Koreksi

Koreksi. Sesuatu yang menjadi kelanjutan dari apa apa saja yang pernah kita lakukan. Koreksi menunjukkan sikap tak pernah puas pada sesuatu, sekaligus aksi yang menyatakan betapa tak yakinnya kita pada apa yang sudah selesai dilakukan. Dengan koreksi pula, sebuah nalar aktif dan waras menunjukkan eksistensinya. Bukan hanya pada kegiatan dan laku, koreksi juga kadang melanda perasaan, keyakinan, kepercayaan,cinta,benci,patriotisme atau ragam emosi dalam benak. Mungkin koreksi adalah keniscayaan yang ada pada setiap homo sapiens yang beradab.

“Sekali berarti sudah itu mati” kata chairil Anwar. Betapa sulitnya. Dalam hidup yang hanya sekali, banyak orang tak pernah sungguh-sungguh yakin pada apa yang sudah dilakukannya. Yang terjadi adalah proses menilai, menimbang, mereview, koreksi…tak ada hal yang sungguh bisa benar-benar selesai dengan sekali keputusan. Ada kaitan past,present dan future yang terus selalu berkaitan. Dalam hubungannya, apa yang benar sekarang, yakin sekarang, cinta sekarang, mantap sekarang…belum tentu esok hari. Menimbang kepuasaan akan sesuatu yang tidak pernah final dan ada ukuran pastinya, manusia dengan sendirinya peragu,skeptis dan tak pernah benar-benar sampai pada substansi dari apa yang ia tentukan, putusakan atau ia pilih.

Banyak orang yang melakukan sesuatu dengan sangat yakin dan pasti dalam konteks kekinian. Namun saat kekinian ini sudah menjadi masa lalu, melalui tahap uji dalam rentang waktu,apa yang diyakininya itu bisa jadi adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan.

Orang kerap merasa melakukan atau memutuskan sesuatu dengan kesadaran penuh. Ada kepastian menanggung segala akibat dari segala yang ditentukannya. Ada antisipasi mantap. Tapi belum tentu jika itu kembali direview di masa depan. Orang hanya loyal kepada kebutuhannya, dan cendrung tidak loyal pada konteks, kondisi atau ruang dan waktu yang terus berubah.

Lantas apakah kebenaran dan keyakinan itu. Jika masa lalu dan masa kini juga masa depan kerap memaksa sehingga menampilkannya dalam wajah berbeda?. Ada resiko yang harus dipenuhi. Dengan kemampuan menanggung segala resiko dari apa yang sudah diputuskan, maka sesuatu yang ditetapkan sampai pada ke-ajegan-nya. Tapi seberapa besar resiko bisa ditanggung…tetap saja ada koreksi-koreksi.

Menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Kamu sesungguhnya sangat sulit untuk sampai pada sebuah kepastian. Sulit untuk memastikan bahwa kamu sekarang melakukan hal yang benar, dan juga akan tetap benar esok hari…tak mudah meng-oposisi diri sendiri yang sedang meyakini sesuatu. Tak mudah menyadari seberapa bodoh diri sendiri saat kondisi kekinian mendukung bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang cerdas dan hebat, masuk akal dan benar, atau apa yang dilakukan itu mudah saja dan bisa diantisipasi…sulit memastikan apa yang terjadi dimasa depan sebab kita hanya melalui masa lalu dan sedang menjalani saat ini…

Nalar, kondisi, kenyataan, situasi, dan konteks akan selalu mengoreksi apa yang telah terjadi…,tantangannya adalah memastikan bahwa kamu melakukan hal yang benar,bukan sebuah kebodohan. Mungkin sesuatu yang fleksibel dalam segala situasi…atau entah apa…

That’s live…

Leave a Reply