Sabtu kemarin saya diajak seorang teman ke Pasar Baru. Ada acara kumpul-kumpul, sesama teman. Membincangkan perihal hobi dan pekerjaan. Saya merasa ajakan kawan saya itu biasa-biasa saja. Dan seperti yang saya perkirakan, acara itu memang berlalu biasa-biasa saja. Yang istimewa justru sepanjang perjalanan kesana. Di bis yang membawa kami dari Tangerang ke Harmoni, seorang laki-laki naik, ia lantas mulai bicara. Mulanya, selintas seperti ceramah motivasi. Saya kira laki-laki ini akan ceramah, meniru-niru Tung Desem Waringin atau Ustadz Jefri, tapi lama kelamaan ia jadi meracau.
Berikut kira-kira yang disampaikan laki-laki itu :
“Selamat siang saudara-saudara, kakak-kakak sekalian. Saya hadir dengan sebuah pesan bahwa perjalanan adalah sebuah filter kehidupan. Saya disini ingin mengingatkan anda perihal mitra kerja karir ilahi kehidupan anda. Kita adalah astronot dengan diploma yang bisa melahirkan apa saja. Layaknya seperti sebongkah emas yang ada di gunung krakatau yang ada di daerah sukabumi pada musim semi. Atau seorang ilmuwan yang menemukan permata seberat 150 kilogram, dan emas di puncak monas seberat 330 kilogram. Ingat bapak-bapak, sudah ada yang mengendarai pesawat boing 737 dan pesawat mandala serta pesawat ulang alik canggih ditambah satelit dengan seri 5632, mengudara di atas antaraiksa kita. Dengan karya layaknya seorang purnawirawan yang penuh kharisma memberikan nasehat-nasehat di Jakarta, sekeras batu sehitam debu…Jakarta bapak-bapak, Jakarta ibu-ibu, Jakarta kakak-kakak…orang minta tolong malah digebukin, coba…gara-gara cuma ngerokok doang gua digamparin, akhirnya gak betah dirumah…kasian mamah papah yang ngarepin anaknya bisa berkarir, gak taunya boong doang…masa??katanya orang kaya?kok Tanya harga??, aduuuuhh disini bingung disana bingung, akhirnya cuma bikin bingung semua orang…gak ada abisnya, setiap hari makan lagi, tidur lagi, pergi lagi, kesono lagi…kesini lagi….ampuuuuunn, ampuuuunn…jangan kakak, jangan bapak,… mana ada semuanya orang Indonesia, gak taunya orang amerika…boong itu…boong he he he he…coba perhatiin planet-planet, dimana mars, dimana Jupiter, saturnus, gak ada sodara-sodara…gak taunya kita di mars…he he he he…sungguh berarti makna kemerdekaan, bapak bapak, kakak-kakak, ibu-ibu, sampai setiap senin kita upacara…(laki-laki itu terus meracau, sepanjang jalan tol, sampai akhirnya dia menutup ‘khotbah’ dengan kata berikut ) ….bapak-bapak, kakak-kakak, ibu-ibu…saya harapkan partisipasinya aktif, apalah artinya demi sebungkus nasi dan sebatang rokok…”
sepanjang perjalanan, saya dihinggapi risih dan bosan gara-gara laki-laki itu. Tapi, dari laki-laki itu juga saya mendapati bahasa sebagai sebuah rahasia yang menjabarkan begitu banyak kemungkinan. Dalam runtut dan gabungan antar kata, ataupun ketidak sinambungan antar kata dengan kata yang lainnya, ada sisi lain yang saya dapati. Seperti potongan-potongan memori yang tersimpan. Seperti kutipan dari masa lalu yang tak ada catatannya. Seperti menyikapi dan menganalisa sebuah persoalan, entah mulai dari mana…
Saya mendapati, meskipun kacau dan nyaris tak jelas kemana arahnya, tetap saja kata-kata laki-laki itu mengundang reaksi penumpang bis yang mendengarkannya. Ada yang tersenyum, mengernyitkan dahi, menatap aneh, atau tampak bosan. Sedikit yang sama sekali tidak peduli.
Bahasa yang disampaikan laki-laki itu memujudkan sesuatu dalam citra bunyi. Sampai melaluinya, bahasa sesuai kaidah atu tidak, punya ruang makna tersendiri. Meski bahasa itu hadir dengan gaya orang gila, tanpa pola dan pesan nyata, pencerapan padanya tetap ada. Ideal atau tidak, bahasa mampu menarik reaksi. Dengan maksud atau tanpa maksud, bahasa adalah citra yang niscaya memberikan pemaknaan. Apapun itu…
Saya jadi ingat sebuah kata-kata, …beda orang jenius dan orang gila hanya pada tingkat kesuksesannya….