Archive for the puisi Category

Malam

Posted in puisi on June 16, 2009 by abet handoko

Malam kebiruan, kususur lembah dan kolong-kolong sementara hari mengirisi waktu

Harapan digenggamku mengerang seperti pekik perempuan pagi setengah mabuk seminggu lalu. Ah, malam kebiruan…jalanku menikungi rembulan.

Kukenangkan dendam dan sesal dalam-dalam, waktu masihlah kan menyantunkan kemungkinan-kemungkinan….saat ini aku hanya butuh berdiam.

Ini cuma mabuk masa silam.

Ah jalan lurus hitam, malam kebiruan…sedang memburu kah aku, berselimut lengang sepi gelap begini. Siapa aku adukan, siapa aku sampaikan, siapa segala ini aku tandaskan…

Kucari prasangka lain agar saat menjadi lain. Duh, aku terlanjur membuaikan harap kepada mimpi. Aku terlanjur kehilangan sajak, sejak lama hari kubagi…ah kehidupan, beginikah rupanya kau jujurkan. Tah rasa apa aku kecapkan….

Dan aku larut, masih tak takut

Bukan lain, selalu saja pertanyaan tersuratkan….malam kebiruan, malam kebiruan.

Tanggamus Grunge

Posted in puisi on April 14, 2008 by abet handoko

Alang-alang merintang, setapak meliuk melintasi bukit.

Kujajaki langkah tuk menuju hamparan, dimana kuberharap ada kau , sedang sendiri. Menenggak air mentah yang kau tampung di botol-botol plastik. Sebagai kau yang bintang malam, dengan sunging teka-teki, yang sinar matanya pelangi.

Ah..Harapanku kutimang-timang sejak petang tadi, waktu di sebuah warung kujumpai ibu yang menanyakan kelupas, di sepatu kulitku.

Pada mereka. Pohon-pohon sonokeling atau cemara. Di perlintasan itu kubalurkan cengkrama tentang julangnya, yang menghitami gelap jam 8 malam jelang purnama. Sembari aku gumamkan grunge, demi daun-daunnya yang bersuara datar, dipulas angin dari tenggara.

Ya, lagu-lagu adalah teman…aku sendiri di jalan kecil ini.

Dan aku harus sudahi keluh. Sebentar lagi kan lebih terjal dari ini. Deru angin pun pasti terasa lebih menakutkan. Tapi itu bukan soalku, karena aku kan segera sampai di bekas pohon yang ditumbangkan. Tuk duduk menghayati lembah dan gelap di sana, di bawah biru langit meruang.. Aku bisa menyalakan perapian, sendirian. Sementara buku-buku tetap kubiarkan mengembun dalam tas yang kemarin hampir aku bakar. Aku bebas.

Hoopla…inilah keceriaan yang dijanjikan mimpi-mimpi kecil dalam kotak korek apiku. Aku dah sampai. Kembali memulai harapan. Karena Kau belum juga ada disana.

Duh, dingin yang kurindu sejak pekan lalu. Dingin merupa ungu dalam lukisan imajiku. Aku mungkin sedang berlari, meninggalkan gaduh yang tak mungkin aku musuhi. Demi malam disini. Dan tatap mataku pada kejauhan, besok pagi.

The Sontoloyo…

Posted in puisi on February 19, 2008 by abet handoko

 

dog1.jpg

Anjing menyalak tanda beringas sampai ke semak. Wahai kau yang berwajah kusut masai. Pertontonan ketidakpuasan bukanlah isu besar yang demikian luasnya merampas ranah kenyamanan alam mimpi itu. Tidak juga megalomania risau yang selalu kau persalahkan sampai kesalahan pun menolakmu. Dan Aku akan berhenti bilang “HUH” pada kau. Wahai kau yang berwajah kusut masai. Aku akan berhenti bilang,”HUH”. Bila sekali lagi kau persoalkan apa yang kau jumpai dilayar televisi, pertontonan aneka ketidakpuasan itu, atau sekali lagi kau bilang kenyamanan alam mimpi itu sudah di rampas. Aku sudah enggan tuk sekedar menemuimu.

Lihatlah, tengoklah…bidadari yang menghijau klorofil daun-daun itu dah melepaskan busananya satu-satu, satu-satu sampai telanjang merentangkan birahi selangkang sampai berkibar panji-panji perburuan baru. Maka kau, wahai kau yang berwajah kusut masai…kau lah yang akan diburunya. Dibenamkannya kau dalam lumpur-lumpur pengharapan di kesenyapan rawa-rawa. Diluluhkannya kau sang logam keras di tanur api maha gejolak, cairlah kau bagai air seni nan masam, bagai curah segala limbah drainase kota-kota.

Dan bila malam membungkus dingin kamar, saat siaran radio sedang bosan-bosannya didengarkan. bayangan kau akan berdampingan dengan poster buram Ho Chi Minh yang seolah sedang berkata, “Dalam airmata, kutulis puisi penjara,”. Lantas nyata, Kau tak akan bisa mengimbanginya meski kau ada disisinya. Kau hanya akan menjelma, menjadi semacam orang tua, yang duduk menatap kosong karena pikun di kursi goyang tua, atau membaca sebuah buku tua dengan ejaan lama. Diantara ilustrasi lagu pop para orang tua.

Cobalah tuk jatuh cinta sekali saja. Pelajarilah bahasa lain dari bahasa perang yang ada. Semangat akan tetap menyala tanpa api yang tak memilih membakar apa saja. Pertempuran akan terus berlangsung tanpa dosa sejarah dan bodohnya segala penyesalan dan koreksi-koreksi yang datang kikuk lagi terlambat. Bila kau enggan, maka enyahlah kau…

Wahai kau…Rerumputan, perdu dan tunas pohon sudah kembali ditumbuhkan. Waktu kau masih saja berdiri, merasai pohon-pohon tua yang terbakar dan hampir bertumbangan itu. Wahai kau yang berwajah kusut masai. Lama dan tlah lalu, cerita itu masin, mungkin basi busuk, berbelatung pula. Buat apa takut-takut mengumpat dirimu sendiri yang dimasa lalu terluka parah dan salah. Mulailah jujur, lantang berkata lantas meludah, ludahilah dirimu sendiri…