kematian bagi kebebasan, kreatifitas, dan persahabatan. Perkawinan adalah kesedihan, sesal dan duka cita…”. Berbeda dengan pernikahan versi putri salju dan pengeran yang, happy ever after…menurut Sanea pernikahan adalah bagaimana perempuan pada akhirnya terikat kepatuhan-kepatuhan dalam standar kebudayaannya, dan karena itu hilanglah sang wanita sebagai individu. Menjelma sebagai seorang perempuan yang memendam kesal, dan letih pekerjaan seharian, duduk manis dengan pakaian sesuai selera suami yang selalu bermuka masam..Dalam penilaian Sanea yang belia, katakadilan pun muncul dalam aktivitas keseharian anak muda. “Inilah tradisi kami, laki-laki selalu punya alasan untuk mejeng di depan perempuan, tetapi perempuan tidak mempuanyai hak yang sama…” tulis Sanea tentang hal ini.
Tidak hanya fokus pada beragam hal yang menurutnya merugikan kaum wanita dalam lingkungan kebudayaannya. Ia juga berkontemplasi, dan mempertanyakan relevansi kritiknya pada masyarakat disekitarnya. “Tiba-tiba aku berfikir tentang modernisasi dan efek-efeknya. Mungkin ini konsekuensi logis dan harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan. Tapi benarkah ada korelasi yang jelas antara ideologi materialisme dan perubahan prilaku? Di tengah kultur ketimuran yang mengedepankan kesantunan, apakah modernsasi tetap mampu memberikan akses. Atau terkadang kita sedang menangkap akses dan melepas inti. Kita telah menikmati degradasi. Yang kita puja sebagai perubahan…”...Mungkin terlalu rumit dan melelahkan baginya saat mengkaji secara kritis, bagaimana kebudayaan arab, pengaruh Islam, modernisasi, dan hak-hak perempuan, yang begitu baur dengan keseharian dan kadang absurd.
Merambah ke arah yang lebih dalam. Apa yang diungkapkan Sanea bermuara pada kehendaknya akan perubahan. Ia menginginkan kewajiban dan hak yang lebih setimpal antara kaum laki-laki dan perempuan di negrinya. Sebenarnya pihak yang menghendaki revolusi dan kajian ulang atas taqlid (ketundukan secara buta) dan tradisi yang sakit akan mendapat dukungan lebih banyak dibanding pihak yang merasa menjaga nilai tetapi sebenarnya hanya melakukan pembenaran atas kesalahan-kesalahan…tak sekedar menggugat kaum laki-laki di negrinya, Sanea mempersoalkan aneka aturan budaya yang baginya terlalu feodal dan tidak peka pada hak-hak perempuan. Dan karena itu harus di insyafi dan di revolusi.
Dengan muatan demikian itu, cara penulisannya yang mirip dengan novel modern, menjadikan buku ini tidak terkesan berat dan menarik untuk di baca. Kejujuran pengungkapan Sanea juga memungkinkan pembaca untuk memahami betapa modernisasi (dalam hal ini pengaruh barat) juga berperan membentuk sikap sebagai dasar tulisannya. Sehingga seperti di negara asalnya, baik yang pro konservatif maupun yang pro progresif bisa menyikapi isi buku dengan cara berbeda.
Dalam sisi yang agak romantis, baiknya kita juga melihat dari sudut pandang Senea yang dalam buku tersebut mengutip Socrates…”Seorang laki-laki berkata, “Yang diinginkan laki-laki dari seorang perempuan adalah agar perempuan itu selalu memahaminya,”. Perempuan itu lantas berteriak di muka sang lelaki, “Kebutuhan perempuan dari seorang laki-laki adalah untuk dicintai”…
Dan ingatlah wahai kaum lelaki yang gagah perkasa, bahwasanya Rasulmu…Muhammad SAW, membantu istrinya Aisyah mengerjakan pekerjaan rumah, sebelum Ia mencari nafkah dan menunaikan tugas kerasulannya…