Archive for April, 2008

Bahasa Tumor

Posted in coret2 on April 29, 2008 by abet handoko

Sabtu kemarin saya diajak seorang teman ke Pasar Baru. Ada acara kumpul-kumpul, sesama teman. Membincangkan perihal hobi dan pekerjaan. Saya merasa ajakan kawan saya itu biasa-biasa saja. Dan seperti yang saya perkirakan, acara itu memang berlalu biasa-biasa saja. Yang istimewa justru sepanjang perjalanan kesana. Di bis yang membawa kami dari Tangerang ke Harmoni, seorang laki-laki naik, ia lantas mulai bicara. Mulanya, selintas seperti ceramah motivasi. Saya kira laki-laki ini akan ceramah, meniru-niru Tung Desem Waringin atau Ustadz Jefri, tapi lama kelamaan ia jadi meracau.

Berikut kira-kira yang disampaikan laki-laki itu :

“Selamat siang saudara-saudara, kakak-kakak sekalian. Saya hadir dengan sebuah pesan bahwa perjalanan adalah sebuah filter kehidupan. Saya disini ingin mengingatkan anda perihal mitra kerja karir ilahi  kehidupan anda. Kita adalah astronot dengan diploma yang bisa melahirkan apa saja. Layaknya seperti sebongkah emas yang ada di gunung krakatau yang ada di daerah sukabumi pada musim semi. Atau seorang ilmuwan yang menemukan permata seberat 150 kilogram, dan emas di puncak monas seberat 330 kilogram. Ingat bapak-bapak, sudah ada yang mengendarai pesawat boing 737 dan pesawat mandala serta pesawat ulang alik canggih ditambah satelit dengan seri 5632, mengudara di atas antaraiksa kita. Dengan karya layaknya seorang purnawirawan yang penuh kharisma memberikan nasehat-nasehat di Jakarta, sekeras batu sehitam debu…Jakarta bapak-bapak, Jakarta ibu-ibu, Jakarta kakak-kakak…orang minta tolong malah digebukin, coba…gara-gara cuma ngerokok doang gua digamparin, akhirnya gak betah dirumah…kasian mamah papah yang ngarepin anaknya bisa berkarir, gak taunya boong doang…masa??katanya orang kaya?kok Tanya harga??, aduuuuhh disini bingung disana bingung, akhirnya cuma bikin bingung semua orang…gak ada abisnya, setiap hari makan lagi, tidur lagi, pergi lagi, kesono lagi…kesini lagi….ampuuuuunn, ampuuuunn…jangan kakak, jangan bapak,… mana ada semuanya orang Indonesia, gak taunya orang amerika…boong itu…boong he he he he…coba perhatiin planet-planet, dimana mars, dimana Jupiter, saturnus, gak ada sodara-sodara…gak taunya kita di mars…he he he he…sungguh berarti makna kemerdekaan, bapak bapak, kakak-kakak, ibu-ibu, sampai setiap senin kita upacara…(laki-laki itu terus meracau, sepanjang jalan tol, sampai akhirnya dia menutup ‘khotbah’ dengan kata berikut ) ….bapak-bapak, kakak-kakak, ibu-ibu…saya harapkan partisipasinya aktif, apalah artinya demi sebungkus nasi dan sebatang rokok…”

sepanjang perjalanan, saya dihinggapi risih dan bosan gara-gara laki-laki itu. Tapi, dari laki-laki itu juga saya mendapati bahasa sebagai sebuah rahasia yang menjabarkan begitu banyak kemungkinan. Dalam runtut dan gabungan antar kata, ataupun ketidak sinambungan antar kata dengan kata yang lainnya, ada sisi lain yang saya dapati. Seperti potongan-potongan memori yang tersimpan. Seperti kutipan dari masa lalu yang tak ada catatannya. Seperti menyikapi dan menganalisa sebuah persoalan, entah mulai dari mana…

Saya mendapati, meskipun kacau dan nyaris tak jelas kemana arahnya, tetap saja kata-kata laki-laki itu mengundang reaksi penumpang bis yang mendengarkannya. Ada yang tersenyum, mengernyitkan dahi, menatap aneh, atau tampak bosan. Sedikit yang sama sekali tidak peduli.

Bahasa yang disampaikan laki-laki itu memujudkan sesuatu dalam citra bunyi. Sampai melaluinya, bahasa sesuai kaidah atu tidak, punya ruang makna tersendiri. Meski bahasa itu hadir dengan gaya orang gila, tanpa pola dan pesan nyata, pencerapan padanya tetap ada. Ideal atau tidak, bahasa mampu menarik reaksi. Dengan maksud atau tanpa maksud, bahasa adalah citra yang niscaya memberikan pemaknaan. Apapun itu…

Saya jadi ingat sebuah kata-kata, …beda orang jenius dan orang gila hanya pada tingkat kesuksesannya….

MISDI

Posted in coret2 on April 21, 2008 by abet handoko

Bila saya berkesempatan pulang kampung, tikungan jalan itu membuat saya megingat masa-masa SMA. Dulu disana ada batang kelapa tumbang. Tempat itu jadi semacam bace camp buat saya dan teman-teman sekampung . saya ingat, kami selalu membelakangi serumpun pohon pisang dan sebatang pohon mengkudu. Sekarang, di tempat itu berdiri sebuah rumah tipe 37, lengkap dengan tembok bata. Ditikungan itu, dulu saya suka berbincang-bincang dengan kawan-kawan sampai larut malam. Kebiasaan itu berlangsung sampai saya lulus SMA. Karena telah terbiasa, bila saya keluar rumah tanpa permisi, Ibu saya tahu saya ada dimana.

Kawan-kawan dengan kebiasaan baik dan kebiasaan buruk semua baur berada disana. Ada yang merencanakan kegiatan remaja masjid, ada juga yang sekedar merokok dan minum tuak. Kami merasa nyaman berada disana, pandangan kami langsung ke sawah yang luas. Sesekali, kerlip lampu kendaraan dalam gelap, jadi ornamen dari jalan di seberang area persawahan. Sambil menatap kejauhan kami obrolkan apa saja. Soal sekolah, cita-cita, cinta monyet atau hal-hal yang dilakukan anak-anak orang kaya dengan mobil atau sepeda motor mereka.

Didekat tempat kami biasa berkumpul itu, ada sebuah gubuk kecil. Hanya seorang yang kami kenal biasa ada digubuk itu. Misdi, yang selalu tampak menyendiri dengan radio tua-nya. Ia, laki-laki bernama Misdi itu, lebih suka duduk sendirian, mendengarkan siaran radio malam dan lagu-lagu dangdut. Sehari-hari Misdi bekerja mengayuh becak, kadangkala dia bekerja sebagai kuli bangunan. Saat itu pembangunan gedung-gedung untuk sarang burung walet sedang marak. Saya sekali ikut Misdi kerja bangunan walet, cuma tahan sehari…nggak kuat. Misdi suka kami ajak tuk bergabung dengan kawan-kawan yang lain, tapi ia selalu menolak sambil tersenyum. Katanya ia lebih suka sendirian mendengarkan siaran radio.

Misdi jauh lebih tua daripada saya dan teman-teman pada umumnya. Tapi kami tak pernah memperlakukan Misdi sebagai layaknya orang yang usianya lebih tua. Diapun tidak pernah merasa ada masalah, saat kami atau anak-anak kecil usia kelas 3-4 SD memanggilnya dengan nama ‘Misdi’ saja. Dia tetap merespon sebisanya, layaknya komunikasi antar warga kampung.

Misdi tidak pernah bersekolah. Dia mengaku kalau dia tidak bisa membaca atau menulis. Yang ia tahu hanya menghitung uang. Kata dia itu cukup, dengan itu dia merasa tidak akan tertipu oleh orang lain. Dari apa yang disampaikan Misdi, saya bisa mengira bagaimana dia. Misdi hanya seorang yang menyingkap rahasia hidup dengan merespon kebutuhan yang ia tahu. Dan kebutuhan itu sepertinya berkisar di sekitar kebutuhan primer saja. Manusia harus makan,berpakaian dan punya tempat tinggal. Untuk itu ia harus bekerja, bekerja menghasilkan uang, dan ia harus tahu bagaimana memanfaatkan uang yang dia punya supaya mencukupi kebutuhannya. Nyaris tak ada merk, kualitas makanan, model rumah atau orientasi lain. Apalagi memikirkan soal ideologi, politik internasional, harga minyak dunia atau macam-macam perkara dalam sistem sosial.

Dia tak peduli kalau pemilik proyek pembangunan sarang walet itu kemudian punya dua buah mobil yang harganya masing-masing 500 juta, hasil dari sarang walet yang dia kerjakan. Bagi dia, sepertinya tidak ada perbedaan antara dia dan si empunya sarang walet. Saya pernah membuka perbincangan ini, saya mau tau sejauh mana dia memandang kebutuhan dan konsep kepemilikan.

Misdi bisa menghitung, harga dua unit mobil milik si bos itu adalah 1 milyar. Dengan upah kerja 25 ribu sehari, dalam setahun atau 365 hari dia menghitung bisa mengumpulkan 9.125. 000, lantas dengan polos dia bilang bahwa dia perlu kerja 100 tahun buat mengumpulkan 1 milyar itu. Dia hanya tertawa, tampaknya perhitungan itu hanya membuat dia geli. Setelah itu tidak ada pembahasan lain. Misdi hanya memaparkan konsep hidup yang sederhana. Kesadaran soal ‘nrimo’ yang menyamankannya. Kesadaran tulus yang diharamkan keserakahan dari pengetahuan dan kekuasaan yang lebih besar. Misdi tak bisa memahami atau mengkritisi bahwa ia mungkin sedang dikibuli kesadaran itu. Mungkin dia memang serasa di surga dengan segala keterbatasan pengetahuan dan kekuasaannya.

Bulan lalu saya pulang kampung. Saya menemui Misdi yang masih enjoy dengan radio tua-nya. Saat berita politik dan ekonomi mengudara, radio itu dia matikan. Dan mengajak saya berbincang tentang aneka jajanan pasar kegemarannya, grontol, gatot, cenil dan gethuk. kemudian dia bertanya soal kota dan apa saja persamaannya dengan cerita sinetron yang kadang ia tonton di rumah pak RW. Model perbincangan yang tidak pernah berubah, sejak saya mengenal Misdi.

Hampir 2 tahun saya kerja di kota ini. Orang-orang sibuk dengan visi sell and buy. Disekitarnya segala kemewahan dan mimpi pada kemewahan tingkat lanjut bak lingkaran setan. Saya menyaksikan bagaimana orang-orang berpacu dengan kebutuhan-kebutuhan (atau keinginan??) yang nyaris tak ada batasnya. Diantara mereka saya berada, menyaksikan dengan takjub dan asing. Sambil terkenang Misdi dan radio tua-nya.

Tanggamus Grunge

Posted in puisi on April 14, 2008 by abet handoko

Alang-alang merintang, setapak meliuk melintasi bukit.

Kujajaki langkah tuk menuju hamparan, dimana kuberharap ada kau , sedang sendiri. Menenggak air mentah yang kau tampung di botol-botol plastik. Sebagai kau yang bintang malam, dengan sunging teka-teki, yang sinar matanya pelangi.

Ah..Harapanku kutimang-timang sejak petang tadi, waktu di sebuah warung kujumpai ibu yang menanyakan kelupas, di sepatu kulitku.

Pada mereka. Pohon-pohon sonokeling atau cemara. Di perlintasan itu kubalurkan cengkrama tentang julangnya, yang menghitami gelap jam 8 malam jelang purnama. Sembari aku gumamkan grunge, demi daun-daunnya yang bersuara datar, dipulas angin dari tenggara.

Ya, lagu-lagu adalah teman…aku sendiri di jalan kecil ini.

Dan aku harus sudahi keluh. Sebentar lagi kan lebih terjal dari ini. Deru angin pun pasti terasa lebih menakutkan. Tapi itu bukan soalku, karena aku kan segera sampai di bekas pohon yang ditumbangkan. Tuk duduk menghayati lembah dan gelap di sana, di bawah biru langit meruang.. Aku bisa menyalakan perapian, sendirian. Sementara buku-buku tetap kubiarkan mengembun dalam tas yang kemarin hampir aku bakar. Aku bebas.

Hoopla…inilah keceriaan yang dijanjikan mimpi-mimpi kecil dalam kotak korek apiku. Aku dah sampai. Kembali memulai harapan. Karena Kau belum juga ada disana.

Duh, dingin yang kurindu sejak pekan lalu. Dingin merupa ungu dalam lukisan imajiku. Aku mungkin sedang berlari, meninggalkan gaduh yang tak mungkin aku musuhi. Demi malam disini. Dan tatap mataku pada kejauhan, besok pagi.