Archive for the Uncategorized Category

Apa jadinya

Posted in Uncategorized on June 15, 2009 by abet handoko

Destiny…destiny protect me from the world….(Radiohead)

Apa jadinya…. seseorang yang bergelut dengan kehendak akan keutuhan jati diri namun berhadapan dengan absurditas latar belakangnya, katakanlah yang berkaitan dengan perihal ekonomi, lingkungan, dukungan moral , kepercayaan dan sensitifitas diri yang entah benar atau salah. Memoar itu bak mengajak sang takdir yang penuh rahasia tuk angkat bicara dan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Apakah mungkin?

Terlalu banyak hal yang tidak bisa dibicarakan dan dibahas dengan bahasa tutur atau tulis dalam pengingkaran, protes, ketidakpuasan, kritisme atau rasa akan derita yang spesifik dan tersendiri, tak terpermaknai.

Dan saat semua seolah ada penjelasannya, bisa dijelaskan atau masuk akal, hal-hal yang tak terpermaknai itu jadi anak tiri kediriaan. Ada kecurigaan dan ke-takberimbangan dalam logika yang  kemudian jadi serba salah dan tumpul dalam ketajamannya.

Dan kemudian, memahami itu banyak nasihat yang menganjurkan agar seseorang mau dan mampu merasakan untuk kemudian menyimpulkan sendiri apa yang ingin dia lakukan pada apa yang dia rasakan itu. Rasa is emergency door of kebuntuan.

Rasa nggak pernah bohong, demikian jargon iklan kecap kedele bisa di catut. Rasa menjadi unsur paling jujur dan memungkinkan tuk membahas kebuntuan. Rasa bisa  jadi kayu untuk menyogok got-got pikiran, analisa dan kehendak tuk memahami yang sedang mampet. Rasa menjadi hal yang mungkin memungkinkan tuk jadi sesuatu yang terukur dalam menjelaskan apa saja yang tak terpermaknai.

Tapi rasa itu pun jua tinggal dalam sebuah ruang imateri yang kadang dipahami sebagai absruditas. Rasa tidak bisa menjelaskan seberapa ukurannya saat ia ditarik ke ranah yang lebih nyata. Maka hanya tersisa lingkaran, dari kehendak-jati diri-absurditas latar belakang-sensitifitas-takterpermaknai-rasa, dan memutar lagi sampai ke kehendak. Memikirkan itu agar sampai pada konklusi bak menunggu godot.

Mungkin jelas adanya semua itu jika rasa bahagia dan ketenangan sudah jelas ukurannya, sudah pasti keajegannya, tidak mencla-mencle dalam keadaan kemampuan penerimaan mahluk manusia yang serba dinamis.

Ah…masak sih!

Narsis Politik

Posted in Uncategorized on February 22, 2009 by abet handoko

“Pecundang, pemabuk, alkoholik, busuk, sampah, asusila, kutu busuk, pengkhianat, infeksi, pneumonia, diare, muntah darah, kencing, usus busuk, arthritis, ganggren, cacat mental, tidak becus bikin kalimat, lebih baik mati saja.” ( Kata-kata yang ditulis oleh Kurt Cobain pada sebuah poster Led Zeppelin -Heavier Than Heaven hal.99_Charles R Cross)


Manusia pada dasarnya selalu menginginkan seluruh keinginannya terwujud, sedetil-detilnya. Manusia juga sadar dia tidak sendiri, ada keinginan-keinginan orang lain yang akan menghalanginya. Karena itu manusia berpolitik. Sepintas tak ada yang salah dalam kondisi itu.


Tapi apa hendak dikata, manusia menempatkan politik dalam sebuah visi yang terlalu ideal, Politik sebagai cara mengelola dan mengatur negara dengan baik dan benar, konon itu demi tercapainya sesuatu yang baik dan benar juga. Kenyataannya tak begitu. Di negara ini.


Bagaimana mengatur negara dengan baik dan benar absrud oleh kepentingan-kepentingan yang jauh dari visi ideal politik. Dalam praktiknya, politik cenderung nampak sebagai ajang kompetisi menuju kekuasaan dimana segala cara boleh dipakai. Kadang agak norak dengan intrik, dramatisasi, fitnah, aksi tidak peduli dan saling menyalahkan.


Politik menjadi sarana pemenuhan kepentingan pribadi dan golongan. Jangan bicara kepentingan bersama.


Dan betapa sedihnya, kondisi diatas sudah menjadi kebiasaan. Seolah memang seperti itulah cara dan adab yang diajarkan nenek moyang. Alhasil, demi kepentingan-kepentingan, manusia terpenjara dalam sel omong kosong, bucai-bucai. Aneka spanduk dan poster sampah visual. Surga janji belum tentu ditepati. Formalitas palsu berpantas-pantas.


Menggiring orang ramai serupa itik dengan cadar ideologi, demokrasi, agama dan tuhan-tuhan. Nekad, searah menuju jabatan politik dan kekuasaan yang seiprit.


Seperti sudah final, sebagai tujuan proses politik itu sendiri. Sekumpulan komprador duduk manis dan dihormati diatas ribuan bahkan jutaan orang yang rela berteriak-teriak, berpeluh dengan kaos seharga dua bungkus rokok. Mengusung panji-panji, seolah kesejahteraan bersama menunggu manis dimuka pintu.


Dan demikianlah wajah politik negeri ini. Semata kompetisi ide-ide yang energinya adalah rasa haus pada kekuasaan. Berakit-rakit saling menjegal, saling memanfaatkan kemudian. Lantas setelah muncul pemenang-pemenang, suara-suara mayoritas, perolehan suara dan seremoni pengukuhannya, tak ada lagi kepastian yang bisa diharapkan. Para pemenang menjelma menjadi para narsis yang seolah sedang berbuat banyak tuk negara ini. Menjadi sekumpulan orator yang sibuk onani. Hasilnya mana?,The songs remains the same….


Sebagian orang tanpa sadar dan lambat laun mengagungkan politik yang demikian sebagai sebuah proses yang keren dan hebat. Malah ada yang bilang itu semacam seni. Padahal, merujuk hasil dari proses yang sudah-sudah, seharusnya setiap orang muntah. Karena masih saja negara ini tergopoh-gopoh menanggung kemiskinan, kebodohan, masalah pendidikan, korupsi. Et cetera…..,sedihnya hal itu kerap bermula dan ulah para juara kancah politik itu.


Dus, politik adalah komoditas. Karena disana ada jabatan politik yang berafiliasi dengan kekuasaan, fasilitas, nama besar dan uang. Makannya hentikanlah omong kosong soal kepentingan masyarakat, wong cilik atau wong edan sekalipun, jika kalian, Para Politisi narsis politik, masih saja menghasilkan kondisi negara yang sama, dan begitu-begitu saja.

 

Seharusnya kalian tau diri melihat orang-orang bergelimpangan ngos-ngosan. Manula yang antri berobat pada dukun anak-anak atau sekedar untuk menerima uang zakat. Mikir saat nyatanya dengan kekuasaan dan jabatan di tangan kalian, masih saja orang miskin digusur rumah dan tempat cari makannya. Malu dalam nama besar dan segala kemudahan atas jabatan politik kalian, saat jutaan orang masih tak tau pasti apa kalian menepati janji atau tidak.


Berhentilah bersandiwara karena melihat kalian, kami seperti mustahil meminta kalian bertanggung jawab. Setidaknya kalian tidak berpura-pura, karena meminta kalian tuk konsisten dengan janji kerap terasa dipaksakan.

Q

Posted in puisi on December 1, 2007 by abet handoko

dia

Datang seperti dalam adegan malam di sebuah bar, slide film hitam putih. Tatap matanya melebihi tajam, pada laki-laki yang seperti sedang terkena disentri. Dan sebuah ruang memanjang terlalu kecil tuk menampung percakapan dalam benak, laki-laki yang kehilangan taji. Misai laki-lakinya tak cukup melukiskannya lelaki. Hanya menduga, percakapan akan baur, sepeti asap rokoknya yang hilang dalam kalis udara.

dia

Adalah kanigara, dua buah bola mata kucing Persia, buku-buku yang dititipkan, jazz lembut café del Mar, lukisan Marilyn Moonroe buatan Andy Warhol, tabla dalam cerita-cerita Bollywood, gantungan kunci dari perak, batu-batu yang berserakan di depan kamar kos, sebungkus mi instant dalam kelaparan tengah malam, anekdot soal hubungan seksual, cerita bersambung di koran harian, cek dengan angka yang berderet panjang, sekelonet misteri baru, mosaik warna warni, berita pembangunan silicon valley di Banglore, pada sosok yang terbiasa dengan berbagai perawatan tubuh.

dia

Sekali-sekali, datang hanya dengan suara waktu matahari merah tua membura. Membangkitkan aku, sang pelasuh dari ranjang tua ketakutan-ketakutan. Dan seperti perjamuan rahasia, entah siapa saja yang tau atau akan peduli. Seperti kakak beradik di tepi jalan raya, mengayuh sepeda meninggalkan keletihan kota. Membincangkan papan-papan reklame yang lusuh. Tak ada lagi yang terbayangkan.

dia

Rupanya sedang melukis. Dengan tinta air mata, sebentuk gambar bening. Orang-orang saat musim penghujan, memetik daun teh. Di isinya separuh kanvas dengan puisi, kata-kata yang hanya bisa dimaknainya. Dari bahasa yang ia cipta, kumpulan segala yang dinamainya. Luka

Perihalnya ini,

Akulah seorang bengah di tepi angan soal bengawan. Lengah mencacah satu per satu parahu kertas yang melintas karena alir kata. Saat kurasa ia sedang menyalakan lilin di taman kecil tempat ia takkan tergilap oleh cahaya-cahaya.

O sinar disekitar bulan, aku berjalan saat percepatanmu melambat, melumat sengat…