Archive for March, 2008

Kebon Nanas-Jelambar PP

Posted in coret2 on March 11, 2008 by abet handoko

 

“…Allah hu akbar, Allah Maha Besar

Ku memujamu di Setiap waktu

Hanyalah padaMu tempat kubersimpuh

memohon ridho dan ampunanMu…”

Sudah pukul 2 lewat. Hari panas, setiap orang tentu mengharapkan suasana terasa lebih teduh. Seolah itu lugas tersampaikan lewat mimik wajah-wajah itu. Wajah orang-orang yang menjinjing nasib masing-masing. Kondektur-kondektur bis kota, penumpang bis, salesman, mahasiswa, tukang es puter, orang gila di pinggir got dan aku. Dalam suasana itu, sepiring gado-gado dan teh botol dingin sudah cukup jadi safari. Jalanan yang padatnya lagi memuncak seperti menemukan versi lainnya pada jejalan aneka bungkus rokok-bungkus mi instant di kantong plastik penjual mi rebus itu. Hari yang sendu sudutkan aku, aku yang dijejalkan juga disana.

Cukup beruntung aku punya pekerjaan. Yang siang ini membawa aku ke gedung besar itu. Berbincang dengan guru besar yang sederhana. Membincangkan masa depan dan budi pekerti, merasai kembali optimisme ditimbunan realita yang payah. Menjamah masa lalu dan harapan-harapan tua yang enggan uzur. mendengar pendapat sang guru bahwa bahasa dan pemahaman padanya bisa menghantarkan seorang muda kemana saja. Berseloroh tentang pekerjaan yang harus dicintai. Merasakan kehidupan. Sungguh berarti sebuah identitas, hingga aku dikenali, diterima dan mengalami perjumpaan ini.

Keluar dari gedung itu, aku kembali dibekali harapan dan suri teladan. Aku yakin penuh harap, sampai seolah mendengar setiap kata hati mereka. Orang-orang dikeramaian itu, mereka seolah menggaungkan suara dalam lafal-lafal doa. Perubahan, perkembangan, kemajuan, pemerataan, kesejahteraan, cita-cita, dan masa depan cerah. Sukses, kata pendeknya.

Setelah menanyakan sedikit hal pada seorang kawan, aku harus meninggalkan tempat ini. Bis itu sudah datang, pakai ongkos 3 ribu dia akan antarkan aku pulang. Dalam bis, semua orang enggan berbincang, hanya deru mesin dan pekik kondektur meneriakkan nama tempat atau jalan. Satu-satu penumpang turun, ada pula yang naik.

Dan dia, dengan okulele ditangannya. Juga ibunya yang mengendong adik laki-lakinya. Tiba-tiba ada diantara kami. Berbincang soal seseorang, yang mereka sebut mirip bapak, entah siapa.Sebelum jelas, bahwa mereka ada di bis ini untuk menyanyikan lagu itu. Lagu yang menjadikan kebangkitan religiusitas dan cambuk komersialisasi, ambigu jadi satu.

Tangan kecilnya memainkan okulele itu. Ibu yang menggendong adik balitanya lah yang menyanyi. Suaranya lantang dan nyaring. Aku lantas teringat malam peringatan hari kartini di kampungku. Saat ibu-ibu menyanyikan berbagai lagu dengan kebaya aneka warna. Tapi tak seperti bayanganku akan perayaan hari kartini dan masa kecil dikampung, melodi lagu yang dinyanyikan sang ibu sedikit terganggu tangis balita yang digendongnya. Sementara para penjual asongan hilir mudik, mengusik konsentrasi sikecil memainkan okulele, menampilkan kebolehan bermusiknya.

Sebelum sebuah pemberhentian mereka sudah menyelesaikan 3 lagu. Dan dia, dengan kantong itu menghampiri setiap kursi. Demi uang yang entah imbalan dari lagu-lagu yang dinyanyikan, atau sekedar belas kasihan dari mereka yang masih punya iba. Beratus , atau beribu mereka di kota ini. Silih berganti saling menyanyi. Menyuarakan setiap lagu, mendulang uang sukarela, bertungkus-lumus dalam hari-hari yang berat.

Diluar sana, berbagai kendaraan melintas ligat dalam kemudi para sopir yang tangkas. Kendaraan pribadi lebih banyak dari kendaraan umum. Dan jumlah penumpang dalam kendaraan-kendaraan pribadi itu lebih sedikit dari kami yang berjejal dalam bus. Setiap orang nyata terpisah dalam kotak-kotak itu. Dan aku mendapati perbedaan. Aku menemui kesenjangan yang setiap hari dipahami. Sesuatu yang semakin membosankan untuk diungkapkan. Satu titik kecil yang menginsyafkan soal sejauh mana kita sudah sampai. Sejauh mana harapan-harapan itu mampu dipegang teguh hingga tak tercerai berai. Sejauh mana keyakinan bahwa setiap usaha akan sampai. Semua yang pada saat begini ku anggap naïf.

Pada lagu pertama yang mereka nyanyikan aku berpadu. Demikian tingginya makna sebuah keadilan, hingga tak langsung aku bisa memahaminya. Dan sekali lagi, tanpa menggurui, kehidupan mengajarkan tentang sesuatu yang teramat luhur dan berharga nilainya. Rasa syukur. Penerimaan.

Hanya padaMu aku menyembah dan hanya kepadaMu aku memohon pertolongan…