Apa jadinya

Destiny…destiny protect me from the world….(Radiohead)

Apa jadinya…. seseorang yang bergelut dengan kehendak akan keutuhan jati diri namun berhadapan dengan absurditas latar belakangnya, katakanlah yang berkaitan dengan perihal ekonomi, lingkungan, dukungan moral , kepercayaan dan sensitifitas diri yang entah benar atau salah. Memoar itu bak mengajak sang takdir yang penuh rahasia tuk angkat bicara dan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Apakah mungkin?

Terlalu banyak hal yang tidak bisa dibicarakan dan dibahas dengan bahasa tutur atau tulis dalam pengingkaran, protes, ketidakpuasan, kritisme atau rasa akan derita yang spesifik dan tersendiri, tak terpermaknai.

Dan saat semua seolah ada penjelasannya, bisa dijelaskan atau masuk akal, hal-hal yang tak terpermaknai itu jadi anak tiri kediriaan. Ada kecurigaan dan ke-takberimbangan dalam logika yang  kemudian jadi serba salah dan tumpul dalam ketajamannya.

Dan kemudian, memahami itu banyak nasihat yang menganjurkan agar seseorang mau dan mampu merasakan untuk kemudian menyimpulkan sendiri apa yang ingin dia lakukan pada apa yang dia rasakan itu. Rasa is emergency door of kebuntuan.

Rasa nggak pernah bohong, demikian jargon iklan kecap kedele bisa di catut. Rasa menjadi unsur paling jujur dan memungkinkan tuk membahas kebuntuan. Rasa bisa  jadi kayu untuk menyogok got-got pikiran, analisa dan kehendak tuk memahami yang sedang mampet. Rasa menjadi hal yang mungkin memungkinkan tuk jadi sesuatu yang terukur dalam menjelaskan apa saja yang tak terpermaknai.

Tapi rasa itu pun jua tinggal dalam sebuah ruang imateri yang kadang dipahami sebagai absruditas. Rasa tidak bisa menjelaskan seberapa ukurannya saat ia ditarik ke ranah yang lebih nyata. Maka hanya tersisa lingkaran, dari kehendak-jati diri-absurditas latar belakang-sensitifitas-takterpermaknai-rasa, dan memutar lagi sampai ke kehendak. Memikirkan itu agar sampai pada konklusi bak menunggu godot.

Mungkin jelas adanya semua itu jika rasa bahagia dan ketenangan sudah jelas ukurannya, sudah pasti keajegannya, tidak mencla-mencle dalam keadaan kemampuan penerimaan mahluk manusia yang serba dinamis.

Ah…masak sih!

Leave a Reply