Archive for the coret2 Category

Pertanyaan

Posted in coret2 on June 15, 2009 by abet handoko

Bahwasanya manusia lahir ke bumi menjunjung nasibnya sendiri-sendiri. Bahwasanya manusia adalah penanggung segala duka-luka pun suka ria dari apa yang dialaminya. Bahwasanya manusia mesti sadar bahwa dia adalah organisme hidup yang terikat dengan apa saja yang ia lakukan, dimana ia berada, dan apa yang ada dalam benak, harapan dan keinginannya.

Bahwasanya dalam semua itu, kadang kala muncul ketaksesuaian-ketaksesuaian. Bahwasanya dalam imannya, manusia harus meyakini bahwa ada Dzat yang berkuasa penuh atasnya. Yang tak hanya menentukan apa saja yang berkaitan dengannya, tapi juga alam semesta yang melingkupi manusia.

Tapi adapula lupa bersamaan dengan ketidaksanggupan untuk percaya, paham dan sadar atas segala bahwasanya itu. Ada kehendak yang meletupkan anti-penerimaan disetiap nestapa yang datang. Seolah manusia mengetahui sepenuhnya apa saja yang terbaik buatnya, dalam kehendaknya manusia menentukan sendiri apa yang dia ingini dan tidak dia ingini.

Tak semua dari kita terlahir sebagai Rasul atau Nabi.

Manusia bisa bertanya,mempertanyakan, mempersoalkan serta mencari jawaban dari apa yang tidak ia sukai. Apa yang ia derita. Tapi bisa pula ia ingkar, saat gairah pada kesenangan dan kesenangan itu sendiri melingkupinya.

Dalam kacamata kesadarannya atau tidak, manusia adalah hedonis-hedonis yang terikat dalam visi pertukaran sosial yang tega, naif, sesuai hukum, masuk akal atau berbagai istilah yang diperkatakan didalamnya.

Karena bukan malaikat, bukan pula setan, manusia membenarkan inkonsistensi dan kecanggungan pada konsekuensi. AKU, kau dan mereka, manusia-manusia itu, kerap kali nihil dalam segala keagungan nilai-nilai yang terbangun dalam keutamaan kemanusiaannya. Kemanusiaan yang berjalan diatas roda nilai-nilai sering mandeg dihalang verbodent keinginan. Verbodent kenyataan yang berlawanan dengan harapan.

Manusia meraih superioritas untuk lepas dari nihilisme dengan logika, ego dan idealismenya. Tapi nilai-nilai penerimaan yang terurai, dipahami dan diajarkan dalam logika manusia yang penuh dan berisi, adalah Nihil itu sendiri.

Manusia memahami dan menerima keadilan jika keadilan itu mewakili takaran kehendaknya. Memahami dan menerima kebenaran jika kebenaran itu disukainya. Manusia menjelmakan dirinya sebagai oportunis-oportunis dibawah paksaan ketaksanggupannya pada derita dan penderitaan.

Saya adalah kesenangan saya. Saya adalah apa yang bisa saya terima, saya adalah keterkabulan harapan dan keinginan saya. Saya adalah kenyataan yang sesuai dengan impian saya.

Menyedihkan.

Koreksi

Posted in coret2 on February 13, 2009 by abet handoko

Koreksi. Sesuatu yang menjadi kelanjutan dari apa apa saja yang pernah kita lakukan. Koreksi menunjukkan sikap tak pernah puas pada sesuatu, sekaligus aksi yang menyatakan betapa tak yakinnya kita pada apa yang sudah selesai dilakukan. Dengan koreksi pula, sebuah nalar aktif dan waras menunjukkan eksistensinya. Bukan hanya pada kegiatan dan laku, koreksi juga kadang melanda perasaan, keyakinan, kepercayaan,cinta,benci,patriotisme atau ragam emosi dalam benak. Mungkin koreksi adalah keniscayaan yang ada pada setiap homo sapiens yang beradab.

“Sekali berarti sudah itu mati” kata chairil Anwar. Betapa sulitnya. Dalam hidup yang hanya sekali, banyak orang tak pernah sungguh-sungguh yakin pada apa yang sudah dilakukannya. Yang terjadi adalah proses menilai, menimbang, mereview, koreksi…tak ada hal yang sungguh bisa benar-benar selesai dengan sekali keputusan. Ada kaitan past,present dan future yang terus selalu berkaitan. Dalam hubungannya, apa yang benar sekarang, yakin sekarang, cinta sekarang, mantap sekarang…belum tentu esok hari. Menimbang kepuasaan akan sesuatu yang tidak pernah final dan ada ukuran pastinya, manusia dengan sendirinya peragu,skeptis dan tak pernah benar-benar sampai pada substansi dari apa yang ia tentukan, putusakan atau ia pilih.

Banyak orang yang melakukan sesuatu dengan sangat yakin dan pasti dalam konteks kekinian. Namun saat kekinian ini sudah menjadi masa lalu, melalui tahap uji dalam rentang waktu,apa yang diyakininya itu bisa jadi adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan.

Orang kerap merasa melakukan atau memutuskan sesuatu dengan kesadaran penuh. Ada kepastian menanggung segala akibat dari segala yang ditentukannya. Ada antisipasi mantap. Tapi belum tentu jika itu kembali direview di masa depan. Orang hanya loyal kepada kebutuhannya, dan cendrung tidak loyal pada konteks, kondisi atau ruang dan waktu yang terus berubah.

Lantas apakah kebenaran dan keyakinan itu. Jika masa lalu dan masa kini juga masa depan kerap memaksa sehingga menampilkannya dalam wajah berbeda?. Ada resiko yang harus dipenuhi. Dengan kemampuan menanggung segala resiko dari apa yang sudah diputuskan, maka sesuatu yang ditetapkan sampai pada ke-ajegan-nya. Tapi seberapa besar resiko bisa ditanggung…tetap saja ada koreksi-koreksi.

Menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Kamu sesungguhnya sangat sulit untuk sampai pada sebuah kepastian. Sulit untuk memastikan bahwa kamu sekarang melakukan hal yang benar, dan juga akan tetap benar esok hari…tak mudah meng-oposisi diri sendiri yang sedang meyakini sesuatu. Tak mudah menyadari seberapa bodoh diri sendiri saat kondisi kekinian mendukung bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang cerdas dan hebat, masuk akal dan benar, atau apa yang dilakukan itu mudah saja dan bisa diantisipasi…sulit memastikan apa yang terjadi dimasa depan sebab kita hanya melalui masa lalu dan sedang menjalani saat ini…

Nalar, kondisi, kenyataan, situasi, dan konteks akan selalu mengoreksi apa yang telah terjadi…,tantangannya adalah memastikan bahwa kamu melakukan hal yang benar,bukan sebuah kebodohan. Mungkin sesuatu yang fleksibel dalam segala situasi…atau entah apa…

That’s live…

Bahasa Tumor

Posted in coret2 on April 29, 2008 by abet handoko

Sabtu kemarin saya diajak seorang teman ke Pasar Baru. Ada acara kumpul-kumpul, sesama teman. Membincangkan perihal hobi dan pekerjaan. Saya merasa ajakan kawan saya itu biasa-biasa saja. Dan seperti yang saya perkirakan, acara itu memang berlalu biasa-biasa saja. Yang istimewa justru sepanjang perjalanan kesana. Di bis yang membawa kami dari Tangerang ke Harmoni, seorang laki-laki naik, ia lantas mulai bicara. Mulanya, selintas seperti ceramah motivasi. Saya kira laki-laki ini akan ceramah, meniru-niru Tung Desem Waringin atau Ustadz Jefri, tapi lama kelamaan ia jadi meracau.

Berikut kira-kira yang disampaikan laki-laki itu :

“Selamat siang saudara-saudara, kakak-kakak sekalian. Saya hadir dengan sebuah pesan bahwa perjalanan adalah sebuah filter kehidupan. Saya disini ingin mengingatkan anda perihal mitra kerja karir ilahi  kehidupan anda. Kita adalah astronot dengan diploma yang bisa melahirkan apa saja. Layaknya seperti sebongkah emas yang ada di gunung krakatau yang ada di daerah sukabumi pada musim semi. Atau seorang ilmuwan yang menemukan permata seberat 150 kilogram, dan emas di puncak monas seberat 330 kilogram. Ingat bapak-bapak, sudah ada yang mengendarai pesawat boing 737 dan pesawat mandala serta pesawat ulang alik canggih ditambah satelit dengan seri 5632, mengudara di atas antaraiksa kita. Dengan karya layaknya seorang purnawirawan yang penuh kharisma memberikan nasehat-nasehat di Jakarta, sekeras batu sehitam debu…Jakarta bapak-bapak, Jakarta ibu-ibu, Jakarta kakak-kakak…orang minta tolong malah digebukin, coba…gara-gara cuma ngerokok doang gua digamparin, akhirnya gak betah dirumah…kasian mamah papah yang ngarepin anaknya bisa berkarir, gak taunya boong doang…masa??katanya orang kaya?kok Tanya harga??, aduuuuhh disini bingung disana bingung, akhirnya cuma bikin bingung semua orang…gak ada abisnya, setiap hari makan lagi, tidur lagi, pergi lagi, kesono lagi…kesini lagi….ampuuuuunn, ampuuuunn…jangan kakak, jangan bapak,… mana ada semuanya orang Indonesia, gak taunya orang amerika…boong itu…boong he he he he…coba perhatiin planet-planet, dimana mars, dimana Jupiter, saturnus, gak ada sodara-sodara…gak taunya kita di mars…he he he he…sungguh berarti makna kemerdekaan, bapak bapak, kakak-kakak, ibu-ibu, sampai setiap senin kita upacara…(laki-laki itu terus meracau, sepanjang jalan tol, sampai akhirnya dia menutup ‘khotbah’ dengan kata berikut ) ….bapak-bapak, kakak-kakak, ibu-ibu…saya harapkan partisipasinya aktif, apalah artinya demi sebungkus nasi dan sebatang rokok…”

sepanjang perjalanan, saya dihinggapi risih dan bosan gara-gara laki-laki itu. Tapi, dari laki-laki itu juga saya mendapati bahasa sebagai sebuah rahasia yang menjabarkan begitu banyak kemungkinan. Dalam runtut dan gabungan antar kata, ataupun ketidak sinambungan antar kata dengan kata yang lainnya, ada sisi lain yang saya dapati. Seperti potongan-potongan memori yang tersimpan. Seperti kutipan dari masa lalu yang tak ada catatannya. Seperti menyikapi dan menganalisa sebuah persoalan, entah mulai dari mana…

Saya mendapati, meskipun kacau dan nyaris tak jelas kemana arahnya, tetap saja kata-kata laki-laki itu mengundang reaksi penumpang bis yang mendengarkannya. Ada yang tersenyum, mengernyitkan dahi, menatap aneh, atau tampak bosan. Sedikit yang sama sekali tidak peduli.

Bahasa yang disampaikan laki-laki itu memujudkan sesuatu dalam citra bunyi. Sampai melaluinya, bahasa sesuai kaidah atu tidak, punya ruang makna tersendiri. Meski bahasa itu hadir dengan gaya orang gila, tanpa pola dan pesan nyata, pencerapan padanya tetap ada. Ideal atau tidak, bahasa mampu menarik reaksi. Dengan maksud atau tanpa maksud, bahasa adalah citra yang niscaya memberikan pemaknaan. Apapun itu…

Saya jadi ingat sebuah kata-kata, …beda orang jenius dan orang gila hanya pada tingkat kesuksesannya….