Pertanyaan
Bahwasanya manusia lahir ke bumi menjunjung nasibnya sendiri-sendiri. Bahwasanya manusia adalah penanggung segala duka-luka pun suka ria dari apa yang dialaminya. Bahwasanya manusia mesti sadar bahwa dia adalah organisme hidup yang terikat dengan apa saja yang ia lakukan, dimana ia berada, dan apa yang ada dalam benak, harapan dan keinginannya.
Bahwasanya dalam semua itu, kadang kala muncul ketaksesuaian-ketaksesuaian. Bahwasanya dalam imannya, manusia harus meyakini bahwa ada Dzat yang berkuasa penuh atasnya. Yang tak hanya menentukan apa saja yang berkaitan dengannya, tapi juga alam semesta yang melingkupi manusia.
Tapi adapula lupa bersamaan dengan ketidaksanggupan untuk percaya, paham dan sadar atas segala bahwasanya itu. Ada kehendak yang meletupkan anti-penerimaan disetiap nestapa yang datang. Seolah manusia mengetahui sepenuhnya apa saja yang terbaik buatnya, dalam kehendaknya manusia menentukan sendiri apa yang dia ingini dan tidak dia ingini.
Tak semua dari kita terlahir sebagai Rasul atau Nabi.
Manusia bisa bertanya,mempertanyakan, mempersoalkan serta mencari jawaban dari apa yang tidak ia sukai. Apa yang ia derita. Tapi bisa pula ia ingkar, saat gairah pada kesenangan dan kesenangan itu sendiri melingkupinya.
Dalam kacamata kesadarannya atau tidak, manusia adalah hedonis-hedonis yang terikat dalam visi pertukaran sosial yang tega, naif, sesuai hukum, masuk akal atau berbagai istilah yang diperkatakan didalamnya.
Karena bukan malaikat, bukan pula setan, manusia membenarkan inkonsistensi dan kecanggungan pada konsekuensi. AKU, kau dan mereka, manusia-manusia itu, kerap kali nihil dalam segala keagungan nilai-nilai yang terbangun dalam keutamaan kemanusiaannya. Kemanusiaan yang berjalan diatas roda nilai-nilai sering mandeg dihalang verbodent keinginan. Verbodent kenyataan yang berlawanan dengan harapan.
Manusia meraih superioritas untuk lepas dari nihilisme dengan logika, ego dan idealismenya. Tapi nilai-nilai penerimaan yang terurai, dipahami dan diajarkan dalam logika manusia yang penuh dan berisi, adalah Nihil itu sendiri.
Manusia memahami dan menerima keadilan jika keadilan itu mewakili takaran kehendaknya. Memahami dan menerima kebenaran jika kebenaran itu disukainya. Manusia menjelmakan dirinya sebagai oportunis-oportunis dibawah paksaan ketaksanggupannya pada derita dan penderitaan.
Saya adalah kesenangan saya. Saya adalah apa yang bisa saya terima, saya adalah keterkabulan harapan dan keinginan saya. Saya adalah kenyataan yang sesuai dengan impian saya.
Menyedihkan.