Archive for February, 2008

Ayat-Ayat Cinta

Posted in coret2 on February 28, 2008 by abet handoko

ayat_ayat_cinta_posterpreview.jpg

Semalam saya nonton film yang banyak dibicarakan teman-teman itu. Film yang dibuat berdasarkan novel laris manis karya Habbiburahman El Shirazy, ya tentu saja Ayat-Ayat Cinta.

Beberapa bulan silam, saya membaca novel tersebut. Novel ini menghadirkan semacam ‘apa yang seharusnya’ bagi seorang pria muslim. Cerdas berpendidikan, tangguh, memahami hukum-hukum islam, produktif, bervisi jelas, berbhakti pada keluarga dan lingkungannya, serta dicintai banyak wanita berkualitas. Meski saya juga sedikit menganggap bahwa tokoh utama dalam novel ini semacam ‘James Bond atau Superboy Santri’.

Sensasi yang saya rasa sepanjang membaca novel sampai beberapa saat setelah menyelesaikannya adalah perasaan tiba-tiba ingin jadi seorang santri, belajar sebagai sorang santri, bertingkah laku seperti santri, dan yang terpenting adalah otokritik saya pada kualitas iman saya sebagai seorang muslim. Sedikit anekdotal saat saya terbawa dan berandai-andai, bagaimana bila sayalah orangnya yang kuliah di Mesir lantas punya dua orang istri yang dua-duanya bukan produk dalam negri itu. Saya yakin aspek percintaan novel ini membuat pembaca mereview asmaragamanya Ruhwi apa tidak. Karena itu, Terlepas dari perbincangan seputar novel sebagai terbitan yang best seller diikuti gembar-gembor pembuatan filmnya. Saya jauh-jauh hari sudah berharap novel itu di filmkan. Saya menilai novel itu dengan 4 setengah bintang dalam skala 5 bintang.

Yang menarik dari pembuatan sebuah film berdasarkan sebuah novel adalah adanya potensi untuk membandingkan. Novel sebagai karya tulis-cetak, akan berhadapan dengan karya film yang audio-visual. Ayat-ayat cinta dalam versi tulisan yang di baca, dan Ayat-ayat cinta yang hadir lewat adegan-adegan akting, dialog dan iringan musik latar.

Meski imajinasi pembaca atau penonton berperan dalam keduanya. Ayat-Ayat Cinta yang disuguhkan dengan media novel, jelas berbeda dengan versi Filmya. Saya percaya bahwa media merupakan pesan itu sendiri, media yang berbeda menghadirkan citra tersendiri yang mempengaruhi keseluruhan pesan. Sehingga tidak bisa di lakukan perbandingan langsung diantara keduanya, kecuali pada cantus firmus atau benang merah atas novel yang menginspirasi versi Film.

Yang saya tangkap dari novel ini adalah bagaimana memahami diri dalam standar keikhlasan dan kesabaran, serta bagaimana memahami kualitas diri dan kualitas iman yang baik. Keteguhan para tokoh atas hal-hal itu berafiliasi dengan konsep cinta dalam novel tersebut. Bukan cinta dalan visi sempit, melainkan cinta dalam visi yang universal. Cinta yang membuat manusia selalu berada pada kondisi idealnya. Cinta yang pada akhirnya melahirkan segala kebaikan. Cinta seperti cinta dalam kalimat, “dimana ada cinta disana ada kehidupan,”.

Dan karena visi kesabaran, keikhlasan dan iman itu diungkap dalam ranah muslim-Islam, maka lahir pula pesan bahwa esensi dari islam dan muslim adalah cinta dalam pengertian universal itu.. Cinta dalam kesadaran takut berbuat dosa, dan takut akan hal-hal yang dapat menjadi akibat dari berbuat dosa itu. Cinta yang menjadi bagian dalam konsep rahmatan lil alamin

Benang merah itu mampu diungkap dalam versi film dengan sangat baik. Bila saya boleh mengeluh, saya akan mengeluhkan musik latarnya, yang bagi saya kurang megah. Juga para pemain figuran yang saya kira ‘kurang Mesir’. Termasuk juga beberapa adegan yang seolah-olah ‘Pesan Sponsor’. Namun bagaimanapun film ini saya ponten 8 dalam skala 10 atau 3,33 dalam skala 4.

Semoga film-film dalam negri semakin berkualitas dari waktu ke waktu…

The Sontoloyo…

Posted in puisi on February 19, 2008 by abet handoko

 

dog1.jpg

Anjing menyalak tanda beringas sampai ke semak. Wahai kau yang berwajah kusut masai. Pertontonan ketidakpuasan bukanlah isu besar yang demikian luasnya merampas ranah kenyamanan alam mimpi itu. Tidak juga megalomania risau yang selalu kau persalahkan sampai kesalahan pun menolakmu. Dan Aku akan berhenti bilang “HUH” pada kau. Wahai kau yang berwajah kusut masai. Aku akan berhenti bilang,”HUH”. Bila sekali lagi kau persoalkan apa yang kau jumpai dilayar televisi, pertontonan aneka ketidakpuasan itu, atau sekali lagi kau bilang kenyamanan alam mimpi itu sudah di rampas. Aku sudah enggan tuk sekedar menemuimu.

Lihatlah, tengoklah…bidadari yang menghijau klorofil daun-daun itu dah melepaskan busananya satu-satu, satu-satu sampai telanjang merentangkan birahi selangkang sampai berkibar panji-panji perburuan baru. Maka kau, wahai kau yang berwajah kusut masai…kau lah yang akan diburunya. Dibenamkannya kau dalam lumpur-lumpur pengharapan di kesenyapan rawa-rawa. Diluluhkannya kau sang logam keras di tanur api maha gejolak, cairlah kau bagai air seni nan masam, bagai curah segala limbah drainase kota-kota.

Dan bila malam membungkus dingin kamar, saat siaran radio sedang bosan-bosannya didengarkan. bayangan kau akan berdampingan dengan poster buram Ho Chi Minh yang seolah sedang berkata, “Dalam airmata, kutulis puisi penjara,”. Lantas nyata, Kau tak akan bisa mengimbanginya meski kau ada disisinya. Kau hanya akan menjelma, menjadi semacam orang tua, yang duduk menatap kosong karena pikun di kursi goyang tua, atau membaca sebuah buku tua dengan ejaan lama. Diantara ilustrasi lagu pop para orang tua.

Cobalah tuk jatuh cinta sekali saja. Pelajarilah bahasa lain dari bahasa perang yang ada. Semangat akan tetap menyala tanpa api yang tak memilih membakar apa saja. Pertempuran akan terus berlangsung tanpa dosa sejarah dan bodohnya segala penyesalan dan koreksi-koreksi yang datang kikuk lagi terlambat. Bila kau enggan, maka enyahlah kau…

Wahai kau…Rerumputan, perdu dan tunas pohon sudah kembali ditumbuhkan. Waktu kau masih saja berdiri, merasai pohon-pohon tua yang terbakar dan hampir bertumbangan itu. Wahai kau yang berwajah kusut masai. Lama dan tlah lalu, cerita itu masin, mungkin basi busuk, berbelatung pula. Buat apa takut-takut mengumpat dirimu sendiri yang dimasa lalu terluka parah dan salah. Mulailah jujur, lantang berkata lantas meludah, ludahilah dirimu sendiri…

Beowulf : Ketika Kejayaan adalah Kutukan

Posted in resensi with tags on February 1, 2008 by abet handoko

beowulf_ver1_poster.jpg

Judul Film: Beowulf Produksi: Paramount Picture 2007 Sutradara: Robert Zemeckis Cast:Ray Winstone, Anthony Hopkins, John Malkovich, Robin Wright Penn, Brendan Gleeson, Crispin Hellion Glover, Alison Lohman, dan Angelina Jolie. Rilis : november 2007 (layar lebar), 26 februari 2008 (DVD dan HD DVD)

The man like you, could own greatest tale ever sang, your story will life on, when everything now alive, is dust…”.

Apakah yang akan terkenang selamanya itu? kebaikan kah? Atau sebaliknya?. Apa yang akan menjadi cerita atas dia yang meneriakkan namanya dengan lantang ditegah pertarungan melawan monster laut. Lelaki bangsa Gaets yang tanpa takut, tangan kosong, sekaligus tanpa busana membunuh Grendel, monster berwajah ganjil carut marut. Mahluk bangsa ‘buto ijo’ tanpa kelamin yang menjadikan negri Denmark meringkuk ngeri, menghindari riuh pesta.

Ksatria Beowulf tegas berkata, “if we die… that’s would be for glory not for gold’, saat prajurit Hrotgart dengan sinis mencemooh bahwa keberaniannya hanya demi hadiah emas belaka. Dia kemudian menjadi seorang raja perkasa, digjaya dan berkuasa hingga hari tuanya. Tapi dia pun pada akhirnya terbaring lemah terluka, sekarat dengan salah satu lengan putus. Lantas mati di sisi sahabatnya, Wiglaf, di tepian laut luas berombak sepi. Setelah pertarungan hidup mati, melawan monster naga…anaknya sendiri…

Dengan perkasa Beowulf memang membunuh Grendel. Namun keperkasaan itu harus dibuktikannya pula dengan menghadapi Grendel Mother’s yang datang mengacau negri setelah kematian anaknya. Disanalah Beowulf mendapati siapa sebenarnya dirinya. Ia harus menghadapi Grendel Mother’s yang tak bisa ia kalahkan dengan Hrunting, pedang pusaka yang dihadiahkan seorang ksatria penjilat bernama Unferd. Grendel Mother’s mampu merasuki ego sang ksatria. “ I know that underneath your glamour, you as much a monsters, like my son Grendel…”, Grendel Mother’s menunjukkan siapa sesungguhnya Beowulf. Tak ada pertarungan sengit antara monster dan ksatria, setelah Grendel Mother membisikkan buai janjinya, “As long as you hold me in your heart’s and this golden horn remains in my dwelling, you forever be king, forever strong, mighty and all powerfull, this is I promise…this is I swear…”

Dan pertarungan bukan lagi adu kekuatan fisik dan kedigjayaan lahir. Dengan menjanjikan kekuasaan tanpa cela, Grendels Mother menarik Beowulf pada pertarungan batin lewat permintaan dan syarat sederhana…”You took my son from me…so give me a son…, stay with me…love me…”. Beowulf sang perkasa pun tunduk pada kecantikan dan tubuh molek Grendel Mother’s. Seperti saat ia tunduk pada kemolekan monster laut yang menariknya kededasaran samudra. Bentuk ketundukan yang menjadi rahasia, dan selamanya mencelai keperkasaan dengan kebohongan akannya.

Seperti halnya Hrotgar, yang memberikan tahta kepadanya, Beowulf adalah sosok ksatria perkasa yang kemudian tunduk pada hawa nafsu dan segala kelemahan didalamnya. Sebuah epic ironis yang menggambarkan bagaimana kelemahan dalam hawa nafsu itu memang membuahkan kekuasaan. Namun itu harus dibayar dengan keperkasaan hakiki yang ia serahkan pada kehendak demonis monster. Hingga datanglah sesal dan pengingkaran diri sepanjang sisa hidup. Hampa adanya segala glamoritas raja dengan pertempuran-pertempuran yang dimenangkan, kekuasaan, kemewahan, abdi setia, ratu dan selir yang muda dan cantik…

Epic Beowulf adalah metafora bagaimana kekuatan dan keberanian yang merupakan cikal bakal kekuasaan, akan selalu teruji oleh hawa nafsu dan kebohongan. Bahwasanya seorang ksatria yang mampu menebaskan pedangnya tanpa ragu, atau menantang musuh-musuhnya tanpa takut, belum tentu mampu menghadapi hawa nafsu dan kebohongannya sendiri. Dan sang ksatria akhirnya menipu diri akibat hawa nafsu dan kebohongan yang tak mampu ditebasnya dengan pedang.

Hikayat sang Beowulf menyampaikan pesan bahwa kekuasaan dan kedigjayaan yang diperoleh dengan hawa nafsu dan kebohongan akhirnya membawa kedigjayaan serba kosong dan hampa. Kedigjayaan tanpa kepuasan, karena eksistensi dalam kekuasaan itu telah melampaui pengharapan dan sampai pada kondisi tanpa harapan. Tak ada lagi perang tanding, tak ada lagi pertempuran, tak ada lagi keperkasaan sejati.

Tinggalah eksistensi serba kosong, nihil, abskonditus, dan absurd. Tinggalah kekuasaan kedigjayaan mayat hidup. Dan itu hanya berakhir dengan kematian setelah pertarungan dengan Monster Naga. Mahluk mengerikan, buah ketakmampuannya melawan hawa nafsu pada Grendel Mother’s dan janji-janjinya. Kekuasaan dan keperkasaan pun berakhir setelah pertarungan dengan anaknya yang datang mengacau kedamaian negri dan kekuasaannya. Anak yang memang pasti datang dan harus ia bunuh.

Dan nyatalah bahwa kekuasaan dan kedigjayaan yang sempurna hanya ada di tangan Tuhan…saat kekuasaan dan kedigjayaan semacam itu ada di tangan manusia, ia akan menjelma sebagai kutukan…

Film ini adalah adaptasi dari epic inggris berupa puisi yang tak diketahui siapa penulisnya. Diperkirakan merupakan karya sastra jaman Anglo Saxon antara abad 8 sampai abad 11. Mulai diputar di layar lebar akhir tahun lalu, dan 26 februari tahun ini akan diliris dalam bentuk DVD dan HD DVD. Di rilis dalam bentuk film animasi oleh Paramount Picture. Tokoh dalam film ini menggunakan sosok dan suara dari Ray Winstone, Anthony Hopkins, John Malkovich, Robin Wright Penn, Brendan Gleeson, Crispin Hellion Glover, Alison Lohman, dan Angelina Jolie.