
Anjing menyalak tanda beringas sampai ke semak. Wahai kau yang berwajah kusut masai. Pertontonan ketidakpuasan bukanlah isu besar yang demikian luasnya merampas ranah kenyamanan alam mimpi itu. Tidak juga megalomania risau yang selalu kau persalahkan sampai kesalahan pun menolakmu. Dan Aku akan berhenti bilang “HUH” pada kau. Wahai kau yang berwajah kusut masai. Aku akan berhenti bilang,”HUH”. Bila sekali lagi kau persoalkan apa yang kau jumpai dilayar televisi, pertontonan aneka ketidakpuasan itu, atau sekali lagi kau bilang kenyamanan alam mimpi itu sudah di rampas. Aku sudah enggan tuk sekedar menemuimu.
Lihatlah, tengoklah…bidadari yang menghijau klorofil daun-daun itu dah melepaskan busananya satu-satu, satu-satu sampai telanjang merentangkan birahi selangkang sampai berkibar panji-panji perburuan baru. Maka kau, wahai kau yang berwajah kusut masai…kau lah yang akan diburunya. Dibenamkannya kau dalam lumpur-lumpur pengharapan di kesenyapan rawa-rawa. Diluluhkannya kau sang logam keras di tanur api maha gejolak, cairlah kau bagai air seni nan masam, bagai curah segala limbah drainase kota-kota.
Dan bila malam membungkus dingin kamar, saat siaran radio sedang bosan-bosannya didengarkan. bayangan kau akan berdampingan dengan poster buram Ho Chi Minh yang seolah sedang berkata, “Dalam airmata, kutulis puisi penjara,”. Lantas nyata, Kau tak akan bisa mengimbanginya meski kau ada disisinya. Kau hanya akan menjelma, menjadi semacam orang tua, yang duduk menatap kosong karena pikun di kursi goyang tua, atau membaca sebuah buku tua dengan ejaan lama. Diantara ilustrasi lagu pop para orang tua.
Cobalah tuk jatuh cinta sekali saja. Pelajarilah bahasa lain dari bahasa perang yang ada. Semangat akan tetap menyala tanpa api yang tak memilih membakar apa saja. Pertempuran akan terus berlangsung tanpa dosa sejarah dan bodohnya segala penyesalan dan koreksi-koreksi yang datang kikuk lagi terlambat. Bila kau enggan, maka enyahlah kau…
Wahai kau…Rerumputan, perdu dan tunas pohon sudah kembali ditumbuhkan. Waktu kau masih saja berdiri, merasai pohon-pohon tua yang terbakar dan hampir bertumbangan itu. Wahai kau yang berwajah kusut masai. Lama dan tlah lalu, cerita itu masin, mungkin basi busuk, berbelatung pula. Buat apa takut-takut mengumpat dirimu sendiri yang dimasa lalu terluka parah dan salah. Mulailah jujur, lantang berkata lantas meludah, ludahilah dirimu sendiri…