Narsis Politik

Posted in Uncategorized on February 22, 2009 by abet handoko

“Pecundang, pemabuk, alkoholik, busuk, sampah, asusila, kutu busuk, pengkhianat, infeksi, pneumonia, diare, muntah darah, kencing, usus busuk, arthritis, ganggren, cacat mental, tidak becus bikin kalimat, lebih baik mati saja.” ( Kata-kata yang ditulis oleh Kurt Cobain pada sebuah poster Led Zeppelin -Heavier Than Heaven hal.99_Charles R Cross)


Manusia pada dasarnya selalu menginginkan seluruh keinginannya terwujud, sedetil-detilnya. Manusia juga sadar dia tidak sendiri, ada keinginan-keinginan orang lain yang akan menghalanginya. Karena itu manusia berpolitik. Sepintas tak ada yang salah dalam kondisi itu.


Tapi apa hendak dikata, manusia menempatkan politik dalam sebuah visi yang terlalu ideal, Politik sebagai cara mengelola dan mengatur negara dengan baik dan benar, konon itu demi tercapainya sesuatu yang baik dan benar juga. Kenyataannya tak begitu. Di negara ini.


Bagaimana mengatur negara dengan baik dan benar absrud oleh kepentingan-kepentingan yang jauh dari visi ideal politik. Dalam praktiknya, politik cenderung nampak sebagai ajang kompetisi menuju kekuasaan dimana segala cara boleh dipakai. Kadang agak norak dengan intrik, dramatisasi, fitnah, aksi tidak peduli dan saling menyalahkan.


Politik menjadi sarana pemenuhan kepentingan pribadi dan golongan. Jangan bicara kepentingan bersama.


Dan betapa sedihnya, kondisi diatas sudah menjadi kebiasaan. Seolah memang seperti itulah cara dan adab yang diajarkan nenek moyang. Alhasil, demi kepentingan-kepentingan, manusia terpenjara dalam sel omong kosong, bucai-bucai. Aneka spanduk dan poster sampah visual. Surga janji belum tentu ditepati. Formalitas palsu berpantas-pantas.


Menggiring orang ramai serupa itik dengan cadar ideologi, demokrasi, agama dan tuhan-tuhan. Nekad, searah menuju jabatan politik dan kekuasaan yang seiprit.


Seperti sudah final, sebagai tujuan proses politik itu sendiri. Sekumpulan komprador duduk manis dan dihormati diatas ribuan bahkan jutaan orang yang rela berteriak-teriak, berpeluh dengan kaos seharga dua bungkus rokok. Mengusung panji-panji, seolah kesejahteraan bersama menunggu manis dimuka pintu.


Dan demikianlah wajah politik negeri ini. Semata kompetisi ide-ide yang energinya adalah rasa haus pada kekuasaan. Berakit-rakit saling menjegal, saling memanfaatkan kemudian. Lantas setelah muncul pemenang-pemenang, suara-suara mayoritas, perolehan suara dan seremoni pengukuhannya, tak ada lagi kepastian yang bisa diharapkan. Para pemenang menjelma menjadi para narsis yang seolah sedang berbuat banyak tuk negara ini. Menjadi sekumpulan orator yang sibuk onani. Hasilnya mana?,The songs remains the same….


Sebagian orang tanpa sadar dan lambat laun mengagungkan politik yang demikian sebagai sebuah proses yang keren dan hebat. Malah ada yang bilang itu semacam seni. Padahal, merujuk hasil dari proses yang sudah-sudah, seharusnya setiap orang muntah. Karena masih saja negara ini tergopoh-gopoh menanggung kemiskinan, kebodohan, masalah pendidikan, korupsi. Et cetera…..,sedihnya hal itu kerap bermula dan ulah para juara kancah politik itu.


Dus, politik adalah komoditas. Karena disana ada jabatan politik yang berafiliasi dengan kekuasaan, fasilitas, nama besar dan uang. Makannya hentikanlah omong kosong soal kepentingan masyarakat, wong cilik atau wong edan sekalipun, jika kalian, Para Politisi narsis politik, masih saja menghasilkan kondisi negara yang sama, dan begitu-begitu saja.

 

Seharusnya kalian tau diri melihat orang-orang bergelimpangan ngos-ngosan. Manula yang antri berobat pada dukun anak-anak atau sekedar untuk menerima uang zakat. Mikir saat nyatanya dengan kekuasaan dan jabatan di tangan kalian, masih saja orang miskin digusur rumah dan tempat cari makannya. Malu dalam nama besar dan segala kemudahan atas jabatan politik kalian, saat jutaan orang masih tak tau pasti apa kalian menepati janji atau tidak.


Berhentilah bersandiwara karena melihat kalian, kami seperti mustahil meminta kalian bertanggung jawab. Setidaknya kalian tidak berpura-pura, karena meminta kalian tuk konsisten dengan janji kerap terasa dipaksakan.

Koreksi

Posted in coret2 on February 13, 2009 by abet handoko

Koreksi. Sesuatu yang menjadi kelanjutan dari apa apa saja yang pernah kita lakukan. Koreksi menunjukkan sikap tak pernah puas pada sesuatu, sekaligus aksi yang menyatakan betapa tak yakinnya kita pada apa yang sudah selesai dilakukan. Dengan koreksi pula, sebuah nalar aktif dan waras menunjukkan eksistensinya. Bukan hanya pada kegiatan dan laku, koreksi juga kadang melanda perasaan, keyakinan, kepercayaan,cinta,benci,patriotisme atau ragam emosi dalam benak. Mungkin koreksi adalah keniscayaan yang ada pada setiap homo sapiens yang beradab.

“Sekali berarti sudah itu mati” kata chairil Anwar. Betapa sulitnya. Dalam hidup yang hanya sekali, banyak orang tak pernah sungguh-sungguh yakin pada apa yang sudah dilakukannya. Yang terjadi adalah proses menilai, menimbang, mereview, koreksi…tak ada hal yang sungguh bisa benar-benar selesai dengan sekali keputusan. Ada kaitan past,present dan future yang terus selalu berkaitan. Dalam hubungannya, apa yang benar sekarang, yakin sekarang, cinta sekarang, mantap sekarang…belum tentu esok hari. Menimbang kepuasaan akan sesuatu yang tidak pernah final dan ada ukuran pastinya, manusia dengan sendirinya peragu,skeptis dan tak pernah benar-benar sampai pada substansi dari apa yang ia tentukan, putusakan atau ia pilih.

Banyak orang yang melakukan sesuatu dengan sangat yakin dan pasti dalam konteks kekinian. Namun saat kekinian ini sudah menjadi masa lalu, melalui tahap uji dalam rentang waktu,apa yang diyakininya itu bisa jadi adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan.

Orang kerap merasa melakukan atau memutuskan sesuatu dengan kesadaran penuh. Ada kepastian menanggung segala akibat dari segala yang ditentukannya. Ada antisipasi mantap. Tapi belum tentu jika itu kembali direview di masa depan. Orang hanya loyal kepada kebutuhannya, dan cendrung tidak loyal pada konteks, kondisi atau ruang dan waktu yang terus berubah.

Lantas apakah kebenaran dan keyakinan itu. Jika masa lalu dan masa kini juga masa depan kerap memaksa sehingga menampilkannya dalam wajah berbeda?. Ada resiko yang harus dipenuhi. Dengan kemampuan menanggung segala resiko dari apa yang sudah diputuskan, maka sesuatu yang ditetapkan sampai pada ke-ajegan-nya. Tapi seberapa besar resiko bisa ditanggung…tetap saja ada koreksi-koreksi.

Menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Kamu sesungguhnya sangat sulit untuk sampai pada sebuah kepastian. Sulit untuk memastikan bahwa kamu sekarang melakukan hal yang benar, dan juga akan tetap benar esok hari…tak mudah meng-oposisi diri sendiri yang sedang meyakini sesuatu. Tak mudah menyadari seberapa bodoh diri sendiri saat kondisi kekinian mendukung bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang cerdas dan hebat, masuk akal dan benar, atau apa yang dilakukan itu mudah saja dan bisa diantisipasi…sulit memastikan apa yang terjadi dimasa depan sebab kita hanya melalui masa lalu dan sedang menjalani saat ini…

Nalar, kondisi, kenyataan, situasi, dan konteks akan selalu mengoreksi apa yang telah terjadi…,tantangannya adalah memastikan bahwa kamu melakukan hal yang benar,bukan sebuah kebodohan. Mungkin sesuatu yang fleksibel dalam segala situasi…atau entah apa…

That’s live…

Bahasa Tumor

Posted in coret2 on April 29, 2008 by abet handoko

Sabtu kemarin saya diajak seorang teman ke Pasar Baru. Ada acara kumpul-kumpul, sesama teman. Membincangkan perihal hobi dan pekerjaan. Saya merasa ajakan kawan saya itu biasa-biasa saja. Dan seperti yang saya perkirakan, acara itu memang berlalu biasa-biasa saja. Yang istimewa justru sepanjang perjalanan kesana. Di bis yang membawa kami dari Tangerang ke Harmoni, seorang laki-laki naik, ia lantas mulai bicara. Mulanya, selintas seperti ceramah motivasi. Saya kira laki-laki ini akan ceramah, meniru-niru Tung Desem Waringin atau Ustadz Jefri, tapi lama kelamaan ia jadi meracau.

Berikut kira-kira yang disampaikan laki-laki itu :

“Selamat siang saudara-saudara, kakak-kakak sekalian. Saya hadir dengan sebuah pesan bahwa perjalanan adalah sebuah filter kehidupan. Saya disini ingin mengingatkan anda perihal mitra kerja karir ilahi  kehidupan anda. Kita adalah astronot dengan diploma yang bisa melahirkan apa saja. Layaknya seperti sebongkah emas yang ada di gunung krakatau yang ada di daerah sukabumi pada musim semi. Atau seorang ilmuwan yang menemukan permata seberat 150 kilogram, dan emas di puncak monas seberat 330 kilogram. Ingat bapak-bapak, sudah ada yang mengendarai pesawat boing 737 dan pesawat mandala serta pesawat ulang alik canggih ditambah satelit dengan seri 5632, mengudara di atas antaraiksa kita. Dengan karya layaknya seorang purnawirawan yang penuh kharisma memberikan nasehat-nasehat di Jakarta, sekeras batu sehitam debu…Jakarta bapak-bapak, Jakarta ibu-ibu, Jakarta kakak-kakak…orang minta tolong malah digebukin, coba…gara-gara cuma ngerokok doang gua digamparin, akhirnya gak betah dirumah…kasian mamah papah yang ngarepin anaknya bisa berkarir, gak taunya boong doang…masa??katanya orang kaya?kok Tanya harga??, aduuuuhh disini bingung disana bingung, akhirnya cuma bikin bingung semua orang…gak ada abisnya, setiap hari makan lagi, tidur lagi, pergi lagi, kesono lagi…kesini lagi….ampuuuuunn, ampuuuunn…jangan kakak, jangan bapak,… mana ada semuanya orang Indonesia, gak taunya orang amerika…boong itu…boong he he he he…coba perhatiin planet-planet, dimana mars, dimana Jupiter, saturnus, gak ada sodara-sodara…gak taunya kita di mars…he he he he…sungguh berarti makna kemerdekaan, bapak bapak, kakak-kakak, ibu-ibu, sampai setiap senin kita upacara…(laki-laki itu terus meracau, sepanjang jalan tol, sampai akhirnya dia menutup ‘khotbah’ dengan kata berikut ) ….bapak-bapak, kakak-kakak, ibu-ibu…saya harapkan partisipasinya aktif, apalah artinya demi sebungkus nasi dan sebatang rokok…”

sepanjang perjalanan, saya dihinggapi risih dan bosan gara-gara laki-laki itu. Tapi, dari laki-laki itu juga saya mendapati bahasa sebagai sebuah rahasia yang menjabarkan begitu banyak kemungkinan. Dalam runtut dan gabungan antar kata, ataupun ketidak sinambungan antar kata dengan kata yang lainnya, ada sisi lain yang saya dapati. Seperti potongan-potongan memori yang tersimpan. Seperti kutipan dari masa lalu yang tak ada catatannya. Seperti menyikapi dan menganalisa sebuah persoalan, entah mulai dari mana…

Saya mendapati, meskipun kacau dan nyaris tak jelas kemana arahnya, tetap saja kata-kata laki-laki itu mengundang reaksi penumpang bis yang mendengarkannya. Ada yang tersenyum, mengernyitkan dahi, menatap aneh, atau tampak bosan. Sedikit yang sama sekali tidak peduli.

Bahasa yang disampaikan laki-laki itu memujudkan sesuatu dalam citra bunyi. Sampai melaluinya, bahasa sesuai kaidah atu tidak, punya ruang makna tersendiri. Meski bahasa itu hadir dengan gaya orang gila, tanpa pola dan pesan nyata, pencerapan padanya tetap ada. Ideal atau tidak, bahasa mampu menarik reaksi. Dengan maksud atau tanpa maksud, bahasa adalah citra yang niscaya memberikan pemaknaan. Apapun itu…

Saya jadi ingat sebuah kata-kata, …beda orang jenius dan orang gila hanya pada tingkat kesuksesannya….