Begini. Ini cerita yang sebenarnya tak ada unsur baru-baru nya. Sudah biasa dan banyak terulang, malahan dalam berbagai versi. Umum. Intinya, ini cerita soal perasaan cinta mas Jum pada Marmini. Mas Jum yang tidak bisa mengingkari kata hati pada entitas sosok lawan jenis bernama Marmini. Perempuan semangat perburuan hidupnya. Bagi dia sudah final, Marmini adalah chroma, dimensi yang berhubungan dengan cerah atau suramnya perasaan.
Entah kapan Mas Jum mencanangkan itu. Semua seperti spontan pada suatu waktu yang sulit dirunut lagi hari dan tanggal kejadiannya. Tanpa visi “Cinta pada pandangan pertama”, Mas Jum hanya tau, apa yang dia rasakan, rasa-rasanya tak mungkin hilang dan berakhir. Dan dalam visi romantisme optimistis itu, Marmini adalah segala keindahan yang jelas dan nyata. Kebahagiaan yang paling mungkin. Dan dalam keyakinannya adalah patut, perlu, dan akan ia raih. Mantep tho…
Nah, Mas Jum itu terlanjur berkeinginan. Dan keinginan itu terlampau ideal buat hidup yang kenyaataan didalamnya kadang morat-marit berbanding dengan harapan-harapan. Dalam perasaannya, Mas Jum lurus-lurus saja. Sementara Marmini punya standar visi hidup yang tak tergapai, oleh status Mas Jum yang hanya assisten sekretaris desa.
Sebenarnya, apa yang dimiliki Mas Jum tak terlalu buruk juga. Kemampuan dan itikadnya bisa membawa Marmini pada kehidupan rata-rata di desa. Tapi Marmini terlanjur mengimpikan sosok lelaki ideal bagi dia sendiri. Sosok-sosok pria, adopsi bertahap dari film-film lepas, iklan, gambar di majalah, sinetron atau video klip band populer.
Seperti tembang yang dilantunkan Dewi Lestari. Yang petikan syairnya begini: “Namun tak kau lihat, terkadang malaikat, Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan…”. Begitu kira-kira lagu yang mewakili kondisi Mas Jum bagi Marmini.
Marmini punya impian sederhana, lepas dari keterbatasan desa-desa tuk release dalam kemegahan dan fasilitas kota-kota. Tuk dapat hidup dalam versi new wave dari kehidupan ala desanya. Dia ingin hidup di rumah mungil dengan desain bangunan dan interior “simple”. Anak-anak yang kelak lahir lucu, dengan nama dan roman wajah yang kota. Suami yang punya paradigma modern, membawa input-input informasi yang bisa meng-upgrade . Laki-laki yang membanggakan.
Dus, biginilah output buat Mas Jum.
“Maafkan aku mas, cita-citaku masih banyak. Aku tak bisa, aku masih ingin merantau, sambil kuliah kalau bisa. Ini terlalu cepat untukku,” ujar Marmini, disebuah malam, sesaat setelah mas Jum memberanikan diri melamarnya dengan kata-kata lugas dalam senyap yang merayap.
Sehingga, entah untuk apa cincin emas 3 gram 24 karat sesederhana perasaan Mas Jum itu. Lantas keinginan pun berubah jadi tanda Tanya, dan mistikus. Semacam kondisi rasa yang alot dan sulit dipahami. Ganjil, bikin gak enak makan, gak enak tidur.
Meski pengungkapan tak hanya terjadi sekali itu saja, Mas Jum tak kunjung sukses dengan perasaannya. Mas Jum keok oleh impian Marmini yang tak pernah melegakan. Impian yang terus memandunya jauh. Yang membendung itikad dan kesanggupan, cukup sampai pada pengungkapan. Yang nantinya akan menjadi segala jawaban pula.
“Aku hanya punya ini. Perasaanku ini, dan niat tuk bertanggung jawab. Aku bukan siapa-siapa, dan tak bisa melarangmu, gapailah cita-citamu…” kata Mas Jum, sebagai penutup dari segala pengungkapan nan hopeless. Pengungkapan yang menurut Mas Jum cukup gentle dan paling tepat tuk membuktikan betapa dalam cintanya. Meskipun itu bertepuk sebelah tangan, nihil dan tanpa hasil.
Sehingga bagi Mas Jum, hal yang sungguh berarti itu adalah, mengantar Marmini ke stasiun bis antar kota. Memandu Marmini pada tonggak perjalanan menuju apa yang diimpikannya.
Seperti adegan melodrama, saat itu cuaca mendung. Hujan atau gerimis bisa datang setiap saat. Mas Jum membonceng Marmini dengan sepeda motornya. Sepeda motor Alfa II R minim variasi. Meski kecut, dia paksa tuk tampak tenang. Ia berupaya menghayati, mitologi laki-laki kesatria. Yang mencoba melapangkan hati, jiwa dan dimensi rasa cintanya. Menjadi yang menerima dan siap menghadapi.Sejatining Lanang, Sejatining Menungso…
Marmini menenteng tas dan payung bermotif safari. Binar wajahnya serupa itu. Dia siap melupakan sekelumit kisah Mas Jum dan pengharapan padanya. Dia merasa sedang menuju impian.
Bagi mereka, saat-saat itu adalah saat-saat peralihan. Untuk mulai menguntai malam-malam sepi, bagi mas Jum, dan menyambut deru kenyataan dalam pertempuhan, bagi Marmini.
Saat bis kota membawa Marmini pergi, hujan tiba-tiba datang. Dan mas Jum harus pulang, mengendarai sepeda motornya dengan tampilan yang repot. Mengendalikan gas dan rem dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya menegakkan payung bermotif safari itu, agar terlindung dari air hujan.
Ekspektasi bisa menipu.
Di perantauan, Marmini tak mendapat wahana seperti impiannya. Dan dalam hari, bulan dan tahun yang larut, dia menjelma menjadi perempuan lembek yang kebingungan oleh ekspektasi-ekspektasi.
Kota juga penuh laki-laki yang pandai merayu,nggak mikir, modal dengkul dan besar syahwatnya. Tanpa sadar, disana Marmini hanya dipandang sebagai obyek syur. Alih-alih menjemput pangeran kota yang bisa membawanya pada mimpi-mimpi, Marmini malah terbawa dan tersadar dalam kondisi tanpa pilihan.
Marmini digampari kenyataan tanpa ampun. Mimpinya yang manis menjadi celah muslihat itu. Menjadikan dia sesosok perempuan yang mudah dikendalikan, oleh siapa saja yang pandai berpura-pura. Siapa saja yang bisa acting mengerti dia, siapa saja yang bisa menata kesan-kesan. Siapa saja yang seolah-olah unggul dan mempuni tuk membawanya pada sebentuk kehidupan itu. Poor Marmini in wonderland.
Tragisnya, semua itu tak pernah terkabarkan pada Mas Jum yang dalam absuditasnya masih menunggu Marmini. Bagi dia, sepi kan hilang saat pagi datang. Dan menjelang malam, dia hanya perlu bersiap-siap menghadapi bayang-bayang harapan itu. Juga, dalam hari dan tahun yang larut, Mas Jum masih kepayahan memahami kenyataan. Masih terbelenggu cinta dan mimpi yang serba tak bersentuhan dengan kenyataan. Entah untuk apa pada akhirnya. Kasihan.
Sehingga disaat suatu hari Marmini kembali. Perasaan mas Jum hanya terwakilkan lewat Koes Plus. Andaikan kau datang kembali, jawaban apa yang kan kuberi…
