Dari mimpi-mimpi, dimana sebagian kenyataan sudah kalis didalamnya, bayangan-bayangan dengan rupa-rupa warna saling sulam jadi tapestri. Jati diri membaksil kecil, mesti pakai mikroskop diri-diri yang terasing untuk buat dia jadi nampak.
Viktor terpojok duduk di kursi rotan tua. Sorot matanya mengamati hiasan bunga plastik di meja . Tiba-tiba dia bicara,
“Aku letih akibat opini di Koran-koran, soal orang-orang yang jatuh cinta pada kebobrokan, Anak-anak muda gandrung pada konsumerisme, peradaban yang menyandarkan ciri pada kekerasan pun pragmatisme yang miskin cita-cita.,oh my god…”
Kemudian ia bicara lagi.
“Ketahuilah Nikolai, aku juga letih akibat buku cerita yang kau berikan berakhir dengan penutup yang buruk. ….Setelah para ksatria itu berjatuhan , gadis-gadis pun ditelanjangi. Tiap jengkal tubuh itu dituding dan dimaknai. Inilah -itulah. Dan Setelah aneka khotbah, orang-orang sukarela mendaur dosa-dosa. Orang-orang yang tadinya baik, malu-malu bersembunyi di balik kemunafikan. Dipaksa keadaan dan tuntutan entah dari siapa. Baik dan buruk sudah membaur bagai kecap di nasi goreng. Sungguh akhir cerita yang buruk,”
Malas-malas, lawan bicaranya meletakkan remote televisi, menyudahi kegiatan memilih-milih stasiun Tv tanpa tujuan. Lalu ia meminum kopi hangat dari gelas plastic dan bicara,
“Sudahlah, mari kita fokus pada tujuanmu datang kesini. Kamu itu mau apa?,” katanya sambil garuk-garuk dada yang ditutupi kaos dalam cap 777 .
“Sederhana Nikolai, aku mau mengajakmu bicara soal beberapa mimpi-mimpiku akhir-akhir ini. Mimpi-mimpi setelah aku tertidur tanpa makan malam,” sahut dia.
“Baiklah. Ceritakan soal mimpimu Viktor?… Mimpi yang selalu datang setiap kali kau tertidur tanpa makan malam itu,” ujar Lawan bicaranya lagi, kali ini ia sambil membakar sebatang rokok kretek.
“Jadi kamu mau membincangkan ini?,” sahut dia, seolah tak percaya.
“Iya Viktor, lepaskan semuanya. Itu gunanya aku disini, itu pula tujuanmu datang kesini bukan?,curhat soal mimpi-mimpi?,” jawab Nikolai, santai sambil menggerak-gerak kan lidah ke sela-sela gigi.
“Hmmmm,Baiklah. Begini. Satu kali aku bermimpi soal seseorang yang bernama Muhidin. Dia mencuri gerobak Soto dan menjadikan gerobak itu sebagai tank, melawan pasukan semut,”
“Oh ya..Semut apa?,”
“Semut besar, mirip kerangkang, diantara keroto-kerotonya,”
“Hmmm. Lalu mimpi apa lagi?,”
“Aku juga mimpi soal seekor kuda terbang yang melintasi pelangi. Unicorn, dia ditunggangi biduan sariosa- Maria Calas yang memakai gaun model gothic,dan mereka lantas duet… menyanyikan sebuah tembang klasik, soal musim semi yang indah,”
“Lalu?”
“Aku juga mimpi seolah-olah aku sedang berperang, aku jadi serdadu amerika di perang Vietnam kadang-kadang jadi pasukan model romawi. Kurasa mirip-mirip adegan film Platoon atau tri handred,”
“Yang lain lagi?, masih ada?,”
“Ya ya, anu…aku mimpi mengunyah sesuatu dalam gelembung-gelembung, aku tak yakin…tapi intinya memakan sesuatu. Di sebuah bak mandi, diantara padang rumput, disana ada burung kakak tua hinggap di jendela…”
“Yang lain?,”
“Sudah. Tak ada yang lebih jelas lagi, hanya itu yang bisa kuingat detail. Mimpi-mimpi itu terlalu banyak, tak semua aku ingat,”
“Hmmm, baiklah Viktor, ….ehem, terus terang saja, aku kehilangan sensitifitas seorang saudara karena kau mengajak aku bicara hal-hal semacam ini,” laki-laki ini menghela nafas, lalu melanjutkan:
“Tapi baiklah…kita sama-sama tau bahwa mimpi telah menjadi misteri bagi manusia sejak Adam dianugrahi napas kehidupan. Legenda, mitos dan dongeng ikhwal mimpi-mimpi selalu menjadi hal yang menarik buat manusia. Mungkin itu pula sebabnya kenapa kau datang kesini, mengajakku berdiskusi soal mimpi-mimpi mu. eemmmm…dan memang, pada dasarnya kita bisa belajar banyak dari mimpi-mimpi itu, asalkan kita benar-benar mau memahaminya,”
“Memahaminya yang bagaimana itu ya?,”
“Emmmmm…bukankah tidak ada ilmu pasti soal mimpi?, maksudku yang benar-benar pasti, untuk membedah mimpi-mimpi, misalnya seperti fisika dan rumus-rumusnya. Dan kita hanya bisa memacu diri pada tingkat intuisi tertentu, ditambah dengan kepercayaan bahwa logika dan pengetahuan seseorang itu masih ada dan terlibat meskipun ia tengah bermimpi,”
“Oh iya iya..Lalu…?,”
“Ya, menurutku yang harus kita bahas mula-mula adalah, apa harapanmu dari perbincangan soal mimpi-mimpimu ini. Apa motivasimu?,”
“Aku ingin, dari mimpi-mimpiku, kau bicara padaku soal bagaimana orang – orang besar itu memusatkan perhatiannya pada apa yang radikal,”
“Ya, supaya apa?…,”
“Ya…setidaknya mimpi-mimpiku jadi berarti, apalah itu. Karena menurut penilaian subjektif ku, aku sudah radikal dalam mimpi-mimpiku. Aku ingin, pada akhirnya, dalam perbincangan ini kau menghiburku dengan mengatakan bahwa aku adalah orang besar karena mimpi-mimpiku itu,”
“Ya ya, bisa dimengerti. Aku paham Viktor…ehemm, tapi bolehkah aku tau, untuk apa pada akhirnya itu?,”
“Apanya?,”
“Ya perkataanku soal orang besar, radikal, dan apresiasi-apresiasi yang sesuai harapan atas mimpi-mimpimu itu…untuk apa Viktor?,”
“Supaya memotivasi aku. Agar aku tetap konsisten dengan apa yang aku pikirkan, aku katakan dan lakukan dengan mimpi-mimpiku itu, sehingga aku terbantu untuk tetap memastikan itu. Pikiran, kata dan perbuatan yang sama,”
“Kenapa kamu perlu konsisten Bung?,”
“Akhir-akhir ini aku merasa lingkungan kurang memberi apresiasi positip dalam kaitannya dengan mimpi-mimpiku itu. Jadi berdasar pada mimpi-mimpiku, aku takut aku berubah, lantas jadi orang yang tidak seperti yang aku harapkan. Yang besar dan radikal,?”
“Kalau untuk itu, kurasa kau tak perlu aku. Kau cukup membuat dirimu berpikir sehingga dirimu mencapai titik di mana kau bisa mengubah rasionalisasi tentang situasi atau bahkan persepsi pada diri sendiri. Bukankah kau bisa membuat dirimu berpikir bahwa semua yang kamu lakukan masuk akal, setidaknya untukmu,”
“Ya , aku tahu, itu sudah aku coba. Tapi itu menciptakan tekanan eksternal yang signifikan dan menyebabkan aku harus hati-hati dalam menyelaraskan perkataan dan tindakanku,”
“ itu wajar Viktor, Kadang Kita menilai diri kita sendiri dengan cara yang sama seperti kita menilai orang lain. Ketika tindakan kita berbeda dari keyakinan atau nilai-nilai yang kita mau -akibat tuntutan keyakinan dan nilai-nilai lingkungan, kita hanya perlu menjelaskan hal ini kepada diri kita sendiri. Jadi Langkah pertamanya adalah mencari alasan eksternal untuk berbeda,”.
“Aku tak bisa, karena aku konsisten dan radikal, aku mau begini saja,biar gini aza…”
“Iya, tapi kamu harus waras kalau kamu mau selamat di dunia dan akhirat. Waras artinya tidak membuat dirimu terpaksa untuk bertindak ini itu. Kau punya otoritas, kau boleh-boleh saja menyalahkan atau membenarkan perubahan batin. Jika kau ingin menjadi orang seperti yang kau impikan, kau harus bisa membuat dirimu mampu melakukan itu semua secara alami. Tak perlu nilai-nilai dan pemahaman selain yang didalam dirimu. Bukankah hal-hal bombastis seperti itu yang awalnya menjadi keyakinanmu?,”
“Lantas bagaimana soal konsistensi?,”
“Bukankah konsisten untuk tidak konsiten memenuhi syarat-syarat konsistensi juga?,”
“Ha ha ha, kau mulai meracuniku Nikolai?,”
“Terserah, itu pemikiranku buat kamu. Bukan aku yang minta diskusi ini kan?,”
“Ya ya, emmmm…by the way eniwey busway…Bolehkah aku tau kawan?apa yang kau yakini?,”
“Boleh,aku yakin bahwa aku selalu ingin dimanja lingkungan, semua orang mendukung dan menghargai, lantas aku hidup dengan mudah, bisa foya-foya. Namun aku juga mau dianggap positif, terlibat filantropi, sedekah-sedekah. Dan disisi lain aku jadi orang yang selalu punya inisiatif untuk tidak mainstream dan mengubah itu menjadi sesuatu yang mainstream karena orang-orang mendukungku,”
“Apa keyakinan mu itu mungkin?,”
“Berbanding lurus dengan apa yang kau yakini. Aku punya jawban yang sama seperti apa yang ada dihatimu,”
“he he he he, lantas?,”
“Ya sudah, sampai disitu. Aku mau berdamai dengan kenyataan, aku males pusing,”
“Hmmmm….”
Mereka seolah sama-sama memahami sesuatu.Ruangan jadi sepi, mereka tidak saling berbicara lagi. Sama-sama menatap ke tabung TV. Acara sampai pada kuis undian SMS, seorang penyiar cantik bertubuh sintal menyapa pemirsa dengan sepatah dua patah kata. Lalu menyelipkan pesan seponsor dan kemudian memandu acara.
“Langsung saja kita acak pin nya ya?…yak…acak acak acak…terus…acak acak acak…stop!, langsung kita hubungi ya….tutttt…tutttt….yak? dengan siapa dimana?,”
“Dengan Heru di Klaten,”
“Yak, password-nya mas?,”
***
Pondok Miri, Juni 2010