Kebenaran Kekerasan

Apakah? Meskipun seluruh manusia sepakat untuk membagi rata, dunia dengan segala isi didalam nya. Itu tidak akan pernah cukup baginya untuk menciptakan perdamaian. Tuk hidup saling berdampingan, saling memberi dan menerima, tolong menolong, saling asih dan menjaga. Seperti pesan para Nabi?.

Mungkin akan lestari selamanya, manusia saling berebut dan menuntut. Saling berpacu tuk mencapai apa yang dalam wahamnya disebut “sesuai dan memenuhi syarat sebagaimana mestinya”.

Sungguh malang, manusia tidak menyadari bahwa dalam perpacuan itu mereka saling memamerkan jimat-jimat, yang dalam logika dan pemahaman mereka disebut sebagai “kebenaran”. Dan disana, nilai-nilai kebenaran itu ternyata hanyalah apa yang dibutuhkan, disukai, diperlukan yang karena itu menjadi sesuatu yang diyakini. Kebenaran itu begitu dangkal.

Untuk kebenaran semacam itu, apa saja dicomot untuk menjadikannya masuk akal dan patut dijadikan pedoman. Kebenaran semacam itulah yang kerap menjadi acuan menuju apa yang singkatnya bisa disebut kekuasaan. Kekuasaan yang seolah adalah mata air dari kondisi Makmur-Daya-Digjaya. Namun kekuasaan itu pula yang menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, selanjutnya menentukan seperti apa kebenaran, dan seperti apa yang bukan. Itu saling meng-generate dan seolah-olah secara auto, kekuasaan menjelma kebenaran, kebenaran adalah kekuasaan.

Dan Sadar atau tidak, disana manusia tidak pernah berhenti mereferensi pola-pola serupa seperti diterapkan oleh Xerxes atau Fir’aun. Mereka yang dalam nafsu nya pada kekuasaan memposisikan diri sebagai dewa. Dengan cara-cara onani dan memaksa, mengangkat diri menjadi lebih tinggi dari yang lainnya.

Aneh saat semua sepakat bahwa kekuasaan seharusnya berawal dari kebenaran. Namun kebenaran yang menjadi awal itu ternyata bisa dimodifikasi oleh manusia. Dan dalam modifikasi-modifikasi akan kebenaran itu, manusia saling bersinggungan, silang pendapat, saling menyalahkan, menjadi agresif, kompetitif ,berhati batu dan buas.

Dan akhirnya kita tidak pernah benar benar berada dalam kondisi damai. Terus berperang dan bertarung.

Sampai diujung tiap babak pertarungan selalu ada yang kalah dan ada yang menang. Ada yang berjaya ada pula yang pecundang. Ada yang menjadi besar dan agung, adapula yang terlunta-lunta dan hina. Lantas kemenangan membonceng kehendak-kehendak yang melunturkan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri manusia. Sementara kekalahan menyisakan dendam dan pembalasan.

Semua ini menggetarkan optimisme, memaparkan prediksi hampir pasti pada rumusan akhir, bahwasanya sejarah manusia adalah sejarah penindasan. Dimana kekerasan dan penistaan menjadi perulangan dan percik-percik dendam-perlawanan selalu akan menjadi penyusulnya. Dan itu menjadi sebuah rotasi, menjadi mata rantai tersambung tanpa ujung, dari perjalanan panjang peradaban manusia.

Sungguh, manusia tidak memiliki daya dan upaya. Saat diantara manusia-manusia, yang berbeda isi kepala saling memodifikasi kebenaran-kebenaran sesuai prioritas dari apa yang mereka butuhkan, sukai, perlukan dan yakini dalam konteks kekinian. Hingga akan selalu ada poros-poros, kutub-kutub, besar- kecil, mayoritas-minoritas, hitam-putih,timur-barat, serta benar dan salah yang saling menuding diantaranya.

Dan disanalah kekerasan selalu menggejala. Mengabadikan penindasan dan dendam. Dimana manusia-manusia berbaris pada barisan-barisan yang dipilihnya. Lantas saling memamerkan jimat-jimat yang masing-masing menyebut itu sebagai kebenaran. Entah sampai kapan.

Suatu kali Mahatma Gandhi menyatakan bahwa akar Kekerasan adalah Kemakmuran tanpa pekerjaan, Kesenangan tanpa nurani, Pengetahuan tanpa karakter, Perdagangan tanpa moralitas, Ilmu tanpa kemanusiaan, Ibadah tanpa pengorbanan, dan Politik tanpa prinsip.

Namun tanpa membantahnya, kita bisa meneropong lebih dalam, bahwa kekerasan itu berakar dan berada dalam diri manusia. Tersimpan rapi-rapi dalam kotak besi kemunafikan tuk mengakuinya, terkunci ketidakmampuan untuk memperbaiki diri. Kekerasan itu abadi dalam dendam dan penindasan oleh manusia pada manusia. Sepanjang peradabannya, hingga kini.

Namun kita masih berada disini, dimana akhir dari semuanya belumlah sampai. Kita masih berada pada kesempatan dimana kita seharusnya memperbaiki semua.Kita sama-sama tak menghendaki “Bellum omnium contra omnes”, perang oleh semua melawan semua. Tak ada lagi sekutu, tak ada lagi kawan, tak ada lagi saudara.

Sekarang kita masih bisa berpikir baik-baik. Sebelum apa yang kita sebut sebagai kebenaran menjadi mitos dan dongeng-dongeng.

Blok M, Juli 2010

About abet handoko

bluess
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s