Semalam saya nonton film yang banyak dibicarakan teman-teman itu. Film yang dibuat berdasarkan novel laris manis karya Habbiburahman El Shirazy, ya tentu saja Ayat-Ayat Cinta.
Beberapa bulan silam, saya membaca novel tersebut. Novel ini menghadirkan semacam ‘apa yang seharusnya’ bagi seorang pria muslim. Cerdas berpendidikan, tangguh, memahami hukum-hukum islam, produktif, bervisi jelas, berbhakti pada keluarga dan lingkungannya, serta dicintai banyak wanita berkualitas. Meski saya juga sedikit menganggap bahwa tokoh utama dalam novel ini semacam ‘James Bond atau Superboy Santri’.
Sensasi yang saya rasa sepanjang membaca novel sampai beberapa saat setelah menyelesaikannya adalah perasaan tiba-tiba ingin jadi seorang santri, belajar sebagai sorang santri, bertingkah laku seperti santri, dan yang terpenting adalah otokritik saya pada kualitas iman saya sebagai seorang muslim. Sedikit anekdotal saat saya terbawa dan berandai-andai, bagaimana bila sayalah orangnya yang kuliah di Mesir lantas punya dua orang istri yang dua-duanya bukan produk dalam negri itu. Saya yakin aspek percintaan novel ini membuat pembaca mereview asmaragamanya Ruhwi apa tidak. Karena itu, Terlepas dari perbincangan seputar novel sebagai terbitan yang best seller diikuti gembar-gembor pembuatan filmnya. Saya jauh-jauh hari sudah berharap novel itu di filmkan. Saya menilai novel itu dengan 4 setengah bintang dalam skala 5 bintang.
Yang menarik dari pembuatan sebuah film berdasarkan sebuah novel adalah adanya potensi untuk membandingkan. Novel sebagai karya tulis-cetak, akan berhadapan dengan karya film yang audio-visual. Ayat-ayat cinta dalam versi tulisan yang di baca, dan Ayat-ayat cinta yang hadir lewat adegan-adegan akting, dialog dan iringan musik latar.
Meski imajinasi pembaca atau penonton berperan dalam keduanya. Ayat-Ayat Cinta yang disuguhkan dengan media novel, jelas berbeda dengan versi Filmya. Saya percaya bahwa media merupakan pesan itu sendiri, media yang berbeda menghadirkan citra tersendiri yang mempengaruhi keseluruhan pesan. Sehingga tidak bisa di lakukan perbandingan langsung diantara keduanya, kecuali pada cantus firmus atau benang merah atas novel yang menginspirasi versi Film.
Yang saya tangkap dari novel ini adalah bagaimana memahami diri dalam standar keikhlasan dan kesabaran, serta bagaimana memahami kualitas diri dan kualitas iman yang baik. Keteguhan para tokoh atas hal-hal itu berafiliasi dengan konsep cinta dalam novel tersebut. Bukan cinta dalan visi sempit, melainkan cinta dalam visi yang universal. Cinta yang membuat manusia selalu berada pada kondisi idealnya. Cinta yang pada akhirnya melahirkan segala kebaikan. Cinta seperti cinta dalam kalimat, “dimana ada cinta disana ada kehidupan,”.
Dan karena visi kesabaran, keikhlasan dan iman itu diungkap dalam ranah muslim-Islam, maka lahir pula pesan bahwa esensi dari islam dan muslim adalah cinta dalam pengertian universal itu.. Cinta dalam kesadaran takut berbuat dosa, dan takut akan hal-hal yang dapat menjadi akibat dari berbuat dosa itu. Cinta yang menjadi bagian dalam konsep rahmatan lil alamin
Benang merah itu mampu diungkap dalam versi film dengan sangat baik. Bila saya boleh mengeluh, saya akan mengeluhkan musik latarnya, yang bagi saya kurang megah. Juga para pemain figuran yang saya kira ‘kurang Mesir’. Termasuk juga beberapa adegan yang seolah-olah ‘Pesan Sponsor’. Namun bagaimanapun film ini saya ponten 8 dalam skala 10 atau 3,33 dalam skala 4.
Semoga film-film dalam negri semakin berkualitas dari waktu ke waktu…


