“Pecundang, pemabuk, alkoholik, busuk, sampah, asusila, kutu busuk, pengkhianat, infeksi, pneumonia, diare, muntah darah, kencing, usus busuk, arthritis, ganggren, cacat mental, tidak becus bikin kalimat, lebih baik mati saja.” ( Kata-kata yang ditulis oleh Kurt Cobain pada sebuah poster Led Zeppelin -Heavier Than Heaven hal.99_Charles R Cross)
Manusia pada dasarnya selalu menginginkan seluruh keinginannya terwujud, sedetil-detilnya. Manusia juga sadar dia tidak sendiri, ada keinginan-keinginan orang lain yang akan menghalanginya. Karena itu manusia berpolitik. Sepintas tak ada yang salah dalam kondisi itu.
Tapi apa hendak dikata, manusia menempatkan politik dalam sebuah visi yang terlalu ideal, Politik sebagai cara mengelola dan mengatur negara dengan baik dan benar, konon itu demi tercapainya sesuatu yang baik dan benar juga. Kenyataannya tak begitu. Di negara ini.
Bagaimana mengatur negara dengan baik dan benar absrud oleh kepentingan-kepentingan yang jauh dari visi ideal politik. Dalam praktiknya, politik cenderung nampak sebagai ajang kompetisi menuju kekuasaan dimana segala cara boleh dipakai. Kadang agak norak dengan intrik, dramatisasi, fitnah, aksi tidak peduli dan saling menyalahkan.
Politik menjadi sarana pemenuhan kepentingan pribadi dan golongan. Jangan bicara kepentingan bersama.
Dan betapa sedihnya, kondisi diatas sudah menjadi kebiasaan. Seolah memang seperti itulah cara dan adab yang diajarkan nenek moyang. Alhasil, demi kepentingan-kepentingan, manusia terpenjara dalam sel omong kosong, bucai-bucai. Aneka spanduk dan poster sampah visual. Surga janji belum tentu ditepati. Formalitas palsu berpantas-pantas.
Menggiring orang ramai serupa itik dengan cadar ideologi, demokrasi, agama dan tuhan-tuhan. Nekad, searah menuju jabatan politik dan kekuasaan yang seiprit.
Seperti sudah final, sebagai tujuan proses politik itu sendiri. Sekumpulan komprador duduk manis dan dihormati diatas ribuan bahkan jutaan orang yang rela berteriak-teriak, berpeluh dengan kaos seharga dua bungkus rokok. Mengusung panji-panji, seolah kesejahteraan bersama menunggu manis dimuka pintu.
Dan demikianlah wajah politik negeri ini. Semata kompetisi ide-ide yang energinya adalah rasa haus pada kekuasaan. Berakit-rakit saling menjegal, saling memanfaatkan kemudian. Lantas setelah muncul pemenang-pemenang, suara-suara mayoritas, perolehan suara dan seremoni pengukuhannya, tak ada lagi kepastian yang bisa diharapkan. Para pemenang menjelma menjadi para narsis yang seolah sedang berbuat banyak tuk negara ini. Menjadi sekumpulan orator yang sibuk onani. Hasilnya mana?,The songs remains the same….
Sebagian orang tanpa sadar dan lambat laun mengagungkan politik yang demikian sebagai sebuah proses yang keren dan hebat. Malah ada yang bilang itu semacam seni. Padahal, merujuk hasil dari proses yang sudah-sudah, seharusnya setiap orang muntah. Karena masih saja negara ini tergopoh-gopoh menanggung kemiskinan, kebodohan, masalah pendidikan, korupsi. Et cetera…..,sedihnya hal itu kerap bermula dan ulah para juara kancah politik itu.
Dus, politik adalah komoditas. Karena disana ada jabatan politik yang berafiliasi dengan kekuasaan, fasilitas, nama besar dan uang. Makannya hentikanlah omong kosong soal kepentingan masyarakat, wong cilik atau wong edan sekalipun, jika kalian, Para Politisi narsis politik, masih saja menghasilkan kondisi negara yang sama, dan begitu-begitu saja.
Seharusnya kalian tau diri melihat orang-orang bergelimpangan ngos-ngosan. Manula yang antri berobat pada dukun anak-anak atau sekedar untuk menerima uang zakat. Mikir saat nyatanya dengan kekuasaan dan jabatan di tangan kalian, masih saja orang miskin digusur rumah dan tempat cari makannya. Malu dalam nama besar dan segala kemudahan atas jabatan politik kalian, saat jutaan orang masih tak tau pasti apa kalian menepati janji atau tidak.
Berhentilah bersandiwara karena melihat kalian, kami seperti mustahil meminta kalian bertanggung jawab. Setidaknya kalian tidak berpura-pura, karena meminta kalian tuk konsisten dengan janji kerap terasa dipaksakan.